DAJJAL
Sumber: The Observing One
Karya: Ahmed Hulusi
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
Banyak
dari kita mencapai suatu titik dan mengira bahwa kita telah lepas dari pengkondisian.
Sedikit sekali kita menyadarinya bahwa ketika kita mengucapkan “Saya tidak lagi
terkondisikan”, kita masih mengucapkan kata “Saya”!
Diliputi oleh ilusi ‘kedirian’, kita terperangkap
oleh tubuh kita, dan karenanya takluk kepada ‘dajjalnya diri-ilusi”. Tunduk kepada setiap ujian dan hasrat
jasmani, kita mulai menapaki jalan menuju keruntuhan.
Setelah menghilangkan pengkondisian selama tahap
pematangan dan pengembangan, kita akan mengalami rasa kebebasan tertentu. Jika
belum juga menghilangkan ilusi ‘diri’ selama proses ini, maka kebebasan yang
baru diraih ini akan bekerja melayani tubuh. Kita ditelan oleh segala macam
nafsu jasmani, yang pada akhirnya mengarah pada penuhanan tubuh kita.
Sebagai akibatnya, kita mulai hidup dalam ‘surganya dajjal’. Yakni, bukannya
seperti diri yang ‘Absolut’, diri ‘ilusi’ menjadi kekuatan yang mendominasi,
dan dengan mematuhi diri ilusi ini, tak bisa dihindari kita tercekik dalam rawa
ilusinya.
Mari merenung sejenak . . .
Jika Sang
Pembaru (Mujaddid), dari periode
1400-1410 Hijriyah, dianggap sebagai
pembaru terakhir, maka Mahdi (Juru
Selamat) berikutnya, Dajjal akan
muncul dan mengklaim sebagai Tuhan di sekitar jaman ini, dan setelah itu Yesus muncul kembali ke dunia!
Tentu saja ini merupakan perwujudan eksplisit
dunia materi. Mereka yang tak dapat memahami realitas ini, baik karena sama
sekali menolaknya atau dengan membuat beragam penafsiran . . .Baik ia dapat
menyelami realitas ini ataupun tidak, hal itu akan menjadi nyata.
Namun, ada juga sisi tersiratnya, yang saya ingin
Anda menyimaknya.
Ketika Mahdi
yang ada di dalam terbangunkan, kita akan mencapai ketiadaan diri dan
merealisasikan bahwa keberadaan kita sebenarnya adalah keberadaanNya. . . Namun
realisasi yang berlandaskan ilmu ini belumlah cukup, karena tanpa pemurnian
yang menyeluruh, kita akan masih dipengaruhi perintah jahat dajjal dari dalam: “Akulah Tuhanmu,
mengabdilah kepadaku!.” Alaminya, kita akan mulai berpikir bahwa ini
merupakan suara Allah, dan mulai meyakini ‘diri’ kita sebagai Allah, sementara
kita masih mengidentifikasi ‘diri kita’ sebagai tubuh kita.
Sebagai akibat dari identifikasi yang keliru ini,
pikiran dominan kita menjadi: “Karena
aku adalah Tuhan (atau perwujudan Tuhan), aku bebas melakukan apapun yang aku
suka dalam tubuh ini!” dan karenanya mengakui semua bentuk kesenangan
jasmani bagi diri kita.
Inilah sebabnya Nabi Muhammad (saw) berkata:
“Ketika
dajjal muncul, orang-orang beriman mesti meloloskan diri dari surganya menuju
nerakanya. . .”
“Ini
mengekspresikan realitas yang terbalik bahwa surga dajjal yang nampaknya
menyenangkan sebenarnya adalah neraka!”
Hasrat-hasrat jasmani umumnya dinyatakan sebagai
hasrat-hasrat ‘alami’. Sebagian bahkan menyifatinya sebagai ‘jiwa’ (nafs) dan mengklaim perilaku demikian berhubungan dengan jiwa,
sedangkan yang kita maknai sebagai jiwa hanyalah ego; rasa ke-‘Aku’-an. Ketika jiwa terhalang dari realitas ini, secara keliru akan
mengidentifikasi dirinya sebagai tubuh jasmani, dan karenanya menyifati semua
keadaan, hasrat, dan lain-lainnya kepadanya.
Untuk lebih memperjelas lagi masalahnya, mari untuk
sementara kita gunakan kata ‘kesadaran’,
sebagai ganti dari kata ‘jiwa’.
Ketika kesadaran kita berada pada frekuensi yang lebih rendah ini, kita lebih
disibukkan dengan mengejar kesenangan-kesenangan jasmani, sehingga mencegah
jiwa untuk dapat mengaktualisasikan realitasnya.
Banyak orang sempoyongan pada titik ini dan
sungguh telah jatuh ke dalam keadaan egois seperti firaun, mengakui ketuhanan
pada diri mereka sendiri dan kalah oleh candu kesenangan jasmani, yang pada
puncaknya menyebabkan kematian mereka sendiri.
Pukulan pertama terhadap dajjal datang dari sang Mahdi.
Mahdi adalah pemandu
menuju kebenaran. Dengan kata lain, ia adalah ilmu yang melawan dajjal. Ilmu kebenaran berdiri tegak melawan diri
ilusi dan berkata:
“Jangan
bingung oleh kepercayaan yang berasal dari ilusimu, bahwa jiwamu adalah Tuhan
dengan tubuh jasmanimu. Kesadaranmu merupakan konsep abstrak! Tubuhmu, di sisi
lain, adalah mahluk fisik yang dibatasi kondisi-kondisi dimensi fisik tempat ia
berada. Tinggalkanlah keyakinan palsu bahwa dirimu adalah jasmanimu dan
sadarilah bahwa dirimu jauh dari sekedar tubuhmu; engkau adalah kesadaran!”
Panggilan ini tidak selalu menghapus klaim
dajjal: “Aku adalah Tuhan; Aku bebas
untuk hidup sesukaku”. Karenanya, menjadi penting bagi Yesus untuk turun
dari langit, atau dengan kata lain muncul dari alam implisit ke alam eksplisit
untuk membunuh sang dajjal! Meskipun faktanya sang Mahdi muncul dengan Ilmu
Realitas, belumlah cukup untuk membinasakan diri-ilusi, Yesus mesti turun dari
langit dan mengalahkan dengan Kekuatan agung!
Yesus yang turun dari langit merupakan simbol
kekuatan ilahiah yang melawan dajjal, yakni diri-ilusi, atau, identitas palsu.
Seperti dikatakan Nabi Muhammad (saw):
“Ketika
berhadapan dengan Yesus, Dajjal akan langsung padam.”
Dengan kata lain, ketika kekuatan ilahiah
tersingkap, aksi ‘mati sebelum ajal’
mewujud dan realisasinya menjadi benar-benar
jelas, bahwa keberadaan kita hanyalah pada sisi kesadaran kita. Setelah itu,
kita bisa melepaskan keterikatan kita pada tubuh kita, menaikkan kesadaran kita
menuju wilayah kewalian di tingkatan Diri Yang Tenang (Nafs-I Muthmainna).
Inilah titik ketika diri ilusi tidak lagi
mendefinisikan dirinya sebagai tubuh, keadaan yang dirujuk oleh para Sufi
sebagai kejadian ‘menyatu dengan Allah’.
Alih-alih menafsirkan sang ‘dajjal’ sebagai figur
yang diramalkan muncul sebelum kiamat kubra, kita dapat menafsirkannya sebagai
keadaan diri ilusi yang menimpa kita sebelum kiamat pribadi kita, yakni,
kematian kita. Kemudian, dalam konteks ini, kita dapat menguak makna dari apa
yang mesti dilawan Mahdi (Juru
Selamat), dan apa yang mesti dikalahkan Yesus dengan kekuatan ilahiahnya, yaitu
sang dajjal. Tentu saja, semua ini hanyalah konsep-konsep simbolik. Mahdi mewakili ilmu Keesaan (tawhid) Islami yang merupakan
kesetimbangan dari ketakbandingan Allah (tanzih)
dan keserupaanNya (tasbih).
Sang Dajjal mewakili tasbih yang berlebihan dan kekeliruan dalam mengevaluasinya, yang
menuntun kesadaran seseorang untuk meyakini “Aku adalah Tuhan” serta berupaya
menjalaninya dalam lingkup jasmani.
Di sisi lain, Yesus mewakili mereka yang telah
menyingkap realitas tashbih kepada
kemanusiaan secara pribadi, mengambil peran sebagai ‘korektor’ terhadap
kemungkinan penyimpangan. Dalam Sufisme, Yesus merupakan simbol ‘kedekatan’ (yaqiin) kepada Allah, juga dikenal
sebagai penyingkapan kekuasaan Allah.
Setelah memahami kebenaran-kebenaran ini dengan
semestinya, kita dapat mencapai realisasi ‘kefanaan’ kita, yang tersingkap
dengan ilmu Kesatuan (wahdat), serta
menundukkan kepala untuk bersujud dan memohon:
“Ya
Allah, anugrahilah kami dengan kehidupan yang tercerahkan . . .jelaskan,
mudahkan dan sederhanakanlah ini bagi kami!”
Seperti dikatakan Nabi Muhammad (saw):
“Do’a
yang paling disukai dan diterima adalah do’a yang dilakukan ketika bersujud” dan
“posisi terdekat kepada Allah yang bisa didapatkan
seseorang adalah ketika ia sedang bersujud.”
Karena itu, mari kita semua menempelkan kening
kita di lantai untuk bersujud. Apakah dengan melakukan ini kita benar-benar
bersujud? Ya, namun hanya berupa bentuk! Sujud yang sesungguhnya bukanlah imitasi formal, melainkan kesadaran akan
‘kefanaan’ diri dan pengakuan akan ‘Ketakhinggaan’ Allah.
Seseorang, yang bersujud dengan kesadaran ini,
melihat Dia Yang Tak-Hingga melalui kefakiran dan kefanaan. Namun, orang yang hanya bersujud dalam bentuknya saja,
egonya berdiri angkuh, keadaannya mengingatkan kita pada mereka yang disebut
sebagai “punggung mereka bagaikan kayu, mereka tak akan mampu bersujud, dan
setiap mereka mencobanya mereka akan terguling dan jatuh”!
Sesungguhnya, ‘sujud’ adalah keadaan ‘fana’,
yang hanya dapat dicapai dengan menghilangkan identitas ilusi yang keliru.
Sujudnya orang semacam itu bagai kesatuan dengan Allah, kedekatan yang
istimewa. Dalam keadaan ini, orang ini bagai seorang pengamat, karena atribut
ilahiah tersingkap dengan sendirinya dan kekuasaan ilahiah mewujud, ia
melihatnya dalam sujudnya.
Mungkin selayaknya di sini disinggung masalah
amalan ‘ruku’ (ruqu).
Telah diketahui bahwa sebelum masa Islam,
cara-cara penyembahan mencakup posisi berdiri (qiyam) dan sujud. Namun mengenai ruqu, atau posisi membungkuk diperkenalkan oleh Nabi Muhammad (saw) sebagai bagian dari
sholat (sembahyang 5 waktu).
Tapi mengapa? Mewakili apakah posisi ruku ini;
mengapa hal ini penting?
Ruku dalam sholat
adalah membungkukkan badan ke depan dari pinggang sekitar 90 derajat,
sedemikian rupa seolah berdiri tegak dari kaki hingga pinggang sedangkan dari
pinggang ke atas condong ke depan, seperti membentuk sudut siku-siku. Namun
perbuatan ini apa maknanya?
Membaca Basmalah
dan Al-Fatihah (surat pembuka
Al-Qur’an), ketika berdiri tegak, merupakan penegasan terhadap kebenaran bahwa
‘ketegakan’ hanya mungkin dan patut ketika diterapkan sebagai khalifah Allah.
Tidak membaca ayat-ayat ini merupakan bentuk sirik kepada Allah, dimana kita berisiko
mengasosiasikan diri kita sebagai sekutu Allah.
Berbeda dengan itu, sujud merupakan penolakan
terhadap diri dan pendeklarasian
“Bukan
aku, Engkau!”
‘Ruku’
karenanya merupakan titik tengah dari kedua posisi dan merupakan deklasari “Aku
tahu memang aku nakal, secara intelektual aku tahu bahwa aku tiada dan hanya
Emgkau yang ada, namun ilmu ini tak cukup untuk menghilangkan identitasku dan
memungkinkan aku untuk memperoleh pengalaman praktis dari realitas ini, oleh
karena itu, aku memohon ampunanMu. . .”
Ilmu Kesatuan (wahdat) tidak diberitahukan kepada umat sebelumnya; realitas yang
lebih tinggi ini dibukakan kepada umat Muhammad (umat jaman sekarang). Meskipun
demikian, nampak sekali bahwa tidak semua orang bisa mencapai pengalaman
menggairahkan akan sejatinya sujud. Karena belas kasihlah, ruku diberikan
sebagai alternatif, sehingga mereka yang tak bisa mengalami realitas sujud
sedikitnya masih bisa membungkuk dengan kerendahan hati, dan secara intelektual
menerima ketiadaan mereka.
Dalam keadaan dekat
kepada Allah, ketika penyingkapan sifat ilahiah terjadi selama sujud, setiap
keinginan menjadi titah Allah. Sebagaimana dinyatakan:
“Sesungguhnya
perkataan Kami terhadap sesuatu jika Kami menghendakinya, kami hanya mengatakan
‘jadilah’, maka jadilah ia.” (Qur’an 16-40)
Karena demikian itu, mari kita kembali kepada Allah.
Mari kita berdo’a agar terlindung dari Dajjal
diri ilusi dan tidak terperangkap oleh identitas palsu kita. Mari memohon agar
dikaruniai pencerahan akan Realitas dan KeEsaanNya. Dan kecanduan atau keadaan
apapun yang mungkin merintangi perkembangan spiritual kita, mari
sungguh-sungguh ‘berkeinginan’ agar
tetap terbebas dari perbudakannya, sehingga akhirnya kita dapat meningkatkan
kesadaran dan bersatu dengan Yang Esa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar