APAKAH PENCIPTAAN
MENENTUKAN ILMU?
Sumber: The Observing One
Karya: Ahmed Hulusi
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
Telah berabad-abad para sarjana berbeda pendapat
terhadap pertanyaan:
“Apakah
penciptaan ditentukan oleh pendahuluan ilmu, ataukah ilmu ditentukan oleh
penciptaan?”
Atau dengan kata lain, apakah sesuatu dikenali
setelah mewujud dan menyingkapkan dirinya, ataukah terwujud berdasarkan ilmu
yang ada sebelum ia tersingkap?
Jawaban terhadap pertanyaan ini menjelaskan
misteri dari penciptaan…
Mari kita anggap bahwa penciptaan ada ‘secara
independen’. Namun, ‘ilmu’ yang berkaitan dengan penciptaan merupakan bagian
ilmu Allah. Sekarang, jika merupakan keharusan
bagi Allah untuk mewujudkan keluar IlmuNya, maka seseorang dapat mengatakan ‘ilmu ditentukan oleh perwujudan’.
Namun karena kita sedang berbicara mengenai
Keberadaan tak-hingga yang tak berbatas yang mewujud dalam setiap dimensi,
Keberadaan Absolut tanpa batas, yang bukan hanya tak hingga dari sisi
Keabsolutannya namun juga mengenai sifat-sifatNya, maka kita sedang memandang
pada tampilan tak hingga dari Nama-nama dan Perbuatan-perbuatan eksplisitnya!
Apa yang dapat mewujud tanpa, dan karenanya menjadi
subyek dari, kebergantungan kepada yang Esa yang tak hingga dari sisi
KeabsolutanNya, Sifat-sifatNya, Nama-nama dan PerbuatanNya? Bagaimana Dia dapat
bergantung pada, atau ditentukan oleh, perwujudan yang berasal dari IlmuNya
sejak awal?
Kita suka mengatakan ‘kekuasaan mutlak hanya milik Allah’ namun jarang merenungkan makna
sejatinya.
Mari kita mencoba dan melakukan tinjauan abstrak
dengan membersihkan diri dari pengkondisian kita, sehingga dengan demikian kita
bisa ‘mencairkan gunung es kita’ dalam obyektivitas kesadaran dan mencapai
ketak-ego-an. Mari kita menjadi ‘binal’ dalam samudra realitas, dan mulai
menyadari bahwa seluruh perwujudan, segala sesuatu yang telah dan akan muncul
sebagai mahluk ciptaan, bergantung pada, dan ditentukan oleh ilmu (pengetahuan)!
Ada yang mengklaim;
“Dia
mewujudkan apa yang ada dalam IlmuNya; yakni, makna-makna yang implisit dalam
keberadaanNya menjadi eksplisit melalui perwujudan, karenanya, makna-makna
menyebabkan penciptaan mereka sendiri…”
Namun,
ada masalah kunci yang hilang dalam pandangan ini, yakni bahwa Allah mewujudkan
makna-makna yang ‘ingin’ dilihatNya, bukannya apa yang Dia rasa ‘mesti’.
Allah tidak mengekspresikan keluar makna-makna yang ditemui dalam IlmuNya, melainkan makna-makna yang Dia ciptakan
dengan ilmu yang berkenaan dengan Hakikat AbsolutNya.
Mengklaim sebaliknya berarti memberikan batasan
kepada Diri Tak-hingganya Allah, dan
menyiratkan kondisi bahwa Allah adalah jumlah total dari semua makna-makna
eksplisit, sedangkan Allah adalah Esa
(Ahad). Karena ‘Allah bukannya terbuat dari bagian-bagian atau susunan dari
bagian-bagian’, maka Allah bukan juga akumulasi dari makna-makna. Kita tak
dapat mendefinisikan Dia sebagai formasi dari Nama-nama. Makna-makna yang terbentuk
oleh ‘sifat ilmu’ tentang Dzat
Absolut Allah yang kita bicarakan di sini. Karenanya, Allah mewujudkan apa yang ‘dikehendaki’Nya. Namun ini tidak
berkonotasi dengan ‘bentuk’ fisik atau spiritual terhadap Allah, karena Dia
jauh dari memiliki kebutuhan akan bentuk-bentuk.
Jika Allah perlu mewujudkan sesuatu dalam
ilmunya, maka mestinya akan memiliki bentuk implisit pada tingkatan Ilmu,
sebelum mencapai wujud fisiknya. Namun, Allah telah menciptakan seluruh alam berdasarkan makna-makna yang Dia ciptakan dalam IlmuNya, karena Allah bebas mengatur
IlmuNya sesuai kehendakNya.
Seluruh alam, yang pada realitasnya sebenarnya tak
ada, belum tercipta pada sisi Perbuatan Allah namun baru pada sisi Nama-nama
Allah. Karenanya, seluruh keberadaan ada di dalam IlmuNya.
Mereka, yang keliru faham bahwa ‘ilmu ditentukan
oleh perwujudan’, mencoba memandang bagian atas dari bawahnya. Mereka mencoba memecahkan misteri ini dengan
ilmu dan cahaya Kewalian Sugro (Wilayat Sughro). Kewalian Sugro meliputi ‘kenaikan’
dari manusia kepada Allah, sedangkan Kewalian Kubro (Wilayat Kubra) meliputi penurunan dari Allah ke tingkatan manusia.
Dalam
pandangan Manusia Sempurna, yang memelihara ilmu dan
keutamaan penyingkapan agung pada stasion kekekalan (BakaBillah), perwujudan
ditentukan oleh ilmu!
Bertentangan dengan ini, berdasarkan pandangan ‘kenaikan’ dari Kewalian Sugro, ilmu ditentukan
oleh perwujudan, dan dalam pandangan ini perwujudan bersifat tetap.
Jika dipandang dari tingkatan Kewalian Kubro, esensi
dari penyingkapan Ilmu Allah (Nubuwwat), bagaimanapun tidaklah ada,
selain dari Esensi Absolut (dzat). Karenanya, dikatakan bahwa Esensi
Absolut mewujudkan, dari ketiadaan, makna-makna yang dikehendakiNya untuk
melihat ilmu dari DiriNya Sendiri, kepada DiriNya Sendiri. Di sini, tentu saja,
kita merujuk pada makna-makna dari Nama-nama Allah, bukan Perbuatan-perbuatan
Allah.
Allah menciptakan makna-makna, kemudian
menyingkapkannya melalui perwujudan. Pada setiap saat, makna-makna yang mewujud
ini berinteraksi satu sama lain menurut sifat-sifatnya, dan berdasarkan ini
saling memandang satu sama lain sebagai Perbuatan-perbuatan Allah. Meskipun
saya katakan ‘setiap saat’, tetap
ingatlah bahwa pada kenyataannya hanya ada ‘satu’
saat, karena keseluruhan perwujudan merupakan hasil dari penampakan tunggal, yang oleh Sufi
disebut sebagai Satu Penampakan (Tajalli Wahid) atau Penyingkapan Tunggal. Semua dimulai dan diakhiri pada ‘titik’ itu; alif,
dan sisanya hanyalah ilusi.
Terkait dengan tingkatan ilmu, ada makna
Nama-nama, yang mewujud melalui tindak penciptaan, seperti disebut oleh ayat
berikut:
“Sesungguhnya,
Allah (dari sudut Hakikat AbsolutNya) benar-benar Maha Kaya dari (terkondisikan dan
terbatasi oleh) semesta alam (komposisi individu dan material dari
Nama-namaNya).” (Qur’an 29:6)
Fakta bahwa ilmu tidak ditentukan olah perwujudan
terbukti dari Kebercukupannya Allah (Ghani) dan Tak bergantung pada Alam dan makna-makna
dari Nama-nama yang diturunkan darinya. Jika ilmu ditentukan oleh
penciptaan, maka ayat “Allah terbebas
dari kebutuhan akan alam” menjadi
tak berlaku, karena ini mengisyaratkan bentuk ketergantungan kepada alam.
Sedangkan Allah, yang terbebas dari kebutuhan akan dan tak bergantung pada alam, mengindikasikan
Keabsolutan Hakikat Allah (dzat) yang
dirujuk oleh para Sufi sebagai esensi murni
dan absolut (dzat-I baht).
Sebenarnya, Esensi
Absolut Allah (dzat) bahkan tak
dapat didefinisikan sebagai ‘Keabsolutan’
karena kata ini hanya sebagai indikator terhadap Esensi Absolut (dzat) berkaitan dengan tingkat-tingkat
perwujudan yang lebih rendah. Dalam kenyataannya, ‘Esensi’ ini tak dapat dijelaskan dengan istilah-istilah ‘keabsolutan’, ‘kemurnian’ atau ‘keberadaan’.
Jika kita benar-benar dapat memahami realitas
mendasar, kita akan bisa memandang topik ini dari puncak kerucutnya, dari titik
kesatuan.
Bukankah peristiwa yang kita kenal sebagai ‘Big
Bang’ merupakan simulasi dari konsep yang sama pada tingkatan makro? Peristiwa
yang disebut Big Bang ini merupakan hasil dari zat putih yang terbentuk dari lubang
putih . . .Seluruh jagat dalam kosmos lahir dari ‘titik-titik’ tunggal
semacam ini dan mengembang menjadi apa yang nampak sekarang ini. Titik pertama
itu merupakan titik penentu dari akhirnya. Seperti halnya sel pertama seekor
gajah, misalnya, juga mengandung informasi dari sel terakhirnya.
Karenanya, seperti halnya ekspresi tak-hingga
dari keberadaan di dalam kosmos semuanya berasal dari satu titik utama, semua
‘makna’ di semua alam berasal dari IlmuNya
Allah, berdasarkan pada Kehendak dan
KekuasaanNya yang Tak-Hingga dan Tak-Terbatas.
Jika kita dapat memahami zat dengan cara ini,
kita tentunya akan memahami dengan lebih jelas tentang ‘takdir’.
Allah berfirman “Aku ciptakan manusia sebagai khalifah-khalifah di muka bumi” dan “Manusia adalah khalifah di muka bumi”.
Ada khalifah-khalifah
di berbagai langit, yakni di semua
dimensi lain di jagat raya. Setiap
dimensi, menurut struktur dan kapasitasnya, memiliki khalifahnya
sendiri-sendiri. Apa yang kita tahu mengenai khalifah adalah seseorang yang
diutus ke bumi, terbatas pada wilayah bumi. Namun hanya ada ‘satu’ khalifah sejati, yakni yang para
Sufi menyebutnya Manusia Sempurna (Al-Insan Al-Kamil) yang merujuk kepada Ruh Agung (Ruh-ul Azam) yang dikenal sebagai Realitas Muhammad (Hakikat-I
Muhammadiyyah) dan terkait dengan ilmu sebagai Kecerdasan Pertama (Aql-I
Awwal).
Adam merupakan miniatur dari Ruh Agung. Cukup
menarik, kata Adam secara harfiah berarti ‘hampa’ atau 'tiada'.
Ia memiliki nama namun keberadaannya hampa!
Seperti halnya burung Roc, ada namanya namun dirinya tak wujud!
Telah kita fahami bahwa keberadaan yang kita
indera berdasarkan hakikatnya adalah milik Allah . . . Ini kemudian berkembang
dan berlipatganda melalui Nama-namanya,
sejalan dengan bertambahnya Nama-nama,
atau ekspresi-ekspresinya dan perwujudannya, keberadaannya pun nampak
berlipatganda! Sedangkan dalam
istilah ‘Keesaan’ (Wahidiyyah), keberadaan hanyalah ‘Satu’.
Andai pada setiap ombak kita beri nama, hal itu
tidak akan merubah fakta bahwa semuanya adalah ombak. Apakah sebagian lebih
besar dan yang lainnya lebih kecil, sebagian lebih menggulung sedang yang
lainnya tidak demikian, semuanya tetap sebagai ombak dalam samudera yang sama.
Hal ini tepat seperti beragamnya persepsi berasal. Persepsi berbeda menurut
pandangan (basirah). Jika Anda
memandang dari atas, tidak akan nampak adanya perbedaan atau perselisihan
apapun, baik perubahan maupun pertentangan.
“Ilmu
adalah satu titik. Mereka yang jahil melipatgandakannya”
demikian kata Hazrat Ali . . .
Karenanya, dengan menyambung kata-kata beliau,
saya sendiri menunjukkan ketakpedulian saya dengan berpanjang-panjang bicara.
Namun demikian, dengan menunjukkan ketakpedulian ini pada saat yang sama
menyingkapkan kesempurnaan dari ‘Mereka Yang Disempurnakan’, karena segala
sesuatu dikenali melalui lawan-lawannya. Jika sesuatu tidak memiliki lawan,
maka manfaat dan nilainya tidak akan dikenali. Segala sesuatu diciptakan
berpasangan, yang satu menjadi lawan yang lain, yang satu relevan terhadap yang lain.
Peleburan dari hal yang bertentangan ini hanya
dapat terjadi pada titik “Kesatuan’.
Dan Kesatuan hanya dapat dipandang dengan
menyingkirkan tirai-tirai yang menutupinya; tirai-tirai yang berasal dari diri
terhadap dirinya sendiri.
