PENGLIHATAN DZAT
Sumber: The Observing One
Karya: Ahmed Hulusi
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
“Tak
pernahkah pada manusia ada masa ketika dia belum menjadi sesuatu yang dapat
disebut?” (Qur’an 76:1)
“Aku
adalah perbendaharaan yang tersembunyi dan Aku ingin dikenali, maka aku
ciptakan langit dan bumi. Aku ciptakan Adam sehingga Aku bisa dikenali.”
“Allah
ada dan tak sesuatupun ada besertanya. Dan Dia demikian kini dan selamanya.”
“Allah
menciptakan Adam dalam citraNya, atau, dalam citra Ar-Rahman (potensial
quantum asal mulanya keberadaan segala sesuatu).”
“Dimana
Allah sebelum Dia menciptakan langit dan bumi? Dia ada dalam potensi Absolut (Ama) yang atas dan bawahnya tak ada udara.”
Apa yang disampaikan pesan bersandi ini?
Baik mengenai ayat Al-Qur’an ataupun ucapan Nabi Muhammad SAW, mengevaluasi
kebenaran-kebenaran abadi ini, berdasarkan pengetahuan dan pemahaman kita masa
kini, akan memberi kita penglihatan batin yang berharga dan pencerahan.
Namun, persyaratan utama untuk pencerahan
demikian adalah dengan menghilangkan tirai tebal dari ke 5 indera. Karena tanpa
membebaskan diri kita dari pengkondisian tirai penutup ini beserta dunia
ilusinya, kita tak kan dapat melihat kebenaran sejati.
Namun demikian, realitas seperti-kepompong, yang
dijalin oleh persepsi indera kita, atau kelima indera kita, bukannya tanpa
tujuan. Ia memberi fungsi penting pada pertumbuhan primer seseorang. Bagai
rahim seorang ibu, ia membantu dalam perkembangan pokok dengan membina dan
mempersiapkan kita bagi dunia nyata. Karenanya, ia tidak dirancang untukmenjadi
tempat tinggal abadi, melainkan sebagai kulit pelindung selama perkembangan
kita. Seperti halnya bayi matang yang mendorong dirinya keluar rahim , atau
ulat matang yang keluar dari kepompongnya, kesadaran yang matang juga mesti
menetas dari realitas seperti-kepompong, agar tidak mati
tercekik atau lenyap begitu saja.
Tubuh biologis kita dan kehidupan dunia ini layaknya
kepompong kita, dirancang khusus bagi kita untuk mengembangkan dan memperkaya
ketrampilan Akhirat kita sehingga kita dapat bertahan dan berhasil di akhirat.
Jika kesadaran kita gagal untuk menjebol
kepompong kelima indera ini, ia tak kan pernah mencapai kebenaran tentang
dirinya. Sebagai hasilnya, kita kan selalu terkena rangsangan persepsi indera
kita yang kaku, yakni rangsangan psikologis dan kimia dari tubuh kita akan
membentuk realitas kita, yang pada akhirnya akan mencekik kita.
Kelima indera mungkin memberikan sepersejuta
kapasitas kinerja otak. Ia memberi kita contoh (versi percobaan) mengenai
spesifikasi dan sifat tak-hingga dari otak.
Otak manusia sama-sama menggunakan proses
perkembangan yang serupa dengan bentuk-bentuk kehidupan lain di planet kita,
dan jumlahnya tak terhitung. Yakni bahwa, otak dibentuk oleh molekul, yang
dibentuk oleh atom, yang tidak lebih dari kumpulan-kumpulan energi.
Ketika saya mengatakan energi, saya tak merujuk
pada bentuk energi statik ataupun energi kinetik yang kita pelajari di sekolah.
Yang saya maksud adalah energi yang menjadi sumber kehidupan dari seluruh
ciptaan.
Struktur genetik dari molekul DNA dan RNA, yang
terkandung dalam setiap sel dari tubuh kita, akan mengalami mutasi jika terkena
radiasi kosmik tertentu. Sains moderen dapat mengubah dan memanipulasi
konfigurasi genetik di laboratorium, memberikan gelombang dan radiasi tertentu
pada molekul-molekulnya sehingga menghasilkan spesies lain.
Cukup menarik bahwa sinar-X juga memberikan
dampak yang sama pada neuron dalam
otak kita.
Kesadaran
kita
adalah sang ‘aku’ yang berkembang pada
pangkalan-data dari data genetik dan astrologi kita, tersintesa dengan
pengkondisian lingkungan. Pada kenyataannya, kesadaran kita bukan milik dari
tubuh fisik ini; ia merupakan produk-samping dari aktivitas analisis dan
sintesis menyeluruh yang luar biasa dari otak. Ini berkaitan dengan jiwa!
Walaupun jagat sudah penuh dengan bentuk-bentuk
kehidupan yang tak terhingga, setiap bentuknya hanya dikenali oleh penghuni
dari dimensi yang sama, dan yang memiliki kapasitas untuk merasakan dan
mengevaluasinya.
Maksudnya; pertama-tama terbentuk persepsi pengindra,
kemudian dunia material tercerap. Atau, pertama-tama penganalisa radial
terbentuk, lalu kemudian alam radial dicerap dan dievaluasi. Ekspresi dan makna-makna mereka bergantung
pada bentuk-bentuk kehidupan yang mempersepsikan dan menganalisa panjang
gelombang mereka.
Sekarang, mari mengingat kebenaran penting
berikut:
Tak
ada keberadaan selain Uluhiyya5
yang tak-hingga dan tak terbatas yang
bernama ‘ALLAH’.
Karena tidak ada keterbatasan pada Allah, maka
mustahil untuk memikirkan hal apapun ‘selain’ KeberadaanNya.
Dalam satu aspek, Keberadaan tak berbatas
tak-hingga ini adalah Al-Jami,
mengumpulkan semua ekspresi kepada Dia. Dalam aspek lain, Keberadaan ini adalah
Al-Muhit, mencakup dan meliputi
seluruh keberadaan. Karenanya, ekspresi, yang terkandung di dalam DiriNya, dilihat dalam IlmuNya, dan lagi-lagi dengan
DiriNya.
Tidak ada keberadaan lainnya dalam KeberadaanNya,
karena tak pernah ada yang timbul menjadi ada kecuali KeberadaanNya.
“Dia
tak beranak.
Tidak
pula Dia diperanakkan.” (Al-Qur’an 112:3)
Tak ada keberadaan lain selain keberadaanNya yang
dapat terlintas dalam pikiran.
“Hanya
Allah yang ada, dan tiada yang lain besertaNya. Dia demikian, kini dan
selamanya.”
‘Kini’
adalah ‘sekarang’ yang disebutkan dalam ayat ini. Konsep waktu, material,
ruang, dll., hanya berlaku menurut
kelima indera. Namun dalam dimensi ini, waktu konsisten untuk ‘sekarang’.
Dengan kata lain, waktu itu tak ada, di luar dimensi persepsi kita.
Jika saja kita dapat melewati rintangan mata
fisik kita dan mulai mendasarkan hidup kita pada kebenaran ilmiah dan
spiritual… Mungkin saja, kita akan menyadari bahwa dunia ini terdiri dari
bentuk-bentuk kehidupan yang tak terhitung, berkisar antara panjang gelombang
sepermilyar sentimeter hingga kilometeran, masing-masing
dengan ekspresi dan tanda yang unik. Dunia beranimasi ini adalah Alam Perbuatan (Af’al).
Setiap lapisan-lapisan ekspresi mengandung makna khusus
yang dapat dipersepsi oleh ekspresi tertentu lainnya. Lapisan-lapisan ini
kemudian diberi label sebagai ‘gaib’
dan karenanya tetap tersembunyi bagi mereka yang tak dapat melihatnya. Namun,
ini bukan gaib absolut’ hanya gaib relatif.
Jika kita menjadi sadar akan hakikat diri sendiri
dan bisa melepaskan diri dari batasan kelima indera, kita dapat membuka dan
melihat kegaiban-kegaiban ini.
Namun penglihatan ini bukan bukan penglihatan
kita; ini merupakan penglihatan dari Keberadaan Absolut.
Yang
Maha Melihat!
Penglihatan sekarang,
karena tidak ada waktu selain saat sekarang ini.
Hanya mereka dengan kesadaran murni yang dapat
menjalani realitas ini.
“Dia
berkehendak untuk melihat ekspresi-ekspresi tak-hingga yang terkandung dalam
DiriNya, karenanya Dia membuat ciptaanNya sedemikian rupa sehingga mereka
mengandung ekspresi-ekspresiNya.”
Dimana?
Di
dalam ImuNya yang tak-hingga!
Penting untuk memiliki pemahaman yang benar
terhadap pernyataan ini dan makna-maknanya. Ciptaan adalah bentuk ekspresiNya
yang Dia hendak lihat.
Ketika saya mengatakan ‘bentuk’, bukannya bentuk fisik, melainkan bentuk ‘makna-makna’, karena Dia adalah Al-Musawwir, Maha Pembentuk dari bentuk-bentuk tak-hingga yang
diturunkan dari alam implisit makna-makna.
Ketika merenungkan hal ini, kita tak boleh
membiarkan pikiran kita membayangkan bumi dan milyaran orang yang tinggal di
dalamnya.
Satu galaksi saja di jagat kita bisa mengandung
hingga jutaan matahari, belum lagi milyaran galaksi lain yang bahkan belum
ditemukan. Apakah kita memikirkan tentang makrokosmos di luar sana, ataupun
mikrokosmos yang ada di dalam, tak ada satu ruang pun yang hampa dari makna.
Mengingat hal inilah bahwa kita mesti
mengevaluasi ayat berikut:
“Tak
pernahkah pada manusia ada masa ketika dia belum menjadi sesuatu yang dapat
disebut?” (Qur’an 76:1)
Waktu yang di maksud adalah sekarang. Bukannya
waktu lampau dalam sejarah.
Benar, saat sekarang ini, ada dimensi-dimensi
besar dan mengagumkan, begitu besar dan luas, yang di tengah-tengah dimensi ini
manusia bahkan tak pantas untuk disebut!
Kecuali bagi mereka yang telah
meningkatkan kesadarannya dan naik ke alam yang lebih tinggi. Jadi, jika kita
tak inginmenjadi orang yang tak pantas disebut-sebut, yang tak memiliki arti di
jagat ini, maka kita harus menyelaraskan cara berpikir kita.
Mari kita mengingat apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW:
“Jangan
mengutuk waktu (dahr)6
karena waktu adalah Allah.”
Waktu (dahr)
adalah tak-hingga, saat tanpa batas!
Jika Allah berkeinginan untuk melihat ekspresi
Nama-namaNya, bagiNya cukup dengan berkehendak untuk menjadikannya mewujud.
“Sungguh,
jika Dia menghendaki sesuatu, PerintahNya adalah, ‘Jadilah’ (Kun), maka jadilah!” (Al-Qur’an 36:82)
Demikianlah, Apa yang pikiranNya akan sesuatu hal
merupakan perbuatan untuk mewujudkan hal tersebut. Sesaat ketika terpikirkan,
hal tersebut langsung terwujud.
Tidak
ada konsep yang disebut lampau atau masa datang bagi Allah!
Apapun makna yang Dia kehendaki untuk mewujud,
Dia membentuknya dengan bentuk yang tepat dan dalam dimensi yang tepat, dan mengalami
makna tersebut melalui bentuk itu.
Dimana?
Tidak di dalam, atau tanpaNya.
Emanasi bentuk, dan pengalaman dari makna
tertentu, terjadi melalui pewahyuan makna-makna yang melekat dari bentuk
tersebut.
Karenanya, makna-makna dan kondisi-kondisi yang
menjadi eksplisit melalui bentuk, adalah
yang mula-mula menyusun bentuk tersebut. Pengalaman bentuk dari maknanya
merupakan hasil dari lingkungan, kondisi-kondisi, dan peristiwa-peristiwa yang
menyebabkannya.
Semua ini diciptakan dalam Ilmunya Yang Maha Esa.
Sebenarnya,
apa yang nampak sebagai mahluk bergerak atau mahluk diam tidak lebih dari
nama-nama dalam perbendaharaan IlmuNya.
Keberadaan
kasatnya hanyalah dari sifat
hipotetikalnya, karena ‘diketahui’
dalam IlmuNya.
Dengan kata lain, keberadaan merupakan keyakinan
yang dianugrahkan kepada kita. Ilusi, bahwa kita berada di luar Allah, adalah
karena nama-nama atau label-label yang diberikan kepada kita.
Seperti halnya memberi label ‘x’ kepada data hipotetikal
dalam sebuah algoritma, ia tak memiliki keberadaan substansial mandiri. Namun
karena kita mengatakan ‘x’, kita mengasumsikan bahwa x ada, padahal
kenyataannya hanyalah gambaran hipotetikal.
Dalam
realitas nyata, hanya Allah yang ada.
Menurut siapa?
Menurut Dia yang melihat ciptaanNya melalui mata
mereka yang telah ‘memenangkan’ (fath)
hakikat sejatinya, dengan mencapai Stasiun
Tinggi Kewalian (Wilayat-I Kubra)
pada tingkat kesadaran Diri Yang Diridhai
(Nafs-I Mardhiyya).
Jadi, semua ‘hal’ yang kita kukuhkan sebagai ada,
tidak lebih dari bentuk-bentuk Nama-namaNya yang diciptakan dalam IlmuNya. Apapun tak dapat hadir secara mandiri.
Jika dievaluasi dari sisi Perbendaharaan Ilmu,
segala sesuatu yang dianggap ada, menurut indera kita, akan terbukti tak lebih
dari ‘bentuk-bentuk pengetahuan’.
Sederhananya, seluruh ciptaan adalah komposisi dari Nama-nama. Semua dimensi yang
beragam dan tak terhitung di dalam kosmos ini merupakan komposisi-komposisi
yang berbeda dari Nama-namaNya.
Mereka yang telah mencapai tingkatan Diri yang Murni (Nafs-I Safiyya) adalah mereka yang telah mampu menjebol
pengkondisian-pengkondisian oleh ‘bentuk-bentuk’ eksplisit pada makna-makna
implisit.
Mereka adalah orang-orang yang telah meninggalkan
keberadaan hipotetikal mereka dan bergerak menuju samudra ‘ketiadaan’ dan menjadi ‘segala
sesuatu’.
Dengan merealisasikan dan menjalani ‘ketiadaan’ mereka, mereka mencapai
tingkatan ‘Kesatuan Keberadaan’ (Wahid’ul Ahad), dan karenanya menjadi
segala sesuatu!
Sekarang mari mencoba memahami hal berikut:
“Masing-masing
akan berbuat menurut program ciptaannya (fitrah – disposisi kodrati).” (Al-Qur’an 17:84)
Artinya, untuk tujuan apapun, individu-individu
diciptakan untuk memenuhinya, sarana untuk mencapai tujuan ini akan dijadikan
mudah dan mereka akan bisa mencapainya. Keputusan-keputusan dan perbuatan, yang
diperlukan untuk pelaksanaan misi mereka, akan dibuat menarik dan menyenangkan,
sedemikian rupa sehingga akan mewujud secara alami dengan mudah.
“Rabb
mu (realitas
Nama-nama yang meliputi esensi anda) menciptakan
dan memilih sesuai kehendakNya, mereka tak mempunyai pilihan (atau suara) dalam perkara tersebut.” (Al-qur’an
28:68)
Dapat Anda lihat, jika Anda terbatasi
kondisi-kondisi, batasan-batasan, dan tidak memecahkan kepompong Anda, maka
tindakan untuk memecahkan realitas dunia-kepompong akan menjadi sulit bagi
Anda.
Mengingat hal ini, tindakan untuk menetas, atau
meninggalkan rahim, baik itu binatang yang melahirkan atau serangga yang
berusaha menetas dari kepompongnya, selalu merupakan proses yang sulit!
Karenanya,
tindakan untuk menjebol dunia-kepompong seseorang, dunia ‘materi’, untuk
mencapai Alam Malaikat (Malakut) yang tak berbatas bukanlah
proses yang mudah…
Seperti halnya peralihan dari satu dimensi ke
dimensi lainnya, transisi ini adalah sebuah ‘kebangkitan’ (ba’th),
yakni sebuah kelahiran baru, awal baru, yang ‘pertama’ setelah yang ‘terakhir’
…
Namun bagi sebagian orang, proses ini dibuat
relatif mudah atau menarik … karena Allah berkehendak demikian …
Sebuah struktur yang tak terhitung dan tak
berbatas! Lapisan-lapisan ‘makna’ di luar pemahaman! Sebuah ‘nama’ yang
menunjuk kepada keberadaanNya, namun tidak terkondisikan atau bahkan tak
terdefinisikan!
Anda, saya, dan itu … Kita semua ada sebagai
ekspresi yang berbeda dari komposisi yang berbeda dari Nama-namaNya … Namun
untuk mengalami ‘keberadaan’ sebagai keseluruhan, tanpa memecah-mecahnya,
membutuhkan pelepasan dari ‘Anda’ dan ‘saya’nya.
‘Diri’ adalah seperti tirai di antara pecinta dan
yang dicintai. Ketika pecinta melenyapkan dirinya dalam yang dicintai, tirai
itu akan diangkat, ‘dualitas’ akan lenyap, dan hanya cinta yang tersisa.
Ketika
seseorang ‘menginginkan’, maka ia ingin memiliki. Namun
ketika seseorang ‘mencintai’ ia akan
kehilangan ‘diri’nya dalam yang dicintainya. Ia meninggalkan identitasnya sama sekali dan
menjadi lenyap dalam yang dicintainya. Pengalaman mikro dari KESATUAN ini kemudian beriak ke dalam
kosmos, berubah bentuk menjadi pengalaman makro dari Kesatuan, hingga kesadaran, persepsi dan pengalaman ‘individual’
sama sekali tak berlaku lagi.
Biarkan diri Anda meninggalkan ‘Anda’nya dan
biarkan saya meninggalkan ‘saya’nya sehingga kita bisa bertemu dalam
‘ketiadaan’, dan jadilah!
Menurut sebuah narasi:
Apa
yang bermula dari ‘titik’ akan berakhir pada ‘alif’.
Artinya, segala sesuatu bermula dari titik ‘Keesaan’ (Ahadiyyah) dan berakhir pada alif
‘Kesatuan’ (Wahidiyyah). Keseluruhan keberadaan hanyalah satu refleksi, yang
dalam sufisme disebut sebagai ‘Satu Teofani’ atau Penyingkapan-Diri yang Agung dari Allah (Tajalli Wahid).
Meburut narasi lainnya:
Apa
yang bermula dari ‘titik’ akan berakhir pada ‘sin8’.
Dimana sin
menunjukkan ‘manusia’ dalam bahasa Arab, dan titiknya adalah yang ‘Esa’ (Ahad).
Al-Qur’an dimulai dengan huruf ‘ba’9 dari ‘basmalah’10, atau lebih
tepatnya, titik di bawah ba. Ketika
titik ini diperpanjang, ia menjadi alif!
Seperti halnya jika ingin membuat sebuah garis,
seseorang akan memulai pada sebuah ‘titik’ yang kemudian menjadi sumber, dari
mana garisnya terbentuk. ‘Ba’ dari ‘basmalah’ adalah titik sumber dari semua
huruf dalam Al-Qur’an. Titiknya tak pernah berubah. Setiap hurup merupakan
serangkaian titik-titik yang saling berdampingan membentuk garis-garis.
Sejatinya, mereka adalah pengulangan dari titik yang sama!
Hazrat Ali mengatakan: “Aku adalah titik di bawah ba”,
mungkin berarti, “Aku bukan apa-apa,
namun aku adalah semuanya… Aku adalah sang ‘alif”.
Surat terakhir dari Al-Qur’an bernama Nas, yang berarti manusia. Seperti telah dikatakan, huruf sin mewakili manusia
tunggal. Karenanya, surat ‘Yasin’
berarti ‘Wahai manusia’.
Pada akhirnya, yang kita dapat adalah sebuah
setengah-lingkaran, berangkat dari ‘titik’
kepada ‘manusia’, dan perjalanan
manusia kembali ke titik tersebut.
Menyatu dengan Allah, dalam esensi, menjadi
realitas, dalam manusia, dengan ilmu
mengenai ‘titik’.
Akankah
ilmu mengenai titik membuat manusia (nas)
menjadi usang?
Karena, dari sudut realitas aktualnya, manusia
tidak memiliki keberadaan
independen; tak masuk akal membicarakan kehilangan sesuatu yang tidak pernah
ada sejak awalnya.
Telah disebutkan di atas bahwa Dia mewujud sebagai ciptaan, ‘maknanya’ Dia
ingin melihat.
Kita diberitahu bahwa makna ini semuanya 99, walaupun angka ini hanyalah merujuk
pada ‘contoh’ bukannya keseluruhan. Seperti halnya kelima indera kita memberi kita
pengertian yang dalam kedalam sifat-sifat yang tak terhitung mengenai otak, ke
99 Nama memberi kita ide tentang makna yang tak-hingga yang tercakup oleh yang Esa (Ahad). Ternyata, keberadaan tak-hingga dan tak terbatas akan
memiliki makna yang tak-hingga dan takterbatas pula.
Mengingat kebenaran tak berbatas dan tak ada
akhirnya ini, betapa ruginya jika kita hanya mengurung diri dalam dunia
kepompong kecil dengan kelima indera kita dan terhanyut dalam
keinginan-keinginan tubuh lokal yang sementara.
“Wahai
manusia! Sementara Aku menciptakan kalian untuk diriku, dengan apa kalian
menyibukkan diri? Untuk apa kalian menghabiskan waktu kalian?”
Kepada siapa ayat ini ditujukan?
Kepada mereka yang memiliki kapasitas untuk
mendengar… Bukannya mereka yang ditegur dalam:
“Mereka
bagai binatang ternak (an’am), bahkan kurang sadar
dengan jalan yang benar; demikianlah mereka, mereka yang [benar-benar] tak peduli!” (Al-Qur’an 7:179)
Untuk menjadi cermin yang Maha Esa yang menjadi
sumber keberadaan, esensi, asal kita, atau, agar yang Maha Esa memantul pada
cermin kita, mula-mula kita harus dibersihkan dari pencemaran-pencemaran dan
pengkondisian-pengkondisian dari ilusi keberadaan manusiawi.
Sebagaimana Nabi Isa berkata:
“Kalian
tidak berpikir layaknya pikiran Tuhan melainkan pikiran-pikiran manusia.”11
Jika kita melihat esensi kita dari perspektif
manusia ‘material’, dan menjalani hidup kita seperti gunung es di samudera,
maka tentunya kita tak kan dapat merefleksikan Dia sebagaimana mestinya.
Dunia dan segala sesuatu yang ada di dalamnya
adalah bagai permainan dan masa-lalu bagi manusia…
Seluruh keberadaan dimaksudkan, dirancang dan
dibentuk untuk penglihatan Realitas
Muhammad (Haqiqat-I Muhammadiyyah)
dan Aqal Pertama (Aql-I Awwal).
Jika Anda diciptakan untuk menjadi salah satu
‘pengamat’ makna-makna, maka melepaskan diri dari kelima indera dan emosi serta
pengkondisian manusiawi akan menjadi mudah bagi Anda. Proses pembersihan cermin
Anda dari emosi, pikiran, kondisi-kondisi, dan hasrat-hasrat jasadi dan
kesadaran yang dapat mengaburkan Pencerminan, dan proses pencapaian hakikat diri
Anda akan menjadi mudah bagi Anda.
Namun demikian, seperti halnya sebagian biji
gandum menjadi terigu dan roti hingga akhirnya terhidang di meja makan; banyak
yang lainnya tercecer di ladang dan menjadi tak berarti sama sekali.
Mencintai Nabi
Muhammad SAW adalah dengan beramal seperti Beliau, berusaha mencapai ilmu
dan kesadarannya, melenyapkan diri di dalam dirinya.
Seseorang
tak kan dapat merasakan madu dari botolnya saja.
Mencintai
adalah menjadi orang yang dicintai.
Pada akhirnya segala sesuatu akan memenuhi tujuan
kodratnya dan kembali kepada esensinya, dan karenanya mengaktualisasikan pengabdian
bawaannya kepada Allah.
“Semua
binatang dan benda tak bergerak mengabdi kepada Allah.”
“Manusia
dan Jin diciptakan untuk mengabdi kepada Allah.”
Semua ini mengandung satu arti: untuk apapun Anda
diciptakan, anda akan melewatinya dengan cara apapun. Kehidupan, kondisi,
ketrampilan yang diberikan kepada Anda, semuanya pada akhirnya akan mengarahkan
Anda untuk melakukan pengabdian bawaan, yakni mewujudkan esensi sejati Anda,
apapun itu adanya.
Tujuan akhir kita mungkin menjadi mabuk dan
limbung dalam Alam Perbuatan (Af’al), atau bebas berenang dalam alam Nama-nama tak-hinggaNya (Asma), atau memanifestasikan dan melihat
sifat-sifat DzatNya, atau merealisasikan
ketiadaan kita dan tak menjadi
apapun dalam ketakhinggaanNya, Keberadaan
tak-berbatas.
Bagaimanapun
cara seseorang menjalani hidupnya, begitu pula cara ia akan menjalani kematiannya,
dan bagaimanapun cara ia mati, begitu pula cara ia akan hidup di Akhirat.
Frekuensi otak kita sesaat sebelum titik kematian
akan menjadi bit informasi terakhir yang diunggah ke ruh. Karenanya, ketika ruh
terlepas dari otak, ia akan melanjutkan fungsinya pada frekuensi ketika
terakhir diunggah.
Oleh karena itu, jika pada saat kematian, tingkat
kesadaran kita kebetulan bekerja pada frequensi rendah, terkondisikan oleh
kelima indera kita, dan terkurung oleh hasrat-hasrat duniawi dan jasadi, maka
kita akan menjalani konsekuensi keadaan ini di Akhirat.
Jika sebaliknya, kesadaran kita kebetulan bergetar
pada frekuensi tinggi, terbebas dari pengkondisian indera, kita akan mencapai
tingkatan Para Pelihat Kebenaran, memandangi dan melihat karunia tak-hingga
akan Nama-namaNya yang mengekspresikan dirinya dengan sangat unik dan luar
biasa pada ciptaan. Yaitu, tingkatan ‘mencintai
ciptaan, karena Sang Pencipta’!
Mereka adalah orang-orang yang oleh masyarakat
umum dikatakan: “orang dan kehidupan di tataran lain … Ia berjalan, duduk,
makan dan minum seperti kita, namun ia tak seperti kita! Siapa yang tahu dimana
mereka kini?”
Ia akan berenang di samudera makna-makna dalam
dimensi kesadaran… Ia terkagum-kagum dalam dimensi Nama-nama Allah.
Sebagian dari mereka yang mencapai keadaan ini
menjadi terhijab dari apa yang terjadi di alam jasad, sementara sebagian yang
lain menjalani kedua dimensi secara bersamaan. Keadaan ini biasa disebut
sebagai Jiwa yang Tenang (Nafs-I mutmainna) dan Jiwa yang Puas (Nafs-I Radhiyya) dan ini merupakan keadaan yang dicapai seseorang
setelah mengetahui realitas jiwanya.
Kesadaran akan takjub di tengah-tengah makna
dalam alam Refleksi Nama-nama (Tajalli Asma) mengetahui bahwa mereka
sesungguhnya adalah makna-makna dari jiwanya sendiri.
Kemudian, jika kesadaran dapat naik ke tingkatan
berikutnya yang disebut Jiwa yang Diridhai (Nafs-i
Mardhiyya), ia akan mencapai titik aktualisasi sifat-sifat dzatnya… Ini
adalah titik peniadaan diri di dalamNya, dimana gunung es telah meleleh, dan ia
yang melihat makna-makna di dalam dirinya telah menjadi dirinya sendiri.
Kebenarannya: manifestasi dari makna-makna ini
pada seseorang merupakan masalah takdir.
Yang paling penting adalah esensi tipikal (a’tan thabita);
dengan kata lain, makna-makna diciptakan agar teraktualisasi. Tahap selanjutnya
adalah keterampilan dan kemampuan yang diberikan padanya agar
bisa memenuhi aktualisasi ini.
Kemudian perjumpaan dengan sang ‘penyebab’ akan
terjadi, yakni subyek yang memberikan perangkat untuk mengaktualisasikan pola
dasarnya. Ketika individu menyerahkan keberasaannya kepada penyebab ini, dan
pada akhirnya meniadakan dirinya di dalam penyebab dan menjadi bukan apa-apa, esensi tipikalnya akan
mewujud dengan sempurna.
Dari
titik menjadi manusia…
Dari
manusia menjadi titik…
Seseorang yang telah meleburkan batas-batas
antara Pra-eternal dan Pasca-eternal… Seseorang yang, dengan
mengaktualisasikan realitas jiwanya, telah menjadi bukan apa-apa dalam kodrat
jiwanya yang tak-berbatas dan tak-hingga!
Ketika kami menyebut ketakhinggaan, maksud kami
adalah Alam Nama-nama, karena sama
sekali mustahil untuk merujuk kepada sifat Dzat AbsolutNya.
Dia tak-hingga dari sudut makna-maknaNya. Bahkan ketakhinggaanNya adalah sebuah ‘sifat’
(atribut).
Seseorang
tak kan dapat memikirkan Dzat AbsokutNya!
Bahkan sebenarnya KeesaanNya (Ahadiyyah)
adalah sifat dari Keberadaan AbsolutNya.
Perhatikan
bahwa ‘Allah’ adalah ‘nama’ dari keberadaan yang sifat-sifatnya telah kami
terangkan.
Seperti halnya ‘Hulusi’ adalah nama yang diberikan kepada saya, nama yang merujuk
kepada keberadaan saya, ‘Allah’ juga
adalah nama yang kita gunakan untuk merujuk
kepada Dzat AbsolutNya. Nama hanyalah tanda yang digunakan untuk menunjuk
sesuatu.
Sejauh mana nama ‘Hulusi’ mengungkapkan atribut dan sifat yang saya miliki, baik
saya manifestasikan ataupun tidak, adalah sejauh mana nama ‘Allah’ dapat menjelaskan Keberadaan
AgungNya.
Keberadaan
Agung yang melihat DiriNya pada cermin nama ‘Allah’!
Idealnya,
Dia melihat DiriNya pada cermin nama ‘Allah’ melalui manusia.
Melalui definisi berdasarkan atribut-atribut, Dzat Absolut berada diluar pemahaman. Ia yang
berupaya mendefinisikan Dzat Absolut adalah seorang yang jahil, dan secara tak
langsung mengakui dirinya sebagai anggota ‘para peniru’. Karena orang yang
telah tercerahkan tak ragu lagi akan mengetahui bahwa dalam menyebut Dzat
Absolut, seseorang hanya dapat sampai kepada sifat-sifatNya.
Tak seorang pun memiliki kebebasan untuk
berbicara atau mendefinisikan tentang ‘ketiadaan’,
karena ketiadaan adalah tempat dimana semua renungan berhenti, dimana
pikiran tak bekerja lagi, dimana kehidupan, indera, kata-kata tak berlaku lagi!
“Sebelum
Dia menciptakan langit dan bumi, Dia ada di Ama,
potensial absolut. Dan Dia begitu, kini dan selamanya.”
Tempat ketiadaan adalah kegelapan absolut
sedemikian sehingga segala sesuatu yang seseorang ketahui, pikirkan, dan
bayangkan sama sekali menjadi tak berlaku.
Mari berharap bahwa kita adalah mereka, atau setidaknya di antara mereka, yang telah Dia
pilih untuk DiriNya.
Namun di luar konsepsi ruang dan waktu, segala
sesuatu telah dijalani dan selesai!
Maka apa yang perlu kita lakukan adalah
menapaki jalan yang merefleksikan disposisi dan karakter kodrat kita, jalan
yang kita rasakan mudah untuk melaluinya, bukannya yang memberatkan kodrat kita
dan membuat hidup kita menjadi sukar.
“Allah
menciptakan Adam dalam citraNya sendiri.”
Apa artinya ini? …
Keberadaan manusia berselaras dengan keberadaan
agung. Manusia juga memiliki esensi. Manusia juga memiliki atribut, sifat-sifat
dan makna-makna yang menjadi bagian dari esensinya, dan memiliki tempat dimana
ia memanifestasikan sifat-sifatnya, yakni, tubuhnya.
Seperti halnya tentang Keberadaan Absolut, Esensi (Dzat), Sifat-sifat, Nama-nama (asma) dan Perbuatan (af’al),
kita juga dapat membicarakan mengenai esensi,
sifat, nama-nama dan perbuatan manusia. Tentu saja, bahwa esensi manusia
pada puncaknya diturunkan dari Esensi Absolut, karena manusia tak memiliki
esensi yang terpisah dari Esensi Absout dari yang Maha Esa. Keberadaan manusia
bergantung pada keberadaan Esensi Absolut.
Sifat-sifat manusia
dapat diringkas sebagai berikut: kehidupan,
ilmu, keinginan, kekuasaan, kemampuan berbicara, mendengar dan melihat. Dengan
kata lain, manusia itu Hayy (Hidup),
Alim (Mengetahui), Murid (Berkehendak), Qadir (Berkuasa), Mutakallim (Berbicara), Sami
(Mendengar) dan Bashir
(Mengevaluasi). Ini karena keberadaan
manusia bergantung pada keberadaanNya, dan karenanya kepada sifat-sifatNya.
Karenanya, Allah telah menciptakan manusia dalam
citraNya sendiri, yakni dalam citra Nama-nama dan Sifat-sifatNya. Tak ada
keberadaan lain yang dengan citranya Dia dapat menciptakan manusia. Walau
bagaimanapu, Dia meliputi seluruh keberadaan; tak ada apa-apa selain Dia!
Setiap individu
merupakan ekspresi unik dari komposisi unik nama-namanya. Sebab itulah, ada keragaman
dalam kesatuan. Walaupun pada hakikatnya kita semua adalah satu dan sama,
manifestasi keluarnya adalah beragam. Sebagai perumpamaannya, jika makna-makna
ke dalam dari yang Esa terlokalisasikan ke luar dan menjadi padat pada
titik-titik yang terhitung jumlahnya, kita mendapatkan apa yang nampak sebagai
kosmos.
Setiap titik lokal
ini, secara hakikat dan asalnya, merupakan komposisi dari nama-nama agung, diperbesar
dan dimanifestasikan pada skala besar. Jadi, semua galaksi dan konstelasinya,
dengan semua bintang, sinarnya dan lain-lainnya, hanyalah komposisi yang
berbeda dari nama-nama agung. Mereka semua adalah materialisasi dari
sifat-sifat komposisional yang merupakan nama-nama agung.
Keberadaan Absolut
berkehendak untuk melihat makna-maknaNya, maka mengungkapkan DiriNya melalui
Nama-namaNya, yang pada akhirnya membentuk ‘alam bentuk-bentuk’.
Untuk menggambarkan
rancangan agung ini, kita dapat umpamakan sebagai lokalisasi Nama-nama agung
dan makna-makna yang bertransformasi menjadi sinar-sinar kosmis atau
kekuatan-kekuatan malaikatis, yang pada akhirnya membentuk dunia, seperti yang
kita kenal.
Sebelum suatu
‘bentuk’ benar-benar mewujud, esensi tipikalnya didefinisikan, dan berdasarkan
ini, kemampuan potensi dan ketrampilannya dilimpahkan.
Dari sudut pandang
Keberadaan Absolut, bentuk-bentuk sifatnya tetap, karena bentuk-bentuk pada
hakikatnya terbentuk dari komposisi-komposisi Nama-nama dan makna-maknaNya yang
tak dapat berubah.
Namun di sini, kita
mesti hati-hati untuk menghindari konsep yang biasanya keliru. Yakni berpikiran
bahwa Keberadaan Absolut sebagai perancang atau pencipta yang ‘terpisah’ dari,
atau berada di luar, alam bentuk-bentuk.
Ingatlah selalu
bahwa kekuatan tak berbatas tak-hingga meliputi seluruh keberadaan. Tak ada
yang lain selain keberadaan ini. Kata-kata seperti ‘Dia’ atau ‘milikNya’
digunakan di sini hanyalah karena keterbatasan bahasa. Allah tak dapat
didefinisikan dengan kata-kata.
Keberadaan relatif,
yang kita rujuk sebagai ‘Aku’, pada
puncaknya merupakan proyeksi otak kita terhadap komposisi-komposisi yang
dibentuk oleh makna-maknaNya.
Proyeksi ini
kemudian menggunakan kecakapan dan kemampuan, yang diberikan padanya, untuk
memenuhi misinya atau mencapai tujuan sesuai rancangannya.
Tujuan akhir kita
terdefinisikan pada titik kematian dimana otak kita berhenti berfungsi, dan peralihan
akan terjadi dari dimensi dan tubuh ini ke dimensi lain.
Cara hidup seseorang
mendefinisikan bagaimana ia akan mati. Dan cara hidup seseorang didefinisikan
dalam esensi tipikalnya, yang tercermin oleh kecakapan dan kemampuan bawaan
lahir (disposisi kodrati kita).
Komposisi unik kita
terbuat dari makna-makna Nama-namanya.
Kecapakan khusus dan
kemampuan, yang meliputi komposisi kita, membimbing dan mengikat kita pada
perbuatan tertentu, dan perbuatan-perbuatan ini kemudian membentuk dan
merancang ruh kita dan menjadi ‘teguh’ pada titik kematian, yang dengannya kita
melanjutkan kehidupan akhirat kita.
Karenanya,
gaya hidup, perbuatan, kepribadian seseorang akan dibentuk dan terdefinisi oleh
dan menurut rancangan yang hendap dicapai, yakni makna yang ditakdirkan untuk
mewujud. [Yang mulanya sebagai esensi tipikal tumbuh dan
berkembang, sepanjang kehidupan seseorang, hingga akhirnya menjadi teguh pada
titik kematian.]
Setiap peristiwa,
yang dijalani pada setiap tingkat keberadaan, merupakan ekspresi dari
makna-makna yang Dia ingin lihat dalam DiriNya Sendiri.
Setiap unit
keberadaan akan mengikuti persyaratan keberadaannya. Dengan mewujudkan
komposisi uniknya, ia melaksanakan tugasnya sebagai hamba Allah.
Jadi, makna-makna
yang membentuk manusia adalah makna-makna yang Allah ingin lihat dalam DiriNya.
Karenanya, Allah itu Al-Ghani (Yang tal dapat diberi label dan dibatasi oleh
manifestasi Nama-namaNya, karena dia itu Maha Besar [Akbar] dan diluar
jangkauan konsep-konsep) dan di luar bentuk atau kebutuhan apa pun. Karenanya,
benar-benar tidak absah untuk memikirkan
Allah sebagai ‘makna ini dalam bentuk itu’, atau membatasinya dengan mengatakan
‘Allah adalah seperti ini’ atau ‘Allah sebesar ini’. Layaknya menilai
seorang seniman hanya dari satu karyanya yang ribuan jumlahnya, penilaian
seperti itu tentunya tak dapat diterima!
Jika kita dapat
memahami semua hal yang telah dibahas di sini, maka menjadi nyata bahwa kita
harus melakukan segala upaya sebaik mungkin untuk mencapai tujuan kita.
Dikatakan bahwa:
“Allah
tak kan mengijinkan hambanya berdo’a yang tak hendak Dia kabulkan.”
“Jika
Dia telah mengijinkan hambaNya untuk melakukan do’a tertentu, maka Dia sudah
pasti akan menjawab do’anya.”
Jika Dia telah menganugrahi
kita kapasitas untuk memahami kebenaran-kebenaran ini, maka menjadi sangat
munkin bahwa kita akan melewati peristiwa-peristiwa yang akan mewujudkan
makna-makna ini dalam diri kita.
Namun pertama-tama,
kita mesti menyucikan jiwa kita, membersihkan diri kita dari pengkondisian
kelima indera kita dan membuat lompatan ke dimensi kesadaran yang lebih tinggi.
Berdoa, yakni proses
mengarahkan gelombang pikiran kita kepada tujuan ini, merupakan sarana kita
yang paling ampuh!
Dan jika memenuhi
tujuan kita telah ditakdirkan, maka
kita tidak akan mengalami kesukaran yang banyak.
Namun apa arti sebenarnya
dari takdir atau ketetapan agung ini?
Catatan Kaki:
5
Uluhiyya adalah keseluruhan dari
manifestasi Nama-nama Allah di semua dimensi.
6
“Dahr” merujuk pada waktu abadi sebagai lawan dari waktu pada dimensi fisik
kita.
7
Alif adalah huruf pertama dalam alfabet
arab, dan mewakili kesatuan yang digambarkan dengan goresan tunggal.
8
Sin adalah huruf ke-12 dari alfabet Arab. Sebagai kata, ‘sin’ sinonim dengan
‘orang’ atau ‘manusia.’
9
‘Ba’ adalah huruf ke-dua dari alfabet Arab, dan huruf pertama dalam Al-Qur’an.
Ia menyimpan nilai simbolik dalam perkataan yang diserukan Hazrat Ali “Aku
adalah titik di bawah ba”, titik yang merujuk kepada pengalaman individu
sebagai hasil dari realitas intrinsik.
10
“Dahr” merujuk pada waktu abadi sebagai lawan dari waktu pada dimensi fisik
kita.
11
Matius 16:23
Tidak ada komentar:
Posting Komentar