KEWENANGAN YANG MAHA
ESA
Sumber: The Observing One
Karya: Ahmed Hulusi
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
Topik mengenai Takdir (qadar) adalah topik yang menjadi pemikiran dan pembicaraan orang di
sepanjang jaman, dan hanya beberapa orang terpilih, dengan tingkat pencerahan
tertentu, yang mampu menyingkap pengertiannya…
Untuk mengungkap misteri takdir, kita mesti mengambil dan memahami konsep Keesaan.
Selama realitas
Keesaan tidak difahami dengan sungguh-sungguh dan diterapkan, pengakuan keyakinan seseorang tak dapat melampaui
tingkatan keyakinan buta.
Inilah alasan yang pas mengapa kekhalifahan
diberikan kepada manusia, bukannya kepada jin12, yang telah
menguasai bumi sebelum manusia diciptakan.
Meskipun mengetahui hampir semua mekanisme
sistem, jin terhalang untuk memahami dua realitas inti:
1. Misteri Keesaan (Wahdat)
2. Misteri takdir (Qadar)
Karena jin tak memiliki kapasitas untuk memahami
atau memikul kebenaran, diciptakanlah manusia dengan tanggung jawab yang
diperlukan serta kapasitas untuk memahami misteri-misteri ini.
Berdasarkan ayat berikut:
“Aku
hendak menjadikan seorang khalifah (yang hidup dengan
tingkat kesadaran Dimensi Nama-nama) di
muka bumi (tubuh).” (Qur’an
2:30)
Manusia diciptakan dengan kapasitas bawaan untuk
memahami misteri Keesaan dan misteri
takdir, dan karenanya layak menjadi khalifah.
Untuk memahami Keesaan, seseorang mula-mula mesti
mengkaji makna dari ‘Kalimat Tauhid’,
kemudian diikuti dengan analisis dan evaluasi terhadap makna surat ke-112 (al-Ikhlas) dari Al-Qur’an.
Mustahil untuk dapat memahami realitas Keberadaan Absolut, yang dirujuk dengan
nama Allah, jika kita tidak terlebih dulu menyerap makna surat al-Ikhlas.
‘MEMBACA’
surat
al-Ikhlas bukan berarti hanya
mengulang-ulang kata-kata dalam surat pendek ini. Seseorang bisa saja
mengulang-ulang surat al-Ikhlas ini
100.000 kali tanpa pernah ‘MEMBACA’ ayat ‘Allah
itu Esa’. Membaca ayat ini berarti memahami, merasakan, dan menjalani
kebenarannya.
Seperti telah saya katakan sebelumnya, kata ‘Allah’ adalah sebuah nama. Ada perbedaan yang berarti antara menyebut nama
seseorang dengan mengetahui sifat ketika dipanggil dengan nama tersebut,
karenanya memanggil keberadaannya
dengan nama itu! Dengan sekali baca, Anda hanya mengucapkan kata-kata pada
papan arah jalan, sedangkan dengan bacaan selanjutnya, Anda membaca papan itu
sambil berjalan pada arah yang ditunjuknya.
Para ‘musafir’ semacam itu adalah mereka yang dekat kepada Allah (muqarribun), dan dipanggil dengan
sebutan Keluarga Allah (ahlullah). Dengan kata lain,
mereka-mereka yang disebut dalam ayat,
“
… Allah memilih bagiNya siapa yang Dia kehendaki …” (Al-Qur’an
42:13)
Jika
kita dapat memahami realitas bahwa nama Allah menunjuk pada Satu tubuh, namun bukan dalam pengertian tubuh fisik, melainkan dengan melihatnya bahwa tidak ada
keberadaan ke dua selain KeberadaanNya, bahwa KeberadaanNya yang Tak hingga,
tak terbatas meliputi segalanya . .. Dan jika kita dapat memahami bahwa Dia
tidak berasal dari sesuatu, dan karena sifat tak hingganya, tak ada ‘yang lain’
yang berasal dariNya … Maka akan menjadi jelas bahwa yang Esa yang Tak Hingga
telah memikirkan, mengevaluasi, mewujudkan lalu membuat tiada seluruh ciptaan
dalam ‘Ilmu’Nya.
Dengan kata lain, dengan IlmuNya dan KekuasaanNya, Dia yang Tak Hingga, Tak Berbatas telah
menciptakan seluruh alam dari ketiadaan, dan melihat refleksi Nama-namaNya melalui
nama-nama ciptaan, semuanya pada
tingkatan ilmu!
‘Bentuk-bentuk
makna’ ini dalam Ilmu Yang Esa, memperoleh bentuknya dari keberadaanNya, dengan
manifestasi sifat-sifat Nama-namaNya, dengan kewenangannya. Dan Dia pula yang
melihat makna-makna ini.
Keberadaan yang meliputi segala sesuatu…
Kosmos yang hadir pada tingkatan ilmu…
Sebagai contohnya: Mari kita ciptakan sebuah
dunia dalam imajinasi kita. Mari kita bayangkan semua jenis manusia yang hidup
di dunia ini… Senyata apapun yang kita rasakan, ia hanyalah dunia yang
diciptakan dari tiada dalam imajinasi kita; ia tak memiliki keberadaan substansial
yang lepas dari keberadaan kita; dan pada akhirnya ia itu ‘tiada’.
Karenanya,
semua jagat dan semua dimensi serta bentuk-bentuk kehidupan yang dikandungnya
ada dalam IlmuNya, bergantung kepada keberadaanNya, dan pada dasarnya tiada!
Memahami realitas yang sangat besar ini
memungkinkan kita melihat kebenaran yang luar biasa. Bahwa Allah dengan
sifat-sifat nama ‘Pemilik Kehendak
Absolut’ (Muriid), berkehendak
untuk menciptakan bentuk-bentuk agar makna-makna terwujud dan terlihat. Dan
bentuk-bentuk ini secara sukarela selaras dan menerima tugas ini.
Mari kembali pada Jagat yang kita ciptakan dalam
imajinasi kita. Kita bayangkan dan kita penuhi dunianya dengan
individu-individu yang berbeda, memperlengkapi mereka dengan ketrampilan dan
kemampuan. Dengan demikian, individu-individu ini, dalam imajinasi kita,
mewujudkan esensi mereka berdasarkan
ketrampilan yang diberikan. Dapatkah kemudian kita mengatakan bahwa
individu-individu ini memiliki kehendaknya
sendiri yang independen, yang dengannya mereka memilih untuk mengatur
tindakan mereka?
Ataukah lebih tepat lagi jika dikatakan bahwa
individu-individu imajiner ini memproyeksikan karakteristik-karakteristik
bawaan yang kita berikan pada mereka? Mari kita anggap bahwa satu di antara
individu ini melakukan pembunuhan dan membunuh individu lainnya, dan orang
ketiga yang menyaksikan kejadian tersebut mengatakan, “Si anu telah membunuh si
anu”. Namun semua ini terjadi pada tingkatan ilmu kita, dalam pikiran dan
imajinasi kita. Kita menulis ceritanya, mengatur peran mereka, dan mereka
memainkan perannya. Jadi, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa, “Si anu telah membunuh si anu dengan kehendak dan keputusannya sendiri?”
Mengatakan demikian mengandung asumsi bahwa ‘semua’ individu memiliki kehendak
yang bebas, dan karenanya menghapuskan Kehendak yang Esa. Pernyataan adanya
kehendak yang bebas disamping Kehendak yang Esa secara tidak langsung mencabik
dan mengurangi Kehendak AbsolutNya.
Dalam bukunya, Hujjatullahi Al Baligha,
Syeikh Veliullah Dihlevi, yang dikenal sebagai pembaru (mujaddid) dari generasi setelah Imam Rabbani, mengatakan:
“Manusia
dapat memilih tindakan mereka, namun pilihan ini tak pernah nyata karena secara
ilahi termotivasi oleh manfaat dan imbalan tertentu yang membuatnya berpikiran
bahwa itu adalah pilihannya, sedangkan dalam kenyataannya merupakan kewenangan
yang Agung yang tersamarkan.”
KARENANYA,
“…MEREKA TAK PUNYA PILIHAN…” (Qur’an 28:68)
Nabi
Muhammad saw berkata:
“Hati
berada di antara dua jari Allah, Dia mengubahnya sesuai kehendakNya.”
Ibrahim Hakki Erzurumi, yang dikenal sebagai
seorang Penolong Besar (ghauts) pada masanya, berkata dalam Marifetname:
“Kebebasan
pra-eternal berada di atas dan lebih besar dibandingkan sebab-sebabnya, karena
seseorang tidak dapat memohon sesuatu setelah Allah memberinya.
Karenanya,
ketetapan Allah merupakan sebab dari segala sesuatu, dan tak satupun menjadi
sebab atau alasan bagi ketetapanNya. KaruniaNya tidak berasal dari Anda. Dimana
Anda ketika karuniaNya datang kepada Anda?
Segala
hal bergantung pada kehendakNya, sedangkan kehendakNya tak bergantung pada
apapun.
Karena
Allah melakukan apa yang dikehendakiNya. Ayat yang berbunyi, ‘Allah melakukan
apa yang dikehendakiNya’13 memberitahu kita bahwa segala sesuatu
berasal dari kehendak dan kekuasaanNya.”
Banyak ayat Al-Qur’an dan ucapan Nabi Muhammad saw yang menjelaskan
topik ini. Saya tak ingin mengulang semuanya di sini14, namun dua
ayat berikut akan memperkuat bahasan di sini:
“Tidak
ada suatu bencana apapun yang menimpamu di bumi (pada
tubuhmu dan dunia luar) atau pada dirimu sendiri (alam batinmu) melainkan telah tercatat dalam kitab (terbentuk
dalam dimensi ilmu) sebelum kami
menjadikannya! Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”
“Kami
beritahukan kepadamu supaya kamu tidak berdukacita terhadap apa yang luput
darimu atau terlalu gembira dengan apa yang diberikan kepadamu. Dan Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri!”
(Qur’an 57:22-23)
Untuk memahami inti
pembicaraan, kita mesti memandang situasi ‘luar’ dari titik esensi ‘dalam’;
kita mesti melihat keserbaragaman dari titik kesatuan. Jika kita mencoba
memandangnya secara terbalik, yakni jika kita memandang puncak piramid dari
dasarnya, visi kita akan terhalangi di suatu tempat di sepanjang jalan, dan
akan terbelokkan oleh semua detil dan kehilangan Esensinya.
Satu-satunya kondisi
yang mesti terpenuhi, agar bisa memahami dan memecahkan misteri ini dari
intinya, adalah dengan memandang yang ‘banyak’ dari titik yang ‘Satu’, untuk
memandang manifestasinya dari titik Esensinya, bukan sebaliknya. Dalam
melakukannya, seseorang pasti akan melihat bahwa keberadaan ‘luar’, yakni dunia
konseptual dari bentuk-bentuk, hanyalah proyeksi makna-makna implisit dalam
Ilmunya!
Semua bentuk kehidupan membutuhkan kehidupan dari
HidupNya.
Dia Maha Mengetahui (Aliim). Karenanya, semua ilmu yang berkaitan dengan ciptaan berasal
dan berada dalam IlmuNya. Ilmu Allah tidak berbatas dan tak hingga.
Dia Muriid.
Kehendaknya tak hingga. Karenanya, semua ekspresi yang keluar dari kehendak
berasal dari KehendakNya, mewujud sesuai dengan komposisi Nama-nama yang dibawa
dalam esensinya.
Jika kita meninjau sebuah aktivitas seorang
individu kita mengatakan “ia bertindak
dari kehendak bebasnya”. Sedangkan yang
nampak keluar dari kehendak dalam realitasnya tak lebih dari pengungkapan
Kehendak yang Esa melalui individu tersebut; bagai air yang mengalir dari keran
tertentu tak ada bedanya dengan air dalam penampungannya.
Aplikasi dari prinsip yang sama terhadap semua
nama-nama dan atribut lainNya, seperti Kekuatan,
Perkataan, Pendengaran, Penglihatan dan sebagainya, menunjukkan bukti
kebenaran bahwa Allah meliputi ‘segalanya’.
Maka dapat kita simpulkan bahwa hanya ada satu
kehidupan di seluruh keberadaan, dan itu adalah kehidupan dari Yang Hidup-Kekal (Hayy). Dan lagi-lagi, hanya ada satu kehendak di seluruh kosmos,
dan itulah Muriid (Pemilik Kehendak
Absolut). Jika Kehendak yang Esa tak hingga dan tak berbatas, maka bagaimana
kita dapat memecah-mecah kehendak eternalNya dengan menisbahkan kehendak
parsial individu kepada mahluk?
Dia lah Sang Maha Penguasa, maka, seluruh
ekspresi kekuasaan berkenaan dengan Kekuasaannya. Setiap penampakan makna, dan
semua aksi dari setiap atom, semuanya dapat ditelusuri kepada nama-nama yang
maha meliputi tanpa batas yang memanifestasikan Imunya yang Esa.
Karenanya, hanya ada satu Kehendak, satu Kekuasaan,
dan satu Pengetahuan tak hingga yang
mengarahkan Kehendak dan Kekuasaan ini yang berkenaan kepada yang Esa yang diwakili oleh nama Allah.
Dia menyingkap dan melihat DiriNya pada cermin
nama Allah, namun pada saat yang bersamaan menyatakan:
“Sungguh,
Allah (dalam istilah Hakekat AbsolutNya) adalah Ghani dari (terkondisikan dan
terbatasi oleh) seluruh alam (komposisi
individu dan materi dari Nama-namaNya).”
(Qur’an 29:6)
ALLAH
adalah Pre-eternal dan Pos-eternal (Baqi).
Semua alam nampaknya berupa gelombang-gelombang
peralihan dari ketiadaan dan bergerak menuju ketiadaan dalam samudra Keabadian.
Kita pun bagai sebuah gelombang, terbentuk dari
samudra itu dan kembali menuju kepadanya. Karena segala sesuatu akan kembali kepada sumbernya, demikian pula setiap
gelombang yang terbentuk akan kembali kepada keadaan tak berbentuk dalam
samudra itu dan lenyaplah!
Dalam pandangan mereka yang berilmu, bahkan
gelombang-gelombang pun tiada.
Suatu hari akan tiba dan pada akhirnya kita akan
menyadari bahwa kita ‘tiada’.
Anggapan kedirian kita akan terhapuskan dalam keberadaan Allah, dan api neraka
internal kita kemudian akan padam. Lalu siapa yang akan kita lihat dalam
cermin?
Akankah cermin itu Dia yang Abadi dan ‘sang diri’
menjadi kosong?
Dalam kenyataan, tak ada gunanya berbicara
mengenai ketiadaan dari kekosongan. Seperti namanya saja, kosong! Karenanya,
bagi yang tercerahkan, di setiap saat hanya ketiadaan kecuali Yang Maha Kekal.
Sebenarnya, bagi yang tercerahkan tidak ada istilah ‘setiap saat’ dan hanya ada
‘satu saat’.
Akhirnya, semua ini hanya dapat dijalani dan
dialami, namun sebagai kesimpulan pembicaraan kita:
Untuk mengevaluasi keberadaan dengan konteks yang
benar, kita harus melihat keberadaan seolah memandang dari ujung sebuah
kerucut. Yakni dari titik kesatuan menuju keragaman, dari inti dalam ke
cangkang luar, bukan sebaliknya.
Karena
tak terbatasi, Keberadaan tak hingga tak memiliki batas, tak ada keberadaan
lain selain Dia, namun ketakberbatasannya harus dikenali dari sudut pandang
sifat-sifatnya (attributes)
yang tak hingga.
Kami selalu berusaha untuk menjelaskan sifat tak
hinggaNya dari sudut pandang KeabsolutanNya, kini kita harus mengenali sifat
tak hinggaNya dari sifat-sifatNya. Dengan demikian, kita akan mengenal
Kehidupan, ilmu, Kehendak, dan KekuasaanNya yang tak hingga, dan kita akan
memahami bahwa apa yang disebut ‘kehendak-bebas’
yang kita sandangkan pada diri kita hanyalah produk dari kelima indera kita. Setelah
memahami realitas mendasar bahwa kehendak-bebas kita tidak ‘bebas’ dari
KehendakNya, kita bisa berhenti dari sikap memecah-mecah dan menjadi faham
maksud dari ayat berikut:
“Janganlah
berpaling kepada tuhan-tuhan (perwujudan luar
dari kekuatan) selain Allah.” (Al-Qur’an
28:88)
Jika kita telah ditakdirkan untuk memahami
KetakhinggaanNya, bukan sekedar dari sudut pandang Keberadaan AbsolutNya
melainkan juga dari sifat-sifatnya dan seluruh KeberadaanNya, maka kita akan
menyadari bahwa takdir tidak lain
adalah medan penglihatan yang mewujud
pada kehendak yang Esa.
12
Untuk
informasi lebih jauh mengenai jin, silakan merujuk kepada buku Ruh Manusia Jin yang tersedia di situs
web www.ahmedhulusi.org/en/
13
Al-Qur-an 2:253
14
Untuk informasi lebih lanjut silakan merujuk kepada buku Misteri Manusia dan Pikiran
dan keyakinan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar