Rabu, 14 Mei 2014

Yang Maha Melihat - 5



PENGLIHATAN DZAT

Sumber:           The Observing One  Karya: Ahmed Hulusi
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa


“Tak pernahkah pada manusia ada masa ketika dia belum menjadi sesuatu yang dapat disebut?” (Qur’an 76:1)

“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi dan Aku ingin dikenali, maka aku ciptakan langit dan bumi. Aku ciptakan Adam sehingga Aku bisa dikenali.”

“Allah ada dan tak sesuatupun ada besertanya. Dan Dia demikian kini dan selamanya.”

“Allah menciptakan Adam dalam citraNya, atau, dalam citra Ar-Rahman (potensial quantum asal mulanya keberadaan segala sesuatu).”

“Dimana Allah sebelum Dia menciptakan langit dan bumi? Dia ada dalam potensi Absolut (Ama) yang atas dan bawahnya tak ada udara.”

Apa yang disampaikan pesan bersandi ini?

Baik mengenai ayat Al-Qur’an ataupun ucapan Nabi Muhammad SAW, mengevaluasi kebenaran-kebenaran abadi ini, berdasarkan pengetahuan dan pemahaman kita masa kini, akan memberi kita penglihatan batin yang berharga dan pencerahan.

Namun, persyaratan utama untuk pencerahan demikian adalah dengan menghilangkan tirai tebal dari ke 5 indera. Karena tanpa membebaskan diri kita dari pengkondisian tirai penutup ini beserta dunia ilusinya, kita tak kan dapat melihat kebenaran sejati.

Namun demikian, realitas seperti-kepompong, yang dijalin oleh persepsi indera kita, atau kelima indera kita, bukannya tanpa tujuan. Ia memberi fungsi penting pada pertumbuhan primer seseorang. Bagai rahim seorang ibu, ia membantu dalam perkembangan pokok dengan membina dan mempersiapkan kita bagi dunia nyata. Karenanya, ia tidak dirancang untukmenjadi tempat tinggal abadi, melainkan sebagai kulit pelindung selama perkembangan kita. Seperti halnya bayi matang yang mendorong dirinya keluar rahim , atau ulat matang yang keluar dari kepompongnya, kesadaran yang matang juga mesti menetas dari realitas seperti-kepompong, agar tidak mati tercekik atau lenyap begitu saja.

Tubuh biologis kita dan kehidupan dunia ini layaknya kepompong kita, dirancang khusus bagi kita untuk mengembangkan dan memperkaya ketrampilan Akhirat kita sehingga kita dapat bertahan dan berhasil di akhirat.

Jika kesadaran kita gagal untuk menjebol kepompong kelima indera ini, ia tak kan pernah mencapai kebenaran tentang dirinya. Sebagai hasilnya, kita kan selalu terkena rangsangan persepsi indera kita yang kaku, yakni rangsangan psikologis dan kimia dari tubuh kita akan membentuk realitas kita, yang pada akhirnya akan mencekik kita.

Kelima indera mungkin memberikan sepersejuta kapasitas kinerja otak. Ia memberi kita contoh (versi percobaan) mengenai spesifikasi dan sifat tak-hingga dari otak.
Otak manusia sama-sama menggunakan proses perkembangan yang serupa dengan bentuk-bentuk kehidupan lain di planet kita, dan jumlahnya tak terhitung. Yakni bahwa, otak dibentuk oleh molekul, yang dibentuk oleh atom, yang tidak lebih dari kumpulan-kumpulan energi.

Ketika saya mengatakan energi, saya tak merujuk pada bentuk energi statik ataupun energi kinetik yang kita pelajari di sekolah. Yang saya maksud adalah energi yang menjadi sumber kehidupan dari seluruh ciptaan.

Struktur genetik dari molekul DNA dan RNA, yang terkandung dalam setiap sel dari tubuh kita, akan mengalami mutasi jika terkena radiasi kosmik tertentu. Sains moderen dapat mengubah dan memanipulasi konfigurasi genetik di laboratorium, memberikan gelombang dan radiasi tertentu pada molekul-molekulnya sehingga menghasilkan spesies lain.

Cukup menarik bahwa sinar-X juga memberikan dampak yang sama pada neuron dalam otak kita.

Kesadaran kita adalah sang ‘aku’ yang berkembang pada pangkalan-data dari data genetik dan astrologi kita, tersintesa dengan pengkondisian lingkungan. Pada kenyataannya, kesadaran kita bukan milik dari tubuh fisik ini; ia merupakan produk-samping dari aktivitas analisis dan sintesis menyeluruh yang luar biasa dari otak. Ini berkaitan dengan jiwa!

Walaupun jagat sudah penuh dengan bentuk-bentuk kehidupan yang tak terhingga, setiap bentuknya hanya dikenali oleh penghuni dari dimensi yang sama, dan yang memiliki kapasitas untuk merasakan dan mengevaluasinya.

Maksudnya; pertama-tama terbentuk persepsi pengindra, kemudian dunia material tercerap. Atau, pertama-tama penganalisa radial terbentuk, lalu kemudian alam radial dicerap dan dievaluasi. Ekspresi dan makna-makna mereka bergantung pada bentuk-bentuk kehidupan yang mempersepsikan dan menganalisa panjang gelombang mereka.

Sekarang, mari mengingat kebenaran penting berikut:

Tak ada keberadaan selain Uluhiyya5 yang tak-hingga dan tak terbatas yang bernama ‘ALLAH’.

Karena tidak ada keterbatasan pada Allah, maka mustahil untuk memikirkan hal apapun ‘selain’ KeberadaanNya.

Dalam satu aspek, Keberadaan tak berbatas tak-hingga ini adalah Al-Jami, mengumpulkan semua ekspresi kepada Dia. Dalam aspek lain, Keberadaan ini adalah Al-Muhit, mencakup dan meliputi seluruh keberadaan. Karenanya, ekspresi, yang terkandung di dalam DiriNya, dilihat dalam IlmuNya, dan lagi-lagi dengan DiriNya.

Tidak ada keberadaan lainnya dalam KeberadaanNya, karena tak pernah ada yang timbul menjadi ada kecuali KeberadaanNya.

“Dia tak beranak.
Tidak pula Dia diperanakkan.” (Al-Qur’an 112:3)

Tak ada keberadaan lain selain keberadaanNya yang dapat terlintas dalam pikiran.
“Hanya Allah yang ada, dan tiada yang lain besertaNya. Dia demikian, kini dan selamanya.”

‘Kini’ adalah ‘sekarang’ yang disebutkan dalam ayat ini. Konsep waktu, material, ruang, dll., hanya berlaku menurut kelima indera. Namun dalam dimensi ini, waktu konsisten untuk ‘sekarang’. Dengan kata lain, waktu itu tak ada, di luar dimensi persepsi kita.

Jika saja kita dapat melewati rintangan mata fisik kita dan mulai mendasarkan hidup kita pada kebenaran ilmiah dan spiritual… Mungkin saja, kita akan menyadari bahwa dunia ini terdiri dari bentuk-bentuk kehidupan yang tak terhitung, berkisar antara panjang gelombang sepermilyar sentimeter hingga kilometeran, masing-masing dengan ekspresi dan tanda yang unik. Dunia beranimasi ini adalah Alam Perbuatan (Af’al).

Setiap lapisan-lapisan ekspresi mengandung makna khusus yang dapat dipersepsi oleh ekspresi tertentu lainnya. Lapisan-lapisan ini kemudian diberi label sebagai ‘gaib’ dan karenanya tetap tersembunyi bagi mereka yang tak dapat melihatnya. Namun, ini bukan gaib absolut’ hanya gaib relatif.

Jika kita menjadi sadar akan hakikat diri sendiri dan bisa melepaskan diri dari batasan kelima indera, kita dapat membuka dan melihat kegaiban-kegaiban ini.

Namun penglihatan ini bukan bukan penglihatan kita; ini merupakan penglihatan dari Keberadaan Absolut.

Yang Maha Melihat!

Penglihatan sekarang, karena tidak ada waktu selain saat sekarang ini.

Hanya mereka dengan kesadaran murni yang dapat menjalani realitas ini.

“Dia berkehendak untuk melihat ekspresi-ekspresi tak-hingga yang terkandung dalam DiriNya, karenanya Dia membuat ciptaanNya sedemikian rupa sehingga mereka mengandung ekspresi-ekspresiNya.”
Dimana?

Di dalam ImuNya yang tak-hingga!

Penting untuk memiliki pemahaman yang benar terhadap pernyataan ini dan makna-maknanya. Ciptaan adalah bentuk ekspresiNya yang Dia hendak lihat.

Ketika saya mengatakan ‘bentuk’, bukannya bentuk fisik, melainkan bentuk ‘makna-makna’, karena Dia adalah Al-Musawwir, Maha Pembentuk dari bentuk-bentuk tak-hingga yang diturunkan dari alam implisit makna-makna.

Ketika merenungkan hal ini, kita tak boleh membiarkan pikiran kita membayangkan bumi dan milyaran orang yang tinggal di dalamnya.

Satu galaksi saja di jagat kita bisa mengandung hingga jutaan matahari, belum lagi milyaran galaksi lain yang bahkan belum ditemukan. Apakah kita memikirkan tentang makrokosmos di luar sana, ataupun mikrokosmos yang ada di dalam, tak ada satu ruang pun yang hampa dari makna.

Mengingat hal inilah bahwa kita mesti mengevaluasi ayat berikut:

“Tak pernahkah pada manusia ada masa ketika dia belum menjadi sesuatu yang dapat disebut?” (Qur’an 76:1)

Waktu yang di maksud adalah sekarang. Bukannya waktu lampau dalam sejarah.

Benar, saat sekarang ini, ada dimensi-dimensi besar dan mengagumkan, begitu besar dan luas, yang di tengah-tengah dimensi ini manusia bahkan tak pantas untuk disebut! 

Kecuali bagi mereka yang telah meningkatkan kesadarannya dan naik ke alam yang lebih tinggi. Jadi, jika kita tak inginmenjadi orang yang tak pantas disebut-sebut, yang tak memiliki arti di jagat ini, maka kita harus menyelaraskan cara berpikir kita.

Mari kita mengingat apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW:

“Jangan mengutuk waktu (dahr)6 karena waktu adalah Allah.”

Waktu (dahr) adalah tak-hingga, saat tanpa batas!

Jika Allah berkeinginan untuk melihat ekspresi Nama-namaNya, bagiNya cukup dengan berkehendak untuk menjadikannya mewujud.

“Sungguh, jika Dia menghendaki sesuatu, PerintahNya adalah, ‘Jadilah’ (Kun), maka jadilah!” (Al-Qur’an 36:82)

Demikianlah, Apa yang pikiranNya akan sesuatu hal merupakan perbuatan untuk mewujudkan hal tersebut. Sesaat ketika terpikirkan, hal tersebut langsung terwujud.

Tidak ada konsep yang disebut lampau atau masa datang bagi Allah!

Apapun makna yang Dia kehendaki untuk mewujud, Dia membentuknya dengan bentuk yang tepat dan dalam dimensi yang tepat, dan mengalami makna tersebut melalui bentuk itu.

Dimana?

Tidak di dalam, atau tanpaNya.

Emanasi bentuk, dan pengalaman dari makna tertentu, terjadi melalui pewahyuan makna-makna yang melekat dari bentuk tersebut.

Karenanya, makna-makna dan kondisi-kondisi yang menjadi eksplisit melalui bentuk, adalah  yang mula-mula menyusun bentuk tersebut. Pengalaman bentuk dari maknanya merupakan hasil dari lingkungan, kondisi-kondisi, dan peristiwa-peristiwa yang menyebabkannya.

Semua ini diciptakan dalam Ilmunya Yang Maha Esa.

Sebenarnya, apa yang nampak sebagai mahluk bergerak atau mahluk diam tidak lebih dari nama-nama dalam perbendaharaan IlmuNya.

Keberadaan kasatnya hanyalah dari sifat hipotetikalnya, karena ‘diketahui’ dalam IlmuNya.

Dengan kata lain, keberadaan merupakan keyakinan yang dianugrahkan kepada kita. Ilusi, bahwa kita berada di luar Allah, adalah karena nama-nama atau label-label yang diberikan kepada kita.

Seperti halnya memberi label ‘x’ kepada data hipotetikal dalam sebuah algoritma, ia tak memiliki keberadaan substansial mandiri. Namun karena kita mengatakan ‘x’, kita mengasumsikan bahwa x ada, padahal kenyataannya hanyalah gambaran hipotetikal.

Dalam realitas nyata, hanya Allah yang ada.

Menurut siapa?

Menurut Dia yang melihat ciptaanNya melalui mata mereka yang telah ‘memenangkan’ (fath) hakikat sejatinya, dengan mencapai Stasiun Tinggi Kewalian (Wilayat-I Kubra) pada tingkat kesadaran Diri Yang Diridhai (Nafs-I Mardhiyya).

Jadi, semua ‘hal’ yang kita kukuhkan sebagai ada, tidak lebih dari bentuk-bentuk Nama-namaNya yang diciptakan dalam IlmuNya. Apapun tak dapat hadir secara mandiri.

Jika dievaluasi dari sisi Perbendaharaan Ilmu, segala sesuatu yang dianggap ada, menurut indera kita, akan terbukti tak lebih dari ‘bentuk-bentuk pengetahuan’.

Sederhananya, seluruh ciptaan adalah komposisi dari Nama-nama. Semua dimensi yang beragam dan tak terhitung di dalam kosmos ini merupakan komposisi-komposisi yang berbeda dari Nama-namaNya.

Mereka yang telah mencapai tingkatan Diri yang Murni (Nafs-I Safiyya) adalah mereka yang telah mampu menjebol pengkondisian-pengkondisian oleh ‘bentuk-bentuk’ eksplisit pada makna-makna implisit.

Mereka adalah orang-orang yang telah meninggalkan keberadaan hipotetikal mereka dan bergerak menuju samudra ‘ketiadaan’ dan menjadi ‘segala sesuatu’.

Dengan merealisasikan dan menjalani ‘ketiadaan’ mereka, mereka mencapai tingkatan ‘Kesatuan Keberadaan’ (Wahid’ul Ahad), dan karenanya menjadi segala sesuatu!

Sekarang mari mencoba memahami hal berikut:

“Masing-masing akan berbuat menurut program ciptaannya (fitrah disposisi kodrati).”  (Al-Qur’an 17:84)

Artinya, untuk tujuan apapun, individu-individu diciptakan untuk memenuhinya, sarana untuk mencapai tujuan ini akan dijadikan mudah dan mereka akan bisa mencapainya. Keputusan-keputusan dan perbuatan, yang diperlukan untuk pelaksanaan misi mereka, akan dibuat menarik dan menyenangkan, sedemikian rupa sehingga akan mewujud secara alami dengan mudah.

“Rabb mu (realitas Nama-nama yang meliputi esensi anda) menciptakan dan memilih sesuai kehendakNya, mereka tak mempunyai pilihan (atau suara) dalam perkara tersebut.” (Al-qur’an 28:68)

Dapat Anda lihat, jika Anda terbatasi kondisi-kondisi, batasan-batasan, dan tidak memecahkan kepompong Anda, maka tindakan untuk memecahkan realitas dunia-kepompong akan menjadi sulit bagi Anda.

Mengingat hal ini, tindakan untuk menetas, atau meninggalkan rahim, baik itu binatang yang melahirkan atau serangga yang berusaha menetas dari kepompongnya, selalu merupakan proses yang sulit!

Karenanya, tindakan untuk menjebol dunia-kepompong seseorang, dunia ‘materi’, untuk mencapai Alam Malaikat (Malakut) yang tak berbatas bukanlah proses yang mudah…

Seperti halnya peralihan dari satu dimensi ke dimensi lainnya, transisi ini adalah sebuah ‘kebangkitan’ (ba’th), yakni sebuah kelahiran baru, awal baru, yang ‘pertama’ setelah yang ‘terakhir’ …

Namun bagi sebagian orang, proses ini dibuat relatif mudah atau menarik … karena Allah berkehendak demikian …

Sebuah struktur yang tak terhitung dan tak berbatas! Lapisan-lapisan ‘makna’ di luar pemahaman! Sebuah ‘nama’ yang menunjuk kepada keberadaanNya, namun tidak terkondisikan atau bahkan tak terdefinisikan!

Anda, saya, dan itu … Kita semua ada sebagai ekspresi yang berbeda dari komposisi yang berbeda dari Nama-namaNya … Namun untuk mengalami ‘keberadaan’ sebagai keseluruhan, tanpa memecah-mecahnya, membutuhkan pelepasan dari ‘Anda’ dan ‘saya’nya.

‘Diri’ adalah seperti tirai di antara pecinta dan yang dicintai. Ketika pecinta melenyapkan dirinya dalam yang dicintai, tirai itu akan diangkat, ‘dualitas’ akan lenyap, dan hanya cinta yang tersisa.

Ketika seseorang ‘menginginkan’, maka ia ingin memiliki. Namun ketika seseorang ‘mencintai’ ia akan kehilangan ‘diri’nya dalam yang dicintainya.  Ia meninggalkan identitasnya sama sekali dan menjadi lenyap dalam yang dicintainya. Pengalaman mikro dari KESATUAN ini kemudian beriak ke dalam kosmos, berubah bentuk menjadi pengalaman makro dari Kesatuan, hingga kesadaran, persepsi dan pengalaman ‘individual’ sama sekali tak berlaku lagi.

Biarkan diri Anda meninggalkan ‘Anda’nya dan biarkan saya meninggalkan ‘saya’nya sehingga kita bisa bertemu dalam ‘ketiadaan’, dan jadilah!

Menurut sebuah narasi:

Apa yang bermula dari ‘titik’ akan berakhir pada ‘alif’.

Artinya, segala sesuatu bermula dari titik ‘Keesaan’ (Ahadiyyah) dan berakhir pada alif ‘Kesatuan’ (Wahidiyyah). Keseluruhan keberadaan hanyalah satu refleksi, yang dalam sufisme disebut sebagai ‘Satu Teofani’ atau Penyingkapan-Diri yang Agung dari Allah (Tajalli Wahid).

Meburut narasi lainnya:

Apa yang bermula dari ‘titik’ akan berakhir pada ‘sin8’.

Dimana sin menunjukkan ‘manusia’ dalam bahasa Arab, dan titiknya adalah yang ‘Esa’ (Ahad).

Al-Qur’an dimulai dengan huruf ‘ba9 dari ‘basmalah10, atau lebih tepatnya, titik di bawah ba. Ketika titik ini diperpanjang, ia menjadi alif!

Seperti halnya jika ingin membuat sebuah garis, seseorang akan memulai pada sebuah ‘titik’ yang kemudian menjadi sumber, dari mana garisnya terbentuk. ‘Ba’ dari ‘basmalah’ adalah titik sumber dari semua huruf dalam Al-Qur’an. Titiknya tak pernah berubah. Setiap hurup merupakan serangkaian titik-titik yang saling berdampingan membentuk garis-garis. Sejatinya, mereka adalah pengulangan dari titik yang sama!

Hazrat Ali mengatakan: “Aku adalah titik di bawah ba, mungkin berarti, “Aku bukan apa-apa, namun aku adalah semuanya… Aku adalah sang ‘alif”.

Surat terakhir dari Al-Qur’an bernama Nas, yang berarti manusia. Seperti telah dikatakan, huruf sin mewakili manusia tunggal. Karenanya, surat ‘Yasin’ berarti ‘Wahai manusia’.

Pada akhirnya, yang kita dapat adalah sebuah setengah-lingkaran, berangkat dari ‘titik’ kepada ‘manusia’, dan perjalanan manusia kembali ke titik tersebut.

Menyatu dengan Allah, dalam esensi, menjadi realitas, dalam manusia, dengan ilmu mengenai ‘titik’.

Akankah ilmu mengenai titik membuat manusia (nas) menjadi usang?

Karena, dari sudut realitas aktualnya, manusia tidak memiliki keberadaan independen; tak masuk akal membicarakan kehilangan sesuatu yang tidak pernah ada sejak awalnya.

Telah disebutkan di atas bahwa Dia mewujud sebagai ciptaan, ‘maknanya’ Dia ingin melihat.

Kita diberitahu bahwa makna ini semuanya 99, walaupun angka ini hanyalah merujuk pada ‘contoh’ bukannya keseluruhan. Seperti halnya kelima indera kita memberi kita pengertian yang dalam kedalam sifat-sifat yang tak terhitung mengenai otak, ke 99 Nama memberi kita ide tentang makna yang tak-hingga yang tercakup oleh yang Esa (Ahad). Ternyata, keberadaan tak-hingga dan tak terbatas akan memiliki makna yang tak-hingga dan takterbatas pula.

Mengingat kebenaran tak berbatas dan tak ada akhirnya ini, betapa ruginya jika kita hanya mengurung diri dalam dunia kepompong kecil dengan kelima indera kita dan terhanyut dalam keinginan-keinginan tubuh lokal yang sementara.

“Wahai manusia! Sementara Aku menciptakan kalian untuk diriku, dengan apa kalian menyibukkan diri? Untuk apa kalian menghabiskan waktu kalian?”

Kepada siapa ayat ini ditujukan?

Kepada mereka yang memiliki kapasitas untuk mendengar… Bukannya mereka yang ditegur dalam:

“Mereka bagai binatang ternak (an’am), bahkan kurang sadar dengan jalan yang benar; demikianlah mereka, mereka yang [benar-benar] tak peduli!” (Al-Qur’an 7:179)

Untuk menjadi cermin yang Maha Esa yang menjadi sumber keberadaan, esensi, asal kita, atau, agar yang Maha Esa memantul pada cermin kita, mula-mula kita harus dibersihkan dari pencemaran-pencemaran dan pengkondisian-pengkondisian dari ilusi keberadaan manusiawi.

Sebagaimana Nabi Isa berkata:

“Kalian tidak berpikir layaknya pikiran Tuhan melainkan pikiran-pikiran manusia.”11

Jika kita melihat esensi kita dari perspektif manusia ‘material’, dan menjalani hidup kita seperti gunung es di samudera, maka tentunya kita tak kan dapat merefleksikan Dia sebagaimana mestinya.

Dunia dan segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah bagai permainan dan masa-lalu bagi manusia…

Seluruh keberadaan dimaksudkan, dirancang dan dibentuk untuk penglihatan Realitas Muhammad (Haqiqat-I Muhammadiyyah) dan Aqal Pertama (Aql-I Awwal).

Jika Anda diciptakan untuk menjadi salah satu ‘pengamat’ makna-makna, maka melepaskan diri dari kelima indera dan emosi serta pengkondisian manusiawi akan menjadi mudah bagi Anda. Proses pembersihan cermin Anda dari emosi, pikiran, kondisi-kondisi, dan hasrat-hasrat jasadi dan kesadaran yang dapat mengaburkan Pencerminan, dan proses pencapaian hakikat diri Anda akan menjadi mudah bagi Anda.

Namun demikian, seperti halnya sebagian biji gandum menjadi terigu dan roti hingga akhirnya terhidang di meja makan; banyak yang lainnya tercecer di ladang dan menjadi tak berarti sama sekali.

Mencintai Nabi Muhammad SAW adalah dengan beramal seperti Beliau, berusaha mencapai ilmu dan kesadarannya, melenyapkan diri di dalam dirinya.

Seseorang tak kan dapat merasakan madu dari botolnya saja.

Mencintai adalah menjadi orang yang dicintai.

Pada akhirnya segala sesuatu akan memenuhi tujuan kodratnya dan kembali kepada esensinya, dan karenanya mengaktualisasikan pengabdian bawaannya kepada Allah.

“Semua binatang dan benda tak bergerak mengabdi kepada Allah.”

“Manusia dan Jin diciptakan untuk mengabdi kepada Allah.”

Semua ini mengandung satu arti: untuk apapun Anda diciptakan, anda akan melewatinya dengan cara apapun. Kehidupan, kondisi, ketrampilan yang diberikan kepada Anda, semuanya pada akhirnya akan mengarahkan Anda untuk melakukan pengabdian bawaan, yakni mewujudkan esensi sejati Anda, apapun itu adanya.

Tujuan akhir kita mungkin menjadi mabuk dan limbung dalam Alam Perbuatan (Af’al), atau bebas berenang dalam alam Nama-nama tak-hinggaNya (Asma), atau memanifestasikan dan melihat sifat-sifat DzatNya, atau merealisasikan ketiadaan kita dan tak menjadi apapun dalam ketakhinggaanNya, Keberadaan tak-berbatas.

Bagaimanapun cara seseorang menjalani hidupnya, begitu pula cara ia akan menjalani kematiannya, dan bagaimanapun cara ia mati, begitu pula cara ia akan hidup di Akhirat.

Frekuensi otak kita sesaat sebelum titik kematian akan menjadi bit informasi terakhir yang diunggah ke ruh. Karenanya, ketika ruh terlepas dari otak, ia akan melanjutkan fungsinya pada frekuensi ketika terakhir diunggah.

Oleh karena itu, jika pada saat kematian, tingkat kesadaran kita kebetulan bekerja pada frequensi rendah, terkondisikan oleh kelima indera kita, dan terkurung oleh hasrat-hasrat duniawi dan jasadi, maka kita akan menjalani konsekuensi keadaan ini di Akhirat.

Jika sebaliknya, kesadaran kita kebetulan bergetar pada frekuensi tinggi, terbebas dari pengkondisian indera, kita akan mencapai tingkatan Para Pelihat Kebenaran, memandangi dan melihat karunia tak-hingga akan Nama-namaNya yang mengekspresikan dirinya dengan sangat unik dan luar biasa pada ciptaan. Yaitu, tingkatan ‘mencintai ciptaan, karena Sang Pencipta’!

Mereka adalah orang-orang yang oleh masyarakat umum dikatakan: “orang dan kehidupan di tataran lain … Ia berjalan, duduk, makan dan minum seperti kita, namun ia tak seperti kita! Siapa yang tahu dimana mereka kini?”

Ia akan berenang di samudera makna-makna dalam dimensi kesadaran… Ia terkagum-kagum dalam dimensi Nama-nama Allah.

Sebagian dari mereka yang mencapai keadaan ini menjadi terhijab dari apa yang terjadi di alam jasad, sementara sebagian yang lain menjalani kedua dimensi secara bersamaan. Keadaan ini biasa disebut sebagai Jiwa yang Tenang (Nafs-I mutmainna) dan Jiwa yang Puas (Nafs-I Radhiyya) dan ini merupakan keadaan yang dicapai seseorang setelah mengetahui realitas jiwanya.

Kesadaran akan takjub di tengah-tengah makna dalam alam Refleksi Nama-nama (Tajalli Asma) mengetahui bahwa mereka sesungguhnya adalah makna-makna dari jiwanya sendiri.

Kemudian, jika kesadaran dapat naik ke tingkatan berikutnya yang disebut Jiwa yang Diridhai (Nafs-i Mardhiyya), ia akan mencapai titik aktualisasi sifat-sifat dzatnya… Ini adalah titik peniadaan diri di dalamNya, dimana gunung es telah meleleh, dan ia yang melihat makna-makna di dalam dirinya telah menjadi dirinya sendiri.

Kebenarannya: manifestasi dari makna-makna ini pada seseorang merupakan masalah takdir.

Yang paling penting adalah esensi tipikal (a’tan thabita); dengan kata lain, makna-makna diciptakan agar teraktualisasi. Tahap selanjutnya adalah keterampilan dan kemampuan yang diberikan padanya agar bisa memenuhi aktualisasi ini. 

Kemudian perjumpaan dengan sang ‘penyebab’ akan terjadi, yakni subyek yang memberikan perangkat untuk mengaktualisasikan pola dasarnya. Ketika individu menyerahkan keberasaannya kepada penyebab ini, dan pada akhirnya meniadakan dirinya di dalam penyebab dan menjadi bukan apa-apa, esensi tipikalnya akan mewujud dengan sempurna.

Dari titik menjadi manusia…

Dari manusia menjadi titik…

Seseorang yang telah meleburkan batas-batas antara Pra-eternal dan Pasca-eternal… Seseorang yang, dengan mengaktualisasikan realitas jiwanya, telah menjadi bukan apa-apa dalam kodrat jiwanya yang tak-berbatas dan tak-hingga!

Ketika kami menyebut ketakhinggaan, maksud kami adalah Alam Nama-nama, karena sama sekali mustahil untuk merujuk kepada sifat Dzat AbsolutNya.

Dia tak-hingga dari sudut makna-maknaNya. Bahkan ketakhinggaanNya adalah sebuah ‘sifat’ (atribut).

Seseorang tak kan dapat memikirkan Dzat AbsokutNya!

Bahkan sebenarnya KeesaanNya (Ahadiyyah) adalah sifat dari Keberadaan AbsolutNya.

Perhatikan bahwa ‘Allah’ adalah ‘nama’ dari keberadaan yang sifat-sifatnya telah kami terangkan.

Seperti halnya ‘Hulusi’ adalah nama yang diberikan kepada saya, nama yang merujuk kepada keberadaan saya, ‘Allah’ juga adalah nama yang kita gunakan untuk merujuk kepada Dzat AbsolutNya. Nama hanyalah tanda yang digunakan untuk menunjuk sesuatu.

Sejauh mana nama ‘Hulusi’ mengungkapkan atribut dan sifat yang saya miliki, baik saya manifestasikan ataupun tidak, adalah sejauh mana nama ‘Allah’ dapat menjelaskan Keberadaan AgungNya.

Keberadaan Agung yang melihat DiriNya pada cermin nama ‘Allah’!
Idealnya, Dia melihat DiriNya pada cermin nama ‘Allah’ melalui manusia.

Melalui definisi berdasarkan atribut-atribut, Dzat Absolut berada diluar pemahaman. Ia yang berupaya mendefinisikan Dzat Absolut adalah seorang yang jahil, dan secara tak langsung mengakui dirinya sebagai anggota ‘para peniru’. Karena orang yang telah tercerahkan tak ragu lagi akan mengetahui bahwa dalam menyebut Dzat Absolut, seseorang hanya dapat sampai kepada sifat-sifatNya.

Tak seorang pun memiliki kebebasan untuk berbicara atau mendefinisikan tentang ‘ketiadaan’, karena ketiadaan adalah tempat dimana semua renungan berhenti, dimana pikiran tak bekerja lagi, dimana kehidupan, indera, kata-kata tak berlaku lagi!

“Sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, Dia ada di Ama, potensial absolut. Dan Dia begitu, kini dan selamanya.”

Tempat ketiadaan adalah kegelapan absolut sedemikian sehingga segala sesuatu yang seseorang ketahui, pikirkan, dan bayangkan sama sekali menjadi tak berlaku.

Mari berharap bahwa kita adalah mereka, atau setidaknya di antara mereka, yang telah Dia pilih untuk DiriNya.

Namun di luar konsepsi ruang dan waktu, segala sesuatu telah dijalani dan selesai! 

Maka apa yang perlu kita lakukan adalah menapaki jalan yang merefleksikan disposisi dan karakter kodrat kita, jalan yang kita rasakan mudah untuk melaluinya, bukannya yang memberatkan kodrat kita dan membuat hidup kita menjadi sukar.

“Allah menciptakan Adam dalam citraNya sendiri.”

Apa artinya ini? …

Keberadaan manusia berselaras dengan keberadaan agung. Manusia juga memiliki esensi. Manusia juga memiliki atribut, sifat-sifat dan makna-makna yang menjadi bagian dari esensinya, dan memiliki tempat dimana ia memanifestasikan sifat-sifatnya, yakni, tubuhnya.

Seperti halnya tentang Keberadaan Absolut, Esensi (Dzat), Sifat-sifat, Nama-nama (asma) dan Perbuatan (af’al), kita juga dapat membicarakan mengenai esensi, sifat, nama-nama dan perbuatan manusia. Tentu saja, bahwa esensi manusia pada puncaknya diturunkan dari Esensi Absolut, karena manusia tak memiliki esensi yang terpisah dari Esensi Absout dari yang Maha Esa. Keberadaan manusia bergantung pada keberadaan Esensi Absolut.
Sifat-sifat manusia dapat diringkas sebagai berikut: kehidupan, ilmu, keinginan, kekuasaan, kemampuan berbicara, mendengar dan melihat. Dengan kata lain, manusia itu Hayy (Hidup), Alim (Mengetahui), Murid (Berkehendak), Qadir (Berkuasa), Mutakallim (Berbicara), Sami (Mendengar) dan Bashir (Mengevaluasi). Ini karena keberadaan manusia bergantung pada keberadaanNya, dan karenanya kepada sifat-sifatNya.
Karenanya, Allah telah menciptakan manusia dalam citraNya sendiri, yakni dalam citra Nama-nama dan Sifat-sifatNya. Tak ada keberadaan lain yang dengan citranya Dia dapat menciptakan manusia. Walau bagaimanapu, Dia meliputi seluruh keberadaan; tak ada apa-apa selain Dia!
Setiap individu merupakan ekspresi unik dari komposisi unik nama-namanya. Sebab itulah, ada keragaman dalam kesatuan. Walaupun pada hakikatnya kita semua adalah satu dan sama, manifestasi keluarnya adalah beragam. Sebagai perumpamaannya, jika makna-makna ke dalam dari yang Esa terlokalisasikan ke luar dan menjadi padat pada titik-titik yang terhitung jumlahnya, kita mendapatkan apa yang nampak sebagai kosmos.
Setiap titik lokal ini, secara hakikat dan asalnya, merupakan komposisi dari nama-nama agung, diperbesar dan dimanifestasikan pada skala besar. Jadi, semua galaksi dan konstelasinya, dengan semua bintang, sinarnya dan lain-lainnya, hanyalah komposisi yang berbeda dari nama-nama agung. Mereka semua adalah materialisasi dari sifat-sifat komposisional yang merupakan nama-nama agung.
Keberadaan Absolut berkehendak untuk melihat makna-maknaNya, maka mengungkapkan DiriNya melalui Nama-namaNya, yang pada akhirnya membentuk ‘alam bentuk-bentuk’.
Untuk menggambarkan rancangan agung ini, kita dapat umpamakan sebagai lokalisasi Nama-nama agung dan makna-makna yang bertransformasi menjadi sinar-sinar kosmis atau kekuatan-kekuatan malaikatis, yang pada akhirnya membentuk dunia, seperti yang kita kenal.
Sebelum suatu ‘bentuk’ benar-benar mewujud, esensi tipikalnya didefinisikan, dan berdasarkan ini, kemampuan potensi dan ketrampilannya dilimpahkan.
Dari sudut pandang Keberadaan Absolut, bentuk-bentuk sifatnya tetap, karena bentuk-bentuk pada hakikatnya terbentuk dari komposisi-komposisi Nama-nama dan makna-maknaNya yang tak dapat berubah.
Namun di sini, kita mesti hati-hati untuk menghindari konsep yang biasanya keliru. Yakni berpikiran bahwa Keberadaan Absolut sebagai perancang atau pencipta yang ‘terpisah’ dari, atau berada di luar, alam bentuk-bentuk.
Ingatlah selalu bahwa kekuatan tak berbatas tak-hingga meliputi seluruh keberadaan. Tak ada yang lain selain keberadaan ini. Kata-kata seperti ‘Dia’ atau ‘milikNya’ digunakan di sini hanyalah karena keterbatasan bahasa. Allah tak dapat didefinisikan dengan kata-kata.
Keberadaan relatif, yang kita rujuk sebagai ‘Aku’, pada puncaknya merupakan proyeksi otak kita terhadap komposisi-komposisi yang dibentuk oleh makna-maknaNya.
Proyeksi ini kemudian menggunakan kecakapan dan kemampuan, yang diberikan padanya, untuk memenuhi misinya atau mencapai tujuan sesuai rancangannya.
Tujuan akhir kita terdefinisikan pada titik kematian dimana otak kita berhenti berfungsi, dan peralihan akan terjadi dari dimensi dan tubuh ini ke dimensi lain.
Cara hidup seseorang mendefinisikan bagaimana ia akan mati. Dan cara hidup seseorang didefinisikan dalam esensi tipikalnya, yang tercermin oleh kecakapan dan kemampuan bawaan lahir (disposisi kodrati kita).
Komposisi unik kita terbuat dari makna-makna Nama-namanya.
Kecapakan khusus dan kemampuan, yang meliputi komposisi kita, membimbing dan mengikat kita pada perbuatan tertentu, dan perbuatan-perbuatan ini kemudian membentuk dan merancang ruh kita dan menjadi ‘teguh’ pada titik kematian, yang dengannya kita melanjutkan kehidupan akhirat kita.
Karenanya, gaya hidup, perbuatan, kepribadian seseorang akan dibentuk dan terdefinisi oleh dan menurut rancangan yang hendap dicapai, yakni makna yang ditakdirkan untuk mewujud. [Yang mulanya sebagai esensi tipikal tumbuh dan berkembang, sepanjang kehidupan seseorang, hingga akhirnya menjadi teguh pada titik kematian.]
Setiap peristiwa, yang dijalani pada setiap tingkat keberadaan, merupakan ekspresi dari makna-makna yang Dia ingin lihat dalam DiriNya Sendiri.
Setiap unit keberadaan akan mengikuti persyaratan keberadaannya. Dengan mewujudkan komposisi uniknya, ia melaksanakan tugasnya sebagai hamba Allah.
Jadi, makna-makna yang membentuk manusia adalah makna-makna yang Allah ingin lihat dalam DiriNya.
Karenanya, Allah itu Al-Ghani (Yang tal dapat diberi label dan dibatasi oleh manifestasi Nama-namaNya, karena dia itu Maha Besar [Akbar] dan diluar jangkauan konsep-konsep)  dan di luar bentuk atau kebutuhan apa pun. Karenanya, benar-benar tidak absah untuk memikirkan Allah sebagai ‘makna ini dalam bentuk itu’, atau membatasinya dengan mengatakan ‘Allah adalah seperti ini’ atau ‘Allah sebesar ini’. Layaknya menilai seorang seniman hanya dari satu karyanya yang ribuan jumlahnya, penilaian seperti itu tentunya tak dapat diterima!
Jika kita dapat memahami semua hal yang telah dibahas di sini, maka menjadi nyata bahwa kita harus melakukan segala upaya sebaik mungkin untuk mencapai tujuan kita.
Dikatakan bahwa:
“Allah tak kan mengijinkan hambanya berdo’a yang tak hendak Dia kabulkan.”
“Jika Dia telah mengijinkan hambaNya untuk melakukan do’a tertentu, maka Dia sudah pasti akan menjawab do’anya.”
Jika Dia telah menganugrahi kita kapasitas untuk memahami kebenaran-kebenaran ini, maka menjadi sangat munkin bahwa kita akan melewati peristiwa-peristiwa yang akan mewujudkan makna-makna ini dalam diri kita.
Namun pertama-tama, kita mesti menyucikan jiwa kita, membersihkan diri kita dari pengkondisian kelima indera kita dan membuat lompatan ke dimensi kesadaran yang lebih tinggi.
Berdoa, yakni proses mengarahkan gelombang pikiran kita kepada tujuan ini, merupakan sarana kita yang paling ampuh!
Dan jika memenuhi tujuan kita telah ditakdirkan, maka kita tidak akan mengalami kesukaran yang banyak.
Namun apa arti sebenarnya dari takdir atau ketetapan agung ini?


Catatan Kaki:
5 Uluhiyya adalah keseluruhan dari manifestasi Nama-nama Allah di semua dimensi.
6 “Dahr” merujuk pada waktu abadi sebagai lawan dari waktu pada dimensi fisik kita.
7 Alif  adalah huruf pertama dalam alfabet arab, dan mewakili kesatuan yang digambarkan dengan goresan tunggal.
8 Sin adalah huruf ke-12 dari alfabet Arab. Sebagai kata, ‘sin’ sinonim dengan ‘orang’ atau ‘manusia.’
9 ‘Ba’ adalah huruf ke-dua dari alfabet Arab, dan huruf pertama dalam Al-Qur’an. Ia menyimpan nilai simbolik dalam perkataan yang diserukan Hazrat Ali “Aku adalah titik di bawah ba”, titik yang merujuk kepada pengalaman individu sebagai hasil dari realitas intrinsik.
10 “Dahr” merujuk pada waktu abadi sebagai lawan dari waktu pada dimensi fisik kita.
11 Matius 16:23


Tidak ada komentar:

Posting Komentar