Esensi Absolut yang namanya Wahid (Yang Esa) menyatakan sifat WahidiyyahNya (Keesaan), mewujud dengan kualitas dari Dimensi
Sifat-sifat, sehubungan dengan RahmaniyyahNya
(potensi tak hingga dimana Nama-nama agungnya berasal). Dengan sifat-sifat ini
Dia kemudian membentuk kedaulatan Nama-nama pada Dimensi Malikiyyah (Kekuasaan Agung). Kemudian ke arah luar nama-nama ini
menjadi gamblang dalam Alam Perbuatan (af’al)
sesuai dengan keyakinan RububiyyahNya,
dalam bentuk susunan Nama-nama yang unik.
Setiap entitas, atau ihwal perwujudan, membawa
dalam dirinya semua sifat komposisional dari rantai evolusi ini.
Muhammad
(saw) mengatakan: “Setiap
partikel sama dengan keseluruhannya”; menunjuk pada realitas dari jagat holografik.
Partikel mendapatkan esensi, atribut-atribut dan
sifat-sifatnya dari Esensi, Atribut dan Sifat dari Yang Esa Yang Tak Hingga.
Perbuatan-perbuatan dari partikel ini merupakan konversi dari sifat-sifat agung
implisit ini menjadi perwujudan-perwujudan eksplisit.
Memandang apapun dari sudut ini, kita tak akan
melihat apapun kecuali Yang Esa.
Kita menyebutnya dimensi Perbuatan-perbuatan
Allah, dimensi Nama-nama, dimensi Hakikat AbsolutNya dan lain-lain . . . Namun
apa serbenarnya pemahaman kita terhadap kata ‘dimensi’? Dimanakah letak
dimensi nama-nama dipandang dari sisi Perbuatan-perbuatan? Dimana letak
Sifat-sifat dipandang dari sisi Nama-nama?
Mereka
menempatkan ‘Kursi’ di 7 langit, dan ‘Singgasana’
(arsh) di atas Kursi, kemudian mencari tuhan di dalam parameter-parameter ini,
sedangkan “Dia hadir dengan EsensiNya di setiap partikel”.
Esensi Absolut Allah (dzat) tidak berhingga, jadi jika Dia hadir dengan Diri Tak HinggaNya di setiap partikel, dalam setiap
dimensi, maka pada kenyataannya tidak ada partikel apa pun, yang ada hanya Dia Yang Kekal.
Selama
kita gagal untuk memahami sepenuhnya Ketakterbatasan Allah dari sudut pandang
‘Keesaan’Nya (Wahidiyyah),
pemahaman kita mengenai Islam dan Iman
tidak akan pernah cukup.
Al-Qur’an menggambarkan keadaan orang semacam ini
dengan:
“Tidakkah
engkau lihat orang yang mempertuhankan ‘hawa’-nya
(hasrat insting, bentuk tubuh, diri ilusi)?”
(Qur’an 25:43)
Orang-orang telah menciptakan tuhan dalam
khayalan mereka berdasarkan pengkondisian mereka sendiri, dan mereka
menyia-nyiakan hidup mereka dengan menyembah tuhan khayalan ini.
Agar tidak menjadi salah satu dari mereka kita mesti memahami, melihat, merasakan dan
menghayati Ketidakterbatasan Allah dari sudut pandang KeesaanNya (Wahidiyyah).
Semua ini hanya dapat dimengerti melalui
pengalaman, bukannya dengan membaca, melainkan dengan menghayatinya.
Untuk bisa menjalani dengan sepatutnya, mesti
dipicu dengan suatu sebab. Kita harus mampu melampaui kata-kata dan menjadi
pewujud dari makna-maknanya. Kita mesti melepaskan diri dari tirai keberadaan,
hingga yang tersisa hanyalah Yang Melihat.
Untuk mencapainya, pertama-tama kita harus meyakini dan kemudian mengejar
keyakinan ini. Kita mesti dibersihkan dan dimurnikan dari semua pengkondisian
kita dan emosi-emosi yang terikat padanya.
Setelah ini terjalani, kita mau tidak mau akan
jatuh pada pemenuhan hasrat insting dan hasrat tubuh alami. Karenanya, kita
mesti bertindak ekstra waspada menghadapi ujian jasmani kita di bawah
pengawasan yang ketat.
Setelah ini tercapai, kemudian kita mesti
menghancurkan ilusi atas ‘Diri’ yang
terpisah dan “Mati sebelum mati”
seperti yang dikatakan para Sufi, yakni menjadi tiada dan menyadari bahwa Yang Kekal adalah Allah.
Setelah semua itu, kita akhirnya bisa melepaskan diri dari berpikir sebagai manusia dan
mulai berpikir sebagaimana Allah berpikir, sebagaimana perkataan Yesus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar