Jumat, 24 Oktober 2014

Yang Maha Melihat - 8

APAKAH PENCIPTAAN MENENTUKAN ILMU?

Sumber:           The Observing One  Karya: Ahmed Hulusi
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa


Telah berabad-abad para sarjana berbeda pendapat terhadap pertanyaan:

“Apakah penciptaan ditentukan oleh pendahuluan ilmu, ataukah ilmu ditentukan oleh penciptaan?”

Atau dengan kata lain, apakah sesuatu dikenali setelah mewujud dan menyingkapkan dirinya, ataukah terwujud berdasarkan ilmu yang ada sebelum ia tersingkap?

Jawaban terhadap pertanyaan ini menjelaskan misteri dari penciptaan…

Mari kita anggap bahwa penciptaan ada ‘secara independen’. Namun, ‘ilmu’ yang berkaitan dengan penciptaan merupakan bagian ilmu Allah. Sekarang, jika merupakan keharusan bagi Allah untuk mewujudkan keluar IlmuNya, maka seseorang dapat mengatakan ‘ilmu ditentukan oleh perwujudan’.

Namun karena kita sedang berbicara mengenai Keberadaan tak-hingga yang tak berbatas yang mewujud dalam setiap dimensi, Keberadaan Absolut tanpa batas, yang bukan hanya tak hingga dari sisi Keabsolutannya namun juga mengenai sifat-sifatNya, maka kita sedang memandang pada tampilan tak hingga dari Nama-nama dan Perbuatan-perbuatan eksplisitnya!

Apa yang dapat mewujud tanpa, dan karenanya menjadi subyek dari, kebergantungan kepada yang Esa yang tak hingga dari sisi KeabsolutanNya, Sifat-sifatNya, Nama-nama dan PerbuatanNya? Bagaimana Dia dapat bergantung pada, atau ditentukan oleh, perwujudan yang berasal dari IlmuNya sejak awal?

Kita suka mengatakan ‘kekuasaan mutlak hanya milik Allah’ namun jarang merenungkan makna sejatinya.

Mari kita mencoba dan melakukan tinjauan abstrak dengan membersihkan diri dari pengkondisian kita, sehingga dengan demikian kita bisa ‘mencairkan gunung es kita’ dalam obyektivitas kesadaran dan mencapai ketak-ego-an. Mari kita menjadi ‘binal’ dalam samudra realitas, dan mulai menyadari bahwa seluruh perwujudan, segala sesuatu yang telah dan akan muncul sebagai mahluk ciptaan, bergantung pada, dan ditentukan oleh ilmu (pengetahuan)!

Ada yang mengklaim;

“Dia mewujudkan apa yang ada dalam IlmuNya; yakni, makna-makna yang implisit dalam keberadaanNya menjadi eksplisit melalui perwujudan, karenanya, makna-makna menyebabkan penciptaan mereka sendiri…”
Namun, ada masalah kunci yang hilang dalam pandangan ini, yakni bahwa Allah mewujudkan makna-makna yang ‘ingin’ dilihatNya, bukannya apa yang Dia rasa ‘mesti’. Allah tidak mengekspresikan keluar makna-makna yang ditemui dalam IlmuNya, melainkan makna-makna yang Dia ciptakan dengan ilmu yang berkenaan dengan Hakikat AbsolutNya.

Mengklaim sebaliknya berarti memberikan batasan kepada Diri Tak-hingganya Allah, dan menyiratkan kondisi bahwa Allah adalah jumlah total dari semua makna-makna eksplisit, sedangkan Allah adalah Esa (Ahad). Karena ‘Allah bukannya terbuat dari bagian-bagian atau susunan dari bagian-bagian’, maka Allah bukan juga akumulasi dari makna-makna. Kita tak dapat mendefinisikan Dia sebagai formasi dari Nama-nama. Makna-makna yang terbentuk oleh ‘sifat ilmu’ tentang Dzat Absolut Allah yang kita bicarakan di sini. Karenanya, Allah mewujudkan apa yang ‘dikehendaki’Nya. Namun ini tidak berkonotasi dengan ‘bentuk’ fisik atau spiritual terhadap Allah, karena Dia jauh dari memiliki kebutuhan akan bentuk-bentuk.

Jika Allah perlu mewujudkan sesuatu dalam ilmunya, maka mestinya akan memiliki bentuk implisit pada tingkatan Ilmu, sebelum mencapai wujud fisiknya. Namun, Allah telah menciptakan seluruh alam berdasarkan makna-makna yang Dia ciptakan dalam IlmuNya, karena Allah bebas mengatur IlmuNya sesuai kehendakNya.

Seluruh alam, yang pada realitasnya sebenarnya tak ada, belum tercipta pada sisi Perbuatan Allah namun baru pada sisi Nama-nama Allah. Karenanya, seluruh keberadaan ada di dalam IlmuNya.

Mereka, yang keliru faham bahwa ‘ilmu ditentukan oleh perwujudan’, mencoba memandang bagian atas dari bawahnya.  Mereka mencoba memecahkan misteri ini dengan ilmu dan cahaya Kewalian Sugro (Wilayat Sughro). Kewalian Sugro meliputi ‘kenaikan’ dari manusia kepada Allah, sedangkan Kewalian Kubro (Wilayat Kubra) meliputi penurunan dari Allah ke tingkatan manusia.

Dalam pandangan Manusia Sempurna, yang memelihara ilmu dan keutamaan penyingkapan agung pada stasion kekekalan (BakaBillah), perwujudan ditentukan oleh ilmu!

Bertentangan dengan ini, berdasarkan pandangan ‘kenaikan’ dari Kewalian Sugro, ilmu ditentukan oleh perwujudan, dan dalam pandangan ini perwujudan bersifat tetap.

Jika dipandang dari tingkatan Kewalian Kubro, esensi dari penyingkapan Ilmu Allah (Nubuwwat), bagaimanapun tidaklah ada, selain dari Esensi Absolut (dzat). Karenanya, dikatakan bahwa Esensi Absolut mewujudkan, dari ketiadaan, makna-makna yang dikehendakiNya untuk melihat ilmu dari DiriNya Sendiri, kepada DiriNya Sendiri. Di sini, tentu saja, kita merujuk pada makna-makna dari Nama-nama Allah, bukan Perbuatan-perbuatan Allah.

Allah menciptakan makna-makna, kemudian menyingkapkannya melalui perwujudan. Pada setiap saat, makna-makna yang mewujud ini berinteraksi satu sama lain menurut sifat-sifatnya, dan berdasarkan ini saling memandang satu sama lain sebagai Perbuatan-perbuatan Allah. Meskipun saya katakan ‘setiap saat’, tetap ingatlah bahwa pada kenyataannya hanya ada ‘satu’ saat, karena keseluruhan perwujudan merupakan hasil dari penampakan tunggal, yang oleh Sufi disebut sebagai Satu Penampakan (Tajalli Wahid) atau Penyingkapan Tunggal. Semua dimulai dan diakhiri pada ‘titik’ itu; alif, dan sisanya hanyalah ilusi.

Terkait dengan tingkatan ilmu, ada makna Nama-nama, yang mewujud melalui tindak penciptaan, seperti disebut oleh ayat berikut:

“Sesungguhnya, Allah (dari sudut Hakikat AbsolutNya) benar-benar Maha Kaya dari (terkondisikan dan terbatasi oleh) semesta alam (komposisi individu dan material dari Nama-namaNya).” (Qur’an 29:6)

Fakta bahwa ilmu tidak ditentukan olah perwujudan terbukti dari Kebercukupannya Allah (Ghani) dan Tak bergantung pada Alam dan makna-makna dari Nama-nama yang diturunkan darinya. Jika ilmu ditentukan oleh penciptaan, maka ayat “Allah terbebas dari kebutuhan akan alam”  menjadi tak berlaku, karena ini mengisyaratkan bentuk ketergantungan kepada alam.
Sedangkan Allah, yang terbebas dari kebutuhan akan dan tak bergantung pada alam, mengindikasikan Keabsolutan Hakikat Allah (dzat) yang dirujuk oleh para Sufi sebagai esensi murni dan absolut (dzat-I baht).

Sebenarnya, Esensi Absolut Allah (dzat) bahkan tak dapat didefinisikan sebagai ‘Keabsolutan’ karena kata ini hanya sebagai indikator terhadap Esensi Absolut (dzat) berkaitan dengan tingkat-tingkat perwujudan yang lebih rendah. Dalam kenyataannya, ‘Esensi’ ini tak dapat dijelaskan dengan istilah-istilah ‘keabsolutan’, ‘kemurnian’ atau ‘keberadaan’.

Jika kita benar-benar dapat memahami realitas mendasar, kita akan bisa memandang topik ini dari puncak kerucutnya, dari titik kesatuan.

Bukankah peristiwa yang kita kenal sebagai ‘Big Bang’ merupakan simulasi dari konsep yang sama pada tingkatan makro? Peristiwa yang disebut Big Bang ini merupakan hasil dari zat putih yang terbentuk dari lubang putih . . .Seluruh jagat dalam kosmos lahir dari ‘titik-titik’ tunggal semacam ini dan mengembang menjadi apa yang nampak sekarang ini. Titik pertama itu merupakan titik penentu dari akhirnya. Seperti halnya sel pertama seekor gajah, misalnya, juga mengandung informasi dari sel terakhirnya.

Karenanya, seperti halnya ekspresi tak-hingga dari keberadaan di dalam kosmos semuanya berasal dari satu titik utama, semua ‘makna’ di semua alam berasal dari IlmuNya Allah, berdasarkan pada Kehendak dan KekuasaanNya yang Tak-Hingga dan Tak-Terbatas.

Jika kita dapat memahami zat dengan cara ini, kita tentunya akan memahami dengan lebih jelas tentang ‘takdir’.

Allah berfirman “Aku ciptakan manusia sebagai khalifah-khalifah di muka bumi” dan “Manusia adalah khalifah di muka bumi”.

Ada khalifah-khalifah di berbagai langit, yakni di semua dimensi lain  di jagat raya. Setiap dimensi, menurut struktur dan kapasitasnya, memiliki khalifahnya sendiri-sendiri. Apa yang kita tahu mengenai khalifah adalah seseorang yang diutus ke bumi, terbatas pada wilayah bumi. Namun hanya ada ‘satu’ khalifah sejati, yakni yang para Sufi menyebutnya Manusia Sempurna (Al-Insan Al-Kamil) yang merujuk kepada Ruh Agung (Ruh-ul Azam) yang dikenal sebagai Realitas Muhammad (Hakikat-I Muhammadiyyah) dan terkait dengan ilmu sebagai Kecerdasan Pertama (Aql-I Awwal).

Adam merupakan miniatur dari Ruh Agung. Cukup menarik, kata Adam secara harfiah berarti ‘hampa’ atau 'tiada'. Ia memiliki nama namun keberadaannya hampa! Seperti halnya burung Roc, ada namanya namun dirinya tak wujud!

Telah kita fahami bahwa keberadaan yang kita indera berdasarkan hakikatnya adalah milik Allah . . . Ini kemudian berkembang dan berlipatganda melalui Nama-namanya, sejalan dengan bertambahnya Nama-nama, atau ekspresi-ekspresinya dan perwujudannya, keberadaannya pun nampak berlipatganda! Sedangkan dalam istilah ‘Keesaan’ (Wahidiyyah), keberadaan hanyalah ‘Satu’.

Andai pada setiap ombak kita beri nama, hal itu tidak akan merubah fakta bahwa semuanya adalah ombak. Apakah sebagian lebih besar dan yang lainnya lebih kecil, sebagian lebih menggulung sedang yang lainnya tidak demikian, semuanya tetap sebagai ombak dalam samudera yang sama. Hal ini tepat seperti beragamnya persepsi berasal. Persepsi berbeda menurut pandangan (basirah). Jika Anda memandang dari atas, tidak akan nampak adanya perbedaan atau perselisihan apapun, baik perubahan maupun pertentangan.

“Ilmu adalah satu titik. Mereka yang jahil melipatgandakannya” demikian kata Hazrat Ali . . .

Karenanya, dengan menyambung kata-kata beliau, saya sendiri menunjukkan ketakpedulian saya dengan berpanjang-panjang bicara. Namun demikian, dengan menunjukkan ketakpedulian ini pada saat yang sama menyingkapkan kesempurnaan dari ‘Mereka Yang Disempurnakan’, karena segala sesuatu dikenali melalui lawan-lawannya. Jika sesuatu tidak memiliki lawan, maka manfaat dan nilainya tidak akan dikenali. Segala sesuatu diciptakan berpasangan, yang satu menjadi lawan yang lain, yang satu relevan terhadap yang lain.

Peleburan dari hal yang bertentangan ini hanya dapat terjadi pada titik “Kesatuan’.
Dan Kesatuan hanya dapat dipandang dengan menyingkirkan tirai-tirai yang menutupinya; tirai-tirai yang berasal dari diri terhadap dirinya sendiri.

Esensi Absolut yang namanya Wahid (Yang Esa) menyatakan sifat WahidiyyahNya (Keesaan), mewujud dengan kualitas dari Dimensi Sifat-sifat, sehubungan dengan RahmaniyyahNya (potensi tak hingga dimana Nama-nama agungnya berasal). Dengan sifat-sifat ini Dia kemudian membentuk kedaulatan Nama-nama pada Dimensi Malikiyyah (Kekuasaan Agung). Kemudian ke arah luar nama-nama ini menjadi gamblang dalam Alam Perbuatan (af’al) sesuai dengan keyakinan RububiyyahNya, dalam bentuk susunan Nama-nama yang unik.

Setiap entitas, atau ihwal perwujudan, membawa dalam dirinya semua sifat komposisional dari rantai evolusi ini.

Muhammad (saw) mengatakan: “Setiap partikel sama dengan keseluruhannya”; menunjuk pada realitas dari jagat holografik.

Partikel mendapatkan esensi, atribut-atribut dan sifat-sifatnya dari Esensi, Atribut dan Sifat dari Yang Esa Yang Tak Hingga. Perbuatan-perbuatan dari partikel ini merupakan konversi dari sifat-sifat agung implisit ini menjadi perwujudan-perwujudan eksplisit.

Memandang apapun dari sudut ini, kita tak akan melihat apapun kecuali Yang Esa.
Kita menyebutnya dimensi Perbuatan-perbuatan Allah, dimensi Nama-nama, dimensi Hakikat AbsolutNya dan lain-lain . . . Namun apa serbenarnya pemahaman kita terhadap kata ‘dimensi’?  Dimanakah letak dimensi nama-nama dipandang dari sisi Perbuatan-perbuatan? Dimana letak Sifat-sifat dipandang dari sisi Nama-nama?

Mereka menempatkan ‘Kursi’ di 7 langit, dan ‘Singgasana’ (arsh) di atas Kursi, kemudian mencari tuhan di dalam parameter-parameter ini, sedangkan “Dia hadir dengan EsensiNya di setiap partikel”.

Esensi Absolut Allah (dzat) tidak berhingga, jadi jika Dia hadir dengan Diri Tak HinggaNya di setiap partikel, dalam setiap dimensi, maka pada kenyataannya tidak ada partikel apa pun, yang ada hanya Dia Yang Kekal.

Selama kita gagal untuk memahami sepenuhnya Ketakterbatasan Allah dari sudut pandang ‘Keesaan’Nya (Wahidiyyah), pemahaman kita mengenai Islam dan Iman tidak akan pernah cukup.

Al-Qur’an menggambarkan keadaan orang semacam ini dengan:

“Tidakkah engkau lihat orang yang mempertuhankan ‘hawa’-nya (hasrat insting, bentuk tubuh, diri ilusi)?” (Qur’an 25:43)

Orang-orang telah menciptakan tuhan dalam khayalan mereka berdasarkan pengkondisian mereka sendiri, dan mereka menyia-nyiakan hidup mereka dengan menyembah tuhan khayalan ini.

Agar tidak menjadi salah satu dari mereka kita mesti memahami, melihat, merasakan dan menghayati Ketidakterbatasan Allah dari sudut pandang KeesaanNya (Wahidiyyah).

Semua ini hanya dapat dimengerti melalui pengalaman, bukannya dengan membaca, melainkan dengan menghayatinya.

Untuk bisa menjalani dengan sepatutnya, mesti dipicu dengan suatu sebab. Kita harus mampu melampaui kata-kata dan menjadi pewujud dari makna-maknanya. Kita mesti melepaskan diri dari tirai keberadaan, hingga yang tersisa hanyalah Yang Melihat.

Untuk mencapainya, pertama-tama kita harus meyakini dan kemudian mengejar keyakinan ini. Kita mesti dibersihkan dan dimurnikan dari semua pengkondisian kita dan emosi-emosi yang terikat padanya.

Setelah ini terjalani, kita mau tidak mau akan jatuh pada pemenuhan hasrat insting dan hasrat tubuh alami. Karenanya, kita mesti bertindak ekstra waspada menghadapi ujian jasmani kita di bawah pengawasan yang ketat.

Setelah ini tercapai, kemudian kita mesti menghancurkan ilusi atas ‘Diri’ yang terpisah dan “Mati sebelum mati” seperti yang dikatakan para Sufi, yakni menjadi tiada dan menyadari bahwa Yang Kekal adalah Allah.


Setelah semua itu, kita akhirnya bisa melepaskan diri dari berpikir sebagai manusia dan mulai berpikir sebagaimana Allah berpikir, sebagaimana perkataan Yesus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar