KEHENDAK YANG ESA
Sumber: The Observing One
Karya: Ahmed Hulusi
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
Ketika Yang Esa, untuk merasakan DiriNya, berkehendak membuka DiriNya melalui bentuk
tertentu dalam alam jasmani, bentuk tersebut akan kembali kepada Yang Esa
dengan mengorbankan segalanya, termasuk keberadaan dirinya.
Untuk mencapai tujuan ini, ia akan melepaskan
segalanya, dari bidang pikiran hingga bidang tindakan, segala yang dianggap
miliknya akan ditinggalkan. Ia akan menanggalkan pengkondisian diri, dan semua
nilai-nilai yang melekat padanya, serta emosi-emosi yang diakibatkannya. . . Ia
bahkan akan melepaskan hasrat-hasrat jasmani dan kecanduannya, membersihkan
tubuhnya dari kebiasaan merokok dan minum minuman keras, makan dan tidur
berlebihan dan kelemahan-kelemahan fisik lain yang diperoleh selama hidupnya.
Ia kemudian akan memulai praktek-praktek spiritual untuk meningkatkan
kesadarannya.
Ketika ia menemukan realitasnya pada tingkat
kesadaran, ia akan mengenal Yang Esa dan menyadari bahwa semua ilmu berkenaan
denganNya. Ia kemudian akan menyadari sifat ilusi dari dirinya dan ketiadaan
identitas nyata dirinya, dan mulai melepaskannya, dan akhirnya melenyapkan
dirinya dan bersatu dengan Yang Esa.
Namun demikian, semua ini hanya bisa dicapai
melalui petunjuk dari mentor yang tercerahkan, yang telah menjalani realitas ini. Karena mustahil bagi seseorang, dengan
ikhtiarnya sendiri saja, bisa terbebas dari kungkungan pengkondisian, dari hasrat
dan kecenderungan alami, atau ilusi identitas-diri.15
Maka, untuk mencapai Yang Esa, ia mesti mencari
dan menemukan seseorang yang memungkinkan dirinya melepaskan semua
pengkondisian dirinya, seorang penunjuk jalan yang telah melewati proses ini
dan telah tercerahkan. Karena seseorang tidak akan dapat mengajari orang lain
untuk berenang jika ia sendiri tidak tahu bagaimana cara berenang! Jika ada
seseorang mengaku dapat mengajari Anda
cara berenang, sedangkan ia sama sekali tak pernah melihat samudera,
tinggalkan lah ia dalam khayalannya dan lanjutkan perjalanan Anda. Seorang
penggembala tidak akan dapat mengajari Anda cara berenang. Anda mesti mencari
panduan yang tepat dari sumber yang tepat.
Ketika pemandu yang benar ditemukan dan
petunjuknya didengar dan diterapkan, pemurnian jiwa akan terjadi dan kesadaran
akan bangkit. Proses yang berat ini akan berlanjut hingga ketundukan sempurna
dan kesatuan dengan Yang Esa tercapai. Pada titik ini, ia akan menyadari bahwa
ia ‘Islam’. Ia akan menjadi ‘Abdullah’ yakni ‘abdi/pelayan Allah’ dan mencerminkan
makna-makna Allah pada cermin kefanaan dirinya yang baru digosok dan disucikan.
Penyucian sejati mengorbankan segalanya. Ia akan
menuntut pengorbanan atas segala sesuatu yang kita miliki. Jika kita tak hendak
untuk menyerahkan semua yang kita miliki dalam pencarian ini, mungkin lebih
baik tidak menapaki jalan ini sama sekali, karena ini merupakan perjalanan yang
penuh dengan perjuangan, rasa sakit, kesusahan dan penderitaan. . . Jalan ini
bisa mengorbankan apapun yang kita miliki, apapun yang kita cintai, identitas
kita dan segala sesuatu yang melekat padanya!
Jika kita mengaku telah sampai pada tantangan
ini, namun menangis dalam kesedihan atau menyalahkan orang lain ketika
mengalami kehilangan, bukan hanya tidak akan mendapatkan apa yang telah hilang,
kita pun bahkan semakin cenderung menyalahkan orang lain.
Nabi
Muhammad (saw) mengatakan:
“Jangan
mengkritik; engkau tidak akan mati hingga mengalami apa yang dikritikkan itu.”
Jadi, jika kita menerima ilmu ini dan ingin
mencapainya, maka kita mesti mau untuk dibakar di neraka agar bisa masuk surga.
Karena seseorang hanya dimurnikan dengan pembakaran! Seperti halnya emas
dimurnikan dengan api. . . Seperti dikatakan ayat berikut:
“Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang beriman jiwa mereka (nafs) dan harta mereka [dengan ganti] karena mereka akan mendapatkan Surga.” (Qur’an 9:111)
Catat bahwa ayat ini mengatakan ‘jiwa’ dan ‘harta’!
Mari kita evaluasi kata-kata ini dalam cakupan
yang luas.
Bagaimana kita bisa mengejar
kesenangan-kesenangan jasmani, dengan membiarkan dajjalnya ego sepenuhnya berkuasa, dan pada saat yang sama menyatu
dengan Yang Esa? Jelas mustahil. Setan (ego) mengarahkan pikiran-pikiran kita
kepada semua jalan ‘buntu’, dan membuat kita berpikir bahwa ada jalan tembus
padanya, Namun sayangnya itu hanyalah perangkap ego; hanyalah prasangka belaka!
Sejarah dipenuhi oleh tokoh-tokoh yang secara
spiritual tercerahkan. Lihatlah kehidupan mereka. Manakah di antara mereka yang
hidup tanpa penderitaan? Hidup mereka penuh dengan pemurnian dan pengorbanan!
Kita hanya mendapatkan sejauh apa yang kita
lepaskan dari identitas kita. Banyaknya pengorbanan, yang kita keluarkan dari ‘diri’
kita, merupakan derajat realitas sejati yang dapat kita capai. Jadi, sebelum
sistemnya sendiri yang pasti dan memaksa merenggut harta, apa yang kita miliki,
yang kita cintai, dll., mengapa tak kita tinggalkan semua itu, pertama-tama
dengan melepaskan mereka dari ego dan identitas kita, dan dengan menyucikan
hati kita dari kepemilikan dan keterikatan terhadap materi?
Pada kenyataannya, setiap orang melewati
pengalaman yang serupa dalam kehidupan; setiap orang merasakan sedihnya
kehilangan, misalnya. Namun beda antara seseorang dengan orang yang secara
sadar berkeinginan untuk dibangkitkan adalah bahwa orang yang kemudian ini mengetahui
hikmat di baliknya, dan karenanya menghadapinya dengan ketenangan dan kepasrahan.
Orang yang kemudian ini tahu mengapa ia terbakar dan menderita, dan memilih menjalaninya
dengan ketenangan, sementara orang yang pertama tadi malah menambah rasa
sakitnya dengan terus mengecam dan mengeluh.
Namun ini bukannya syarat untuk masuk surga!
Untuk
menyatu dengan Allah, seseorang mesti membangkitkan
kesadarannya!
Seseorang bisa saja mengklaim: “Masuk surga saja
sudah cukup baik bagiku”, namun ini telah ditentukan pada hari ke 120 setelah pembuahan,
ketika kita ditetapkan sebagai seorang yang beruntung (said) atau
yang merugi (shaqi).
Jika kita ditetapkan sebagai orang yang beruntung, maka semua kebutuhan akan
diberikan kepada kita selama hidup kita. Kita mestinya akan dianugrahi dengan
pemahaman dan ilmu, haus akan pencarian, keimanan dan perwujudan amal, dan
akhirnya membuahkan pintu-pintu surga.
Sebaliknya, jika kita telah ditetapkan sebagai
orang yang merugi, maka:
“Allahlah
pemilik segala sesuatu; Dia Maha Bijaksana dan bebas melakukan apa yang
dikehendakiNya. Tak seorangpun berhak untuk menanyakan kehendakNya!”
Siapa dan apa yang independen, terlepas, dari
Allah sehingga boleh bertanya mengenai kewenanganNya?
Jika
engkau mengaku menginginkan Realitas, maka mesti berkeinginan untuk membayar
harganya, kawan!
Bagaimana jika Anda mengklaim seperti ini, namun
masih menipu diri dengan terus mengikuti hawa nafsu dalam kesenangan diri?
Jangan terhijab!
Ketika Nabi Musa pergi menemui Tuhannya, Allah
memanggilnya dari api:
“Aku
Allah Tuhanmu, ya Musa!”
Jadi jangan terkejut jika api menyapa Anda! Api
akan membakar Anda!
Jangan terhijab darinya ketika ia menyapa Anda
dari tempat yang membakar Anda!
Apa yang membakar Anda adalah ‘api’, bukannya
nyala api yang nampak di mata Anda. Dan selama Anda terbakar, maka Anda berada
dalam neraka pribadi Anda. Dunia ini merupakan bagian dari neraka juga. Selama
Anda terus menjalani kehidupan duniawi,
Anda akan tetap hidup di neraka.
Namun demikian, jika anda masih mengklaim ingin
mencapai Allah, ketahuilah bahwa ‘Anda’ tak kan pernah mencapai Allah.
Jangan mengikuti langkah-langkah mereka yang
menjanjikan kehidupan duniawi yang indah. Ikutilah mereka yang akan “Membunuh Anda sebelum kematian”; jangan
sampai Anda ditegur dengan perkataan “Engkau
tak boleh menemuiku!”
Mereka yang memberi Anda kehidupan duniawi yang
gemerlap akan bertindak demikian hingga Anda masuk liang lahat. Sedangkan pada
akhirnya, kematian Anda tak terhindarkan.
Teman sejati Anda adalah mereka yang akan
membunuh Anda sebelum ajal, karena ‘mereka yang beriman menyatu dengan Allah
melalui kematian’ di saat dimana Anda akan berseru seperti halnya Rumi:
“Jangan
berduka di pemakamanku! Bermain dan bergembiralah! Karena aku kan menyatu
dengan Kekasihku!”
Sungguh, teman sejatimu adalah dia yang akan
membunuh identitas palsumu, diri ilusimu, dan menyelamatkanmu dari ilusi
keterpisahanmu, sehingga Anda dapat menyatu dengan sumber Anda.
Carilah kematian ini, dan carilah teman sejati
ini, sehingga Anda dapat memulai kehidupan sejati!
Kematian,
seperti halnya neraka, adalah rahmat. Rahmat dari Yang Rahman tersembunyi dalam penderitaan, seperti halnya
kesembuhan tersembunyi dalam pahitnya obat.
Kematian hanya menakutkan mereka yang terikat
dengan dunia, karena kematian bagi mereka berarti kehilangan segala yang mereka
anggap memilikinya. Namun jika kita gagal menguasai rasa takut ini saat kini,
di masa depan rasa takut ini akan semakin hebat.
Mari kawan . . .mari menyambut kematian dengan
keinginan dan cinta demi Allah sehingga Anda akan dihidupkan dengan Yang Maha Hidup (Hayy) dan Yang Maha Kekal
(Baqi).
Matilah sekarang kawan, matilah sekarang dan
hidup untuk selamanya. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar