YANG MAHA MELIHAT
Sumber: The Observing One
Karya: Ahmed Hulusi
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
Yang
Maha Melihat!
Karena Dia lah yang Melihat, sehingga makna-makna
dan bentuk-bentuk yang hendak DilihatNya mestinya merupakan produk KehendakNya
. . .
Memandang sesuatu dari perspektif ini,
keseluruhan keberadaan akan nampak sebagai kehidupan,
ilmu, kehendak, kekuasaan, ucapan, pendengaran dan pandangan yang Esa…
Sementara segala ciptaan bersifat lumpuh dan
lemah dalam pandangan Yang Esa dengan Kekuasaan AbsolutNya, satu-satunya yang
tak dimiliki Keberadaan Agung hanyalah ‘kelemahan’.
Manusia
Sempurna (Al-Insan
Al-Kamil) dirujuk dengan pernyataan kelemahannya dalam ayat berikut:
“…
Sungguh, dia dzalim (tak mencukupi dalam menjalani
realitasnya) dan jahil (dari ilmu
tentang Nama-namaNya yang tak hingga).” (Qur’an
33:72)
Seluruh ciptaan bagai perluasan dari Manusia Sempurna. Namun dalam pandangan
Yang Esa terbatas oleh ketidakmampuan. Karenanya, ia lemah.
Sang Pencipta, yakni Yang Esa yang telah
mewujudkan bentuk-bentuk yang tak terhitung jumlahnya dalam ciptaan, sungguh
telah menciptakan seluruh alam dengan kelemahan. Manusia Sempurna tak terbatasi
dalam hal potensi tak hingganya dan dalam hal Gaib Mutlaknya (gayb-i mutlaq).
Namun dia lemah dan terbatas dalam hal makna-makna yang dia manifestasikan. Ibnu Arabi merujuk kelemahan ini dengan
kata-katanya:
“telah
kutemukan bahwa pangkat ‘Hamba yang lemah’ merupakan pangkat tertinggi.”
Keadaan ‘hamba
yang lemah’ hakikatnya merupakan keadaan
penglihatan bagi Manusia Sempurna.
Kita jangan menafsirkan pemikiran ini dengan
pikiran manusiawi kita agar tak jatuh kedalam kesalahan dan memiliki pemahaman
yang keliru terhadap realitas.
Ketahuilah bahwa, dalam pandangan Manusia Sempurna, dibandingkan dengan
apa-apa yang belum mewujud, semua perwujudan bersifat terbatas, dan
keterbatasan merupakan implikasi dari kelemahan.
Mengingat hal ini, ucapan Nabi Muhammad SAW “Aku beristigfar 70 kali setiap hari” menunjukkan
kesadaran akan keterbatasan ini. Artinya, tobatnya Manusia Sempurna menunjukkan
kelemahan yang dirasakannya terkait dengan segala upaya mewujudkan makna-makna
tak berbatas dari Yang Esa.
Dengan kata lain, itu lah caranya mengungkapkan: “Sebagai syarat pengabdianku padaMu, aku
lemah dalam memahami makna-makna tak-hinggaMu” dan karenanya mengakui
KemahakuasaanNya atas seluruh alam jasmani.
Demikianlah perenungan dari Manusia Sempurna…
Namun jika Allah berkehendak, Dia juga dapat
berbicara melalui seorang hamba seperti saya untuk menyampaikan pengajaran ini.
Memilih seorang sultan ataupun seorang pelayan adalah Kehendak dan PerintahNya,
tak ada batasan apapun terhadap pilihan Yang Maha Agung. Tugas kita adalah
mengambil pelajaran ini, menelaah dan memahaminya, jika ini menjadikannya
sebagai tujuan, tentunya.
Atau, sekedar mengalami apa yang disebut ayat
berikut ini,
“Masing-masing
akan berbuat menurut program ciptaannya (fitrah-bakat alami).” (Qur’an 17:84)
Jika pengajaran ini bukan tujuan kita, maka kita
akan menjalani pernyataan ‘Masing-masing
akan melakukan apa yang telah dibuat mudah (oleh alam) baginya’ dan mengejar takdir yang mudah, dengan menghilangkan
realitas-realitas ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar