ZAT YANG LEBIH TINGGI
Sumber: The Observing One
Karya: Ahmed Hulusi
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
Sejauh ini, saya telah mencoba menjelaskan
penilaian lemah kita terhadap struktur
jagat sebenarnya, karena terbatasnya kemampuan persepsi indera kita4.
Berkali-kali, kita mengamati urutan ke arah
‘sub-materi’; membagi zat hingga tingkatan sel, atom dan partikel sub atom,
hingga akhirnya mencapai tingkat energi murni.
Namun, kita tak pernah bersungguh-sungguh untuk
mengalihkan perhatian kita kepada ‘zat
yang lebih tinggi’, yakni kepada urutan sebaliknya; mulai dari materi
meningkat ke ‘keadaan yang lebih tinggi’ dari materi.
Ketika saya mengatakan ‘zat yang lebih tinggi’, bukannya bentuk materi lain yang rupanya lebih tinggi dari yang ada sekarang.
Seperti dinyatakan sebelumnya, materi seperti yang kita kenal hanyalah realitas
anggapan, berdasarkan penafsiran indera-indera kita. Menyinggung hal ini, ada
juga suatu dimensi yang lebih tinggi dari proyeksi ini!
Mari coba memahaminya dengan contoh berikut:
Tubuh manusia terdiri dari triliunan sel, yang
dapat kita lihat dengan bantuan mikroskop khusus. Dalam kenyataannya, semua
fungsi dari sel tubuh kita ini masih jauh lebih banyak yang belum terpecahkan.
Apa sebenarnya yang dilakukan sel-sel ini?
Hubungan macam apa yang terjadi di antara satu sel dengan yang lainnya?
Bagaimana mereka hidup, dan bagaimana mereka mati? Bagaimana sel-sel baru
tercipta?
Sebagian besar dari kita menjalani hidup ini sama
sekali tak menyadari akan semua ini.
Setiap sel di dalam tubuh kita memelihara hidup dan fungsinya berdasarkan sifat-sifat struktur mereka yang unik. Sebenarnya, triliunan sel di dalam tubuh kita semuanya berkembang biak dari satu sel primer! Gen-gen yang terkandung di dalam kromosom-kromosom dari sel primer ini, membawa semua informasi yang diperlukan untuk menyintesa setiap sel lainnya untuk memenuhi semua tugas selama kehidupan seseorang. Dengan kata lain, ginjal, hati, otak, jantung kita dan semua organ lainnya hanyalah susunan molekul yang berbeda dari sel-sel ini. Meskipun fungsi-fungsinya samasekali berbeda, semua organ kita berasal dari sumber yang sama! Dan masing-masing organ memiliki kesadaran, misi, dan mekanismenya sendiri yang unik.
Sekarang, jika kita memandang tubuh dari luar,
kita menyebutnya ‘tubuh manusia’ dan
kita melihatnya sebagai satu ‘kesatuan’ struktur. Kita tak melihat semua sel
yang berbeda yang menyusun tubuhnya. Kita tidak mengevaluasi aktivitas kimia
yang tak terhitung yang selalu terjadi dari sudut pandang organ kita, atau
lebih tepatnya, sel-sel yang menyusunnya. Kita hanya memandangnya sebagai
sebuah ‘massa’ dan secara kasar memberi label padanya sebagai ‘paru-paru’,
‘jantung’, ‘ginjal’ dan lain-lain…
Situasi serupa beresonansi pada tingkatan zat yang lebih tinggi.
Jika kita umpamakan bahwa galaksi kita, yang
terdiri dari sekitar empatratus milyar bintang, sebagai tubuh manusia,
bintang-bintang dapat diserupakan dengan sel atau organ di dalam tubuh.
Seperti halnya hati yang memiliki struktur,
prosesor, kesadaran unik dan misinya yang unik yang hendak dicapai dengan
sarana-sarana ini, demikian pula bintang-bintang, yang serupa dengan sel-sel
atau organ-organ dalam tubuh galaktik raksasanya, juga dianugrahi dengan
tingkat kesadaran hidup.
Ketika bumi dilihat dari angkasa, tak ada
tumbuhan atau binatang atau manusia yang nampak. Bumi hanya nampak sebagai
‘massa’ materi yang terpisah. Namun bumi ditempati oleh manusia, binatang,
tumbuhan dan spesies lain yang semuanya diperlengkapi dengan sifat-sifat unik
dan di dalamnya juga lebih jauh terbagi-bagi lagi.
Serupa dengan itu, struktur galaktika juga dapat
dipandang sebagai tubuh individu, sebuah
entitas dengan kepribadian! Struktur galaktika ini, yang kita sebut ‘Bimasakti’, sebenarnya merupakan unit yang hidup, sebuah bentuk kehidupan,
pandangan demikian hanya dipersepsikan oleh struktur galaktika lainnya, bukan
oleh kita.
Seperti halnya manusia, bumi pun memiliki
kesadaran. Struktur yang kita rujuk sebagai ‘bumi’ juga memiliki kesadaran yang
khusus padanya.
Seperti halnya bumi, matahari pun memiliki
kesadaran. Demikian halnya juga dengan galaksi kita!
Kesadaran matahari dibanding kesadaran galaktika
bagai kesadaran sel tunggal dalam tubuh kita dibanding kesadaran kita. Galaksi
kita ada di jagat sebagai mahluk
individu berkesadaran, di antara jutaan galaksi lainnya!
Konstelasi, yang diasosiasikan dengan simbol
zodiak, juga merupakan mahluk-mahluk kosmik berkesadaran dengan
karakter-karakternya yang unik. Muhyiddin
ibnu al-Arabi merujuk pada mahluk-mahluk kosmik ini dalam kitab Pembukaan Mekah (Futuhat al-Makkiyya)
sebagai ‘malaikat-malaikat dalam 12
konstelasi’. Ketika kita menyatakan bahwa ada milyaran galaksi di dalam
kosmos, sebenarnya yang kita maksudkan adalah ada milyaran entitas sadar di
alam galaktika kosmos!
Jadi, kemiripan matahari terhadap galaksi
bagaikan sel tunggal terhadap seluruh tubuh kita. Oleh karena itu, berusaha
untuk memahami lokasi bumi, apalagi satu mahluk hidup di bumi, hampir mustahil!
Sungguh, untuk menjelaskan lokasi seorang manusia
terhadap bintang, atau sebuah bintang terhadap tubuh galaktik yang ditempatinya
merupakan sebuah tantangan besar. Kita selalu menggunakan indera kita yang
terbatas dalam pencarian ‘sub-materi’
dan mengejar alur mikrokosmos, tanpa bersungguh-sungguh dalam mengevaluasi ‘supra-materi’ dan makrokosmos.
Bagaimana bisa? Hal ini bagai mencoba melihat
tubuh manusia dari inti sel (nukleus), atau dari kromosom dalam inti sel!
Bagaimana gen tunggal, pada kromosom dalam nukleus bisa melihat secara lengkap
terhadap tubuh yang ditempatinya? Jelas, ini mustahil. Ia bahkan tak kan dapat melihat
atau memahami satu organ
tubuh pun! Sitoplasma, yang mengitari inti sel, akan nampak sebagai samudra tak
bertepi bagi gen ini!
Berdasarkan hal ini, makanya, merupakan hal yang
tidak-tidak jika mengatakan bahwa ruang
di antara planet tertentu dan bintang merupakan ruang kosong, atau hampa.
Seperti telah dikatakan sebelumnya, segala sesuatu terdiri dari atom, dan atom-atom yang menyusun tubuh tidak berbeda dengan atom-atom dalam benda lain. Dengan demikian, kita semua adalah bagian yang saling terhubung dari senyawa komposit. Dengan kata lain, pada tingkatan atom, kita semua adalah ‘satu’.
Realitas ‘kesatuan’
inilah yang membatalkan pandangan ‘ruang
hampa’ di antara bintang-bintang. Dari
alam atom-atom hingga dimensi-dimensi galaktika, ‘kesatuan’ keberadaan kita
mengakhiri konsep keterbagian dan kekosongan.
Mata kita mempersepsikan bintang-bintang tersebar
acak di angkasa, terpisah satu sama lainnya sejauh sekian tahun cahaya…
Sedangkan pada kenyataannya, jarak antar bintang tidak lebih dari jarak antara
sel-sel individu di dalam tubuh kita. Sebaliknya, ‘kekosongan’ yang nyata di angkasa adalah ‘kejenuhan!’
Mungkin karena ilmu kita yang kurang, atau karena
terbatasnya indera kita, kita gagal untuk mengenali dan mengevaluasi dengan
sungguh-sungguh mengenai tubuh galaktika dan kesadarannya.
Berdasarkan kebenaran resiprokal dalam maksima
Hermetik, ‘Seperti di atas, demikian pula di bawah’, bukannya tak tepat untuk
mengatakan bahwa ‘ego’ dan kesadaran yang kita miliki juga melekat pada mahluk
galaktik dimana kita merupakan bagiannya, meski mungkin kita tak menyadarinya.
Lokasi yang kita tempati di jagat bagaikan jurang
membran yang mengitari Bimasakti dalam kelompok galaksi lokal kita. Ada sekitar
30 galaksi di wilayah kita. Yakni ada 30 ‘mahluk
galaktik sadar’, mungkin keluarga
mereka!
Mengingat hal ini, kita bahkan tak dapat
diumpamakan seperti sebuah sel di dalam tubuh dari mahluk-mahluk galaktika ini!
Jika dimisalkan bahwa sistem tatasurya kita seperti sel tunggal, Anda dan saya
hanyalah seseorang di antara milyaran orang yang menempati salah satu saja dari
tubuh-tubuh langit dalam sistem tatasurya ini!
Satu bentuk dari mahluk tersebut, yang dirujuk
dengan kata ‘malaikat’ dalam
terminologi agama, adalah ‘Ruh’ ini dalam dimensi-dimensi galaktika; yakni
kesadaran galaktika…
Seorang ahli kebatinan yang telah mencoba
menjelaskan mengenai Ruh besar ini mengatakan:
“Kami menemukan seorang malaikat yang sangat
besar, yang bahkan tak mengetahui keberadaan kita!”
Seperti halnya sebuah sel tunggal dalam tubuh
kita mungkin tak mengetahui struktur yang kita sebut sebagai ‘otak’, atau otak
mungkin tak mengetahui tentang sel tertentu yang baru hidup, atau tumbuh dan
berkembangbiak, lalu mati dalam beberapa bagian dari tubuh kita…
Setiap dimensi kosmik dipersepsikan sebagai
‘materi’, menurut indera reseptor dari penghuninya. Ini serupa dengan cara kita
melihat obyek, dalam mimpi-mimpi kita, sebagai
dunia material…
Jika kita mengambil skala keberadaan sebagai
mistar panjang yang tak hingga, dan mengasumsikan bahwa tingkat energi murni
sebagai titik nol, maka quark, ion, atom, molekul, sel dan apa-apa yang kita
persepsikan sebagai obyek material, semuanya dapat ditempatkan dalam kisaran 0
– 50 cm. Jadi, jika alam material yang kita tempati, dan segala sesuatu yang
kita persepsikan sebagai ‘materi’, berada dalam kisaran ini, maka di luar titik
50 cm, ada bentuk-bentuk kehidupan tak terbatas dalam dimensi-dimensi jagat
makrokosmos.
Betapa
sangat kecilnya tempat yang kita tinggali di jagat ini!
Bagi kita, evaluasi sifat tak-hingga dari
keberadaan demikian adalah hal yang tak terduga. Namun demikian, dengan sedikit
memeras otak, akan ada nilai yang sangat berharga dalam memahami apa yang dapat
kita raih.
Sebagai kelanjutan dari bumi dan kehidupan kita
di sini, yakni kehidupan Akhirat, dan dimensi-dimensi yang kita sebut Surga dan
Neraka, semuanya merupakan bagian, mungkin sebagai organ, dari tubuh galaktika
yang disebut di atas.
Mahluk yang hebat dan istimewa ini hanyalah satu
di antara yang lainnya, dan merupakan bagian dari suku beranggota 30 atau
keluarga yang tinggal di wilayah jagat ini, dan ini mencakup galaksi kita…
Apa yang sedang mereka (mahluk ini, pen) bicarakan? Apa
yang sedang mereka perdebatkan? Apa yang sedang mereka pikirkan? Kita menjalani hidup kita
tanpa menyadari semua ini sama sekali.
Sebuah sel dalam tubuh manusia layaknya sistem
Tatasurya dalam Galaksi!
Apakah setiap orang sama sekali lupa dengan
realitas ini?
Tidak?
Inilah titik pentingnya!
Sekecil
atau sebesar apapun struktur utamanya, baik itu mikrokosmos dengan semua gen,
bakteri, muon dan quarknya, maupun makrokosmos yang mencakup matahari, bintang-bintang
dan semua benda langit dan mahluk galaktik…Semua ‘esensi’ mereka, dipandang
dari Esensi (dzat) Absolut dan menurut ‘realitas holografik’, terdiri dari
‘substansi’ yang sama. Karenanya, setiap bentuk kehidupan, dimanapun posisinya
dalam skala keberadaan, dapat membuat bentuk komunikasi, suatu interaksi dengan
semua unit kehidupan di alam mikrokosmos atau makrokosmos.
Tentunya,
jika mereka pertama-tama telah melanglang ke dalam dan menemukan esensi dirinya
sendiri. Karena bentuk komunikasi ini berdasarkan
prinsip-prinsip Esensi Absolut
(dzat), seseorang yang belum terhubung kepada ‘Esensi’ ke arah dalam, tak kan
dapat berkorelasi dalam jaringan tersebut, ke arah luar.
Terutama, kita mesti membebaskan kesadaran kita
dan melepaskan diri dari rintangan yang disebabkan oleh batasan-batasan yang
dibebankan alam keberadaan kita. Semua pengkondisian, penilaian, emosi, dan
persepsi yang sepotong-sepotong mesti hilang! Kesadaran kita mesti dicuci
bersih!
Karena kita tahu bahwa kosmos merupakan
perwujudan Ilmu dari Yang Tak Hingga dan Yang
Maha Absolut. Dengan demikian, Dzat
dan Ilmu Absolut, Yang Maha Agung selalu hadir dalam setiap partikel
keberadaan!
Jadi, esensi
dari kesadaran Anda, ‘Esensi’
dari keberadaan Anda, tidak berbeda dari esensi sebuah atom atau entitas
galaktika dalam mikro atau makro kosmos.
Namun, karena kesadaran kita telah terkena, terbentuk oleh, kondisi-kondisi
tubuh, ia telah terhalang oleh beragam asumsi dan postulasi. Sebagai hasilnya,
ia telah menjadi ‘kesadaran terpisah’
yang terbentuk (oleh dunia luar, pen) dan terhalang, terlepas dari realitas
universal ‘Kesatuan’.
Sedangkan, ‘kesadaran’ bukanlah benda kasat mata
yang memiliki bentuk atau massa. Seseorang bukan mengkondisikan kesadaran
dengan menusuk-nusuk dan mencungkilnya, melainkan mengkondisikannya dengan menghiasi dan memuatinya dengan informasi yang
keliru.
Kesadaran
kita dapat disucikan dari informasi semacam itu, melalui intensitas komunikasi
yang dapat dibangun [dari alam Esensi (dzat) Absolut] dengan mahluk mikro dan makro kosmos.
Bukti menunjukkan bahwa banyak ahli kebatinan dan
para wali dikenal mampu melakukan bentuk komunikasi semacam itu. Sungguh,
setiap orang yang mampu keluar dari ‘kepompong’
persepsi indera mereka dapat mengakses jaringan tak-hingga dari jagat ini.
Tirai terbesar yang menutupi kesadaran kita
adalah ‘tirai kata-kata’. Kata-kata, atau label-label, atau gambar-gambar yang
terhubung dengannya dalam pikiran kita, telah membutakan kita untuk mencapai
pemahaman sejati terhadap realitas.
Dengan mengidentifikasi gambar-gambar yang
terhubung dengan kata-kata tertentu dalam pikiran kita, dan meyakininya sebagai
kebenaran, kita berhenti untuk mencari lebih jauh, dan karenanya merintangi
kita untuk bisa melihat realitas absolut.
Sebagai akibatnya, dunia-dunia kita makin lama menjadi semakin kecil.
Seluruh hidup kita menjadi terpusat pada
kebutuhan dan keinginan-keinginan.
Hidup kita tersita oleh apa-apa yang kita makan,
minum, beli serta miliki dan menjadi terikat pada hal-hal yang mendasar dan
primitif.
Satu-satunya realitas kita hanyalah dunia
material dan urusan jasmani.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, waktu yang
kita jalani di dunia materi ini hanya sekejap dibanding kehidupan kemudian yang
menanti kita.
Para
penduduk dimensi-dimensi makro sangatlah besar dan beragam, namun secara
kolektif kita melabeli semuanya sebagai ‘malaikat’. Dalam kenyataannya, mereka
adalah mahluk-mahluk dari bidang kesadaran yang lebih tinggi.
Jika kita tak mengenali kebenaran ini sekarang,
kita tak mempunyai kesempatan lagi untuk mengenalinya di masa datang.
Sebagaimana komponen-komponen tubuh memiliki
fungsinya masing-masing, setiap organisme memiliki misi dan fungsi yang unik.
Sebagaimana tubuh astral, dalam tubuh fisik kita, memiliki kesadaran dan misi,
di bidang makro pun ada mahluk-mahluk sadar dengan misinya yang unik.
Jika matahari memerlukan 255 juta tahun untuk
mengitari Bimasakti, maka matahari hanya berumur 8 tahun karena baru mengitari
Bimasakti sebanyak 8 kali selama hidupnya.
Karena kita berjarak 32.000 tahun cahaya dari
pusat Bimasakti, atau ‘jantung’nya mahluk Galaktik ini, kita tidak lebih
hanyalah sebuah elektron di salah satu kulit permukaan galaktika ini, selain
ada milyaran elektron lainnya!
Seperti halnya kita, mereka lahir, tumbuh, dan
mati. Dan seperti kita, mereka tidak ‘hapus’ dengan kematian, karena bagi
mahluk-mahluk berkesadaran, kematian hanyalah sebuah peralihan dimensi.
Dipandang
dari sisi ini, betapa sia-sianya merasa gembira dengan apa yang kita peroleh,
atau merasa sedih karena