Sabtu, 25 Oktober 2014

Yang Maha Melihat - 9

DAJJAL

Sumber:           The Observing One  Karya: Ahmed Hulusi
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa


Banyak dari kita mencapai suatu titik dan mengira bahwa kita telah lepas dari pengkondisian. Sedikit sekali kita menyadarinya bahwa ketika kita mengucapkan “Saya tidak lagi terkondisikan”, kita masih mengucapkan kata “Saya”!

Diliputi oleh ilusi ‘kedirian’, kita terperangkap oleh tubuh kita, dan karenanya takluk kepada ‘dajjalnya diri-ilusi”. Tunduk kepada setiap ujian dan hasrat jasmani, kita mulai menapaki jalan menuju keruntuhan.

Setelah menghilangkan pengkondisian selama tahap pematangan dan pengembangan, kita akan mengalami rasa kebebasan tertentu. Jika belum juga menghilangkan ilusi ‘diri’ selama proses ini, maka kebebasan yang baru diraih ini akan bekerja melayani tubuh. Kita ditelan oleh segala macam nafsu jasmani, yang pada akhirnya mengarah pada penuhanan tubuh kita.

Sebagai akibatnya, kita mulai hidup dalam ‘surganya dajjal’. Yakni, bukannya seperti diri yang ‘Absolut’, diri ‘ilusi’ menjadi kekuatan yang mendominasi, dan dengan mematuhi diri ilusi ini, tak bisa dihindari kita tercekik dalam rawa ilusinya.

Mari merenung sejenak . . .

Jika Sang Pembaru (Mujaddid), dari periode 1400-1410 Hijriyah, dianggap sebagai pembaru terakhir, maka Mahdi (Juru Selamat) berikutnya, Dajjal akan muncul dan mengklaim sebagai Tuhan di sekitar jaman ini, dan setelah itu Yesus muncul kembali ke dunia!

Tentu saja ini merupakan perwujudan eksplisit dunia materi. Mereka yang tak dapat memahami realitas ini, baik karena sama sekali menolaknya atau dengan membuat beragam penafsiran . . .Baik ia dapat menyelami realitas ini ataupun tidak, hal itu akan menjadi nyata.

Namun, ada juga sisi tersiratnya, yang saya ingin Anda menyimaknya.

Ketika Mahdi yang ada di dalam terbangunkan, kita akan mencapai ketiadaan diri dan merealisasikan bahwa keberadaan kita sebenarnya adalah keberadaanNya. . . Namun realisasi yang berlandaskan ilmu ini belumlah cukup, karena tanpa pemurnian yang menyeluruh, kita akan masih dipengaruhi perintah jahat dajjal dari dalam: “Akulah Tuhanmu, mengabdilah kepadaku!.” Alaminya, kita akan mulai berpikir bahwa ini merupakan suara Allah, dan mulai meyakini ‘diri’ kita sebagai Allah, sementara kita masih mengidentifikasi ‘diri kita’ sebagai tubuh kita.

Sebagai akibat dari identifikasi yang keliru ini, pikiran dominan kita menjadi: “Karena aku adalah Tuhan (atau perwujudan Tuhan), aku bebas melakukan apapun yang aku suka dalam tubuh ini!” dan karenanya mengakui semua bentuk kesenangan jasmani bagi diri kita.

Inilah sebabnya Nabi Muhammad (saw) berkata:

“Ketika dajjal muncul, orang-orang beriman mesti meloloskan diri dari surganya menuju nerakanya. . .”

“Ini mengekspresikan realitas yang terbalik bahwa surga dajjal yang nampaknya menyenangkan sebenarnya adalah neraka!”

Hasrat-hasrat jasmani umumnya dinyatakan sebagai hasrat-hasrat ‘alami’. Sebagian bahkan menyifatinya sebagai ‘jiwa’ (nafs) dan mengklaim perilaku demikian berhubungan dengan jiwa, sedangkan yang kita maknai sebagai jiwa hanyalah ego; rasa ke-‘Aku’-an. Ketika jiwa terhalang dari realitas ini, secara keliru akan mengidentifikasi dirinya sebagai tubuh jasmani, dan karenanya menyifati semua keadaan, hasrat, dan lain-lainnya kepadanya.

Untuk lebih memperjelas lagi masalahnya, mari untuk sementara kita gunakan kata ‘kesadaran’, sebagai ganti dari kata ‘jiwa’. Ketika kesadaran kita berada pada frekuensi yang lebih rendah ini, kita lebih disibukkan dengan mengejar kesenangan-kesenangan jasmani, sehingga mencegah jiwa untuk dapat mengaktualisasikan realitasnya.

Banyak orang sempoyongan pada titik ini dan sungguh telah jatuh ke dalam keadaan egois seperti firaun, mengakui ketuhanan pada diri mereka sendiri dan kalah oleh candu kesenangan jasmani, yang pada puncaknya menyebabkan kematian mereka sendiri.

Pukulan pertama terhadap dajjal datang dari sang Mahdi.

Mahdi adalah pemandu menuju kebenaran. Dengan kata lain, ia adalah ilmu yang melawan dajjal. Ilmu kebenaran berdiri tegak melawan diri ilusi dan berkata:

“Jangan bingung oleh kepercayaan yang berasal dari ilusimu, bahwa jiwamu adalah Tuhan dengan tubuh jasmanimu. Kesadaranmu merupakan konsep abstrak! Tubuhmu, di sisi lain, adalah mahluk fisik yang dibatasi kondisi-kondisi dimensi fisik tempat ia berada. Tinggalkanlah keyakinan palsu bahwa dirimu adalah jasmanimu dan sadarilah bahwa dirimu jauh dari sekedar tubuhmu; engkau adalah kesadaran!”

Panggilan ini tidak selalu menghapus klaim dajjal: “Aku adalah Tuhan; Aku bebas untuk hidup sesukaku”. Karenanya, menjadi penting bagi Yesus untuk turun dari langit, atau dengan kata lain muncul dari alam implisit ke alam eksplisit untuk membunuh sang dajjal! Meskipun faktanya sang Mahdi muncul dengan Ilmu Realitas, belumlah cukup untuk membinasakan diri-ilusi, Yesus mesti turun dari langit dan mengalahkan dengan Kekuatan agung!

Yesus yang turun dari langit merupakan simbol kekuatan ilahiah yang melawan dajjal, yakni diri-ilusi, atau, identitas palsu. Seperti dikatakan Nabi Muhammad (saw):

“Ketika berhadapan dengan Yesus, Dajjal akan langsung padam.”

Dengan kata lain, ketika kekuatan ilahiah tersingkap, aksi ‘mati sebelum ajal’ mewujud dan realisasinya menjadi  benar-benar jelas, bahwa keberadaan kita hanyalah pada sisi kesadaran kita. Setelah itu, kita bisa melepaskan keterikatan kita pada tubuh kita, menaikkan kesadaran kita menuju wilayah kewalian di tingkatan Diri Yang Tenang (Nafs-I Muthmainna).

Inilah titik ketika diri ilusi tidak lagi mendefinisikan dirinya sebagai tubuh, keadaan yang dirujuk oleh para Sufi sebagai kejadian ‘menyatu dengan Allah’.

Alih-alih menafsirkan sang ‘dajjal’ sebagai figur yang diramalkan muncul sebelum kiamat kubra, kita dapat menafsirkannya sebagai keadaan diri ilusi yang menimpa kita sebelum kiamat pribadi kita, yakni, kematian kita. Kemudian, dalam konteks ini, kita dapat menguak makna dari apa yang mesti dilawan Mahdi (Juru Selamat), dan apa yang mesti dikalahkan Yesus dengan kekuatan ilahiahnya, yaitu sang dajjal. Tentu saja, semua ini hanyalah konsep-konsep simbolik. Mahdi mewakili ilmu Keesaan (tawhid) Islami yang merupakan kesetimbangan dari ketakbandingan Allah (tanzih) dan keserupaanNya (tasbih).

Sang Dajjal mewakili tasbih yang berlebihan dan kekeliruan dalam mengevaluasinya, yang menuntun kesadaran seseorang untuk meyakini “Aku adalah Tuhan” serta berupaya menjalaninya dalam lingkup jasmani.

Di sisi lain, Yesus mewakili mereka yang telah menyingkap realitas tashbih kepada kemanusiaan secara pribadi, mengambil peran sebagai ‘korektor’ terhadap kemungkinan penyimpangan. Dalam Sufisme, Yesus merupakan simbol ‘kedekatan’ (yaqiin) kepada Allah, juga dikenal sebagai penyingkapan kekuasaan Allah.
Setelah memahami kebenaran-kebenaran ini dengan semestinya, kita dapat mencapai realisasi ‘kefanaan’ kita, yang tersingkap dengan ilmu Kesatuan (wahdat), serta menundukkan kepala untuk bersujud dan memohon:

“Ya Allah, anugrahilah kami dengan kehidupan yang tercerahkan . . .jelaskan, mudahkan dan sederhanakanlah ini bagi kami!”

Seperti dikatakan Nabi Muhammad (saw):

“Do’a yang paling disukai dan diterima adalah do’a yang dilakukan ketika bersujud” dan “posisi terdekat kepada Allah yang bisa didapatkan seseorang adalah ketika ia sedang bersujud.”

Karena itu, mari kita semua menempelkan kening kita di lantai untuk bersujud. Apakah dengan melakukan ini kita benar-benar bersujud? Ya, namun hanya berupa bentuk! Sujud yang sesungguhnya bukanlah imitasi formal, melainkan kesadaran akan ‘kefanaan’ diri dan pengakuan akan ‘Ketakhinggaan’ Allah.

Seseorang, yang bersujud dengan kesadaran ini, melihat Dia Yang Tak-Hingga melalui kefakiran dan kefanaan. Namun, orang yang hanya bersujud dalam bentuknya saja, egonya berdiri angkuh, keadaannya mengingatkan kita pada mereka yang disebut sebagai “punggung mereka bagaikan kayu, mereka tak akan mampu bersujud, dan setiap mereka mencobanya mereka akan terguling dan jatuh”!

Sesungguhnya, ‘sujud’ adalah keadaan ‘fana’, yang hanya dapat dicapai dengan menghilangkan identitas ilusi yang keliru. Sujudnya orang semacam itu bagai kesatuan dengan Allah, kedekatan yang istimewa. Dalam keadaan ini, orang ini bagai seorang pengamat, karena atribut ilahiah tersingkap dengan sendirinya dan kekuasaan ilahiah mewujud, ia melihatnya dalam sujudnya.

Mungkin selayaknya di sini disinggung masalah amalan ‘ruku’ (ruqu).

Telah diketahui bahwa sebelum masa Islam, cara-cara penyembahan mencakup posisi berdiri (qiyam) dan sujud. Namun mengenai ruqu, atau posisi membungkuk diperkenalkan oleh Nabi Muhammad (saw) sebagai bagian dari sholat (sembahyang 5 waktu).

Tapi mengapa? Mewakili apakah posisi ruku ini; mengapa hal ini penting?

Ruku dalam sholat adalah membungkukkan badan ke depan dari pinggang sekitar 90 derajat, sedemikian rupa seolah berdiri tegak dari kaki hingga pinggang sedangkan dari pinggang ke atas condong ke depan, seperti membentuk sudut siku-siku. Namun perbuatan ini apa maknanya?

Membaca Basmalah dan Al-Fatihah (surat pembuka Al-Qur’an), ketika berdiri tegak, merupakan penegasan terhadap kebenaran bahwa ‘ketegakan’ hanya mungkin dan patut ketika diterapkan sebagai khalifah Allah. Tidak membaca ayat-ayat ini merupakan bentuk sirik kepada Allah, dimana kita berisiko mengasosiasikan diri kita sebagai sekutu Allah.

Berbeda dengan itu, sujud merupakan penolakan terhadap diri dan pendeklarasian 

“Bukan aku, Engkau!”

‘Ruku’ karenanya merupakan titik tengah dari kedua posisi dan merupakan deklasari “Aku tahu memang aku nakal, secara intelektual aku tahu bahwa aku tiada dan hanya Emgkau yang ada, namun ilmu ini tak cukup untuk menghilangkan identitasku dan memungkinkan aku untuk memperoleh pengalaman praktis dari realitas ini, oleh karena itu, aku memohon ampunanMu. . .”

Ilmu Kesatuan (wahdat) tidak diberitahukan kepada umat sebelumnya; realitas yang lebih tinggi ini dibukakan kepada umat Muhammad (umat jaman sekarang). Meskipun demikian, nampak sekali bahwa tidak semua orang bisa mencapai pengalaman menggairahkan akan sejatinya sujud. Karena belas kasihlah, ruku diberikan sebagai alternatif, sehingga mereka yang tak bisa mengalami realitas sujud sedikitnya masih bisa membungkuk dengan kerendahan hati, dan secara intelektual menerima ketiadaan mereka.

Dalam keadaan dekat kepada Allah, ketika penyingkapan sifat ilahiah terjadi selama sujud, setiap keinginan menjadi titah Allah. Sebagaimana dinyatakan:

“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu jika Kami menghendakinya, kami hanya mengatakan ‘jadilah’, maka jadilah ia.” (Qur’an 16-40)

Karena demikian itu, mari kita kembali kepada Allah.

Mari kita berdo’a agar terlindung dari Dajjal diri ilusi dan tidak terperangkap oleh identitas palsu kita. Mari memohon agar dikaruniai pencerahan akan Realitas dan KeEsaanNya. Dan kecanduan atau keadaan apapun yang mungkin merintangi perkembangan spiritual kita, mari sungguh-sungguh  ‘berkeinginan’ agar tetap terbebas dari perbudakannya, sehingga akhirnya kita dapat meningkatkan kesadaran dan bersatu dengan Yang Esa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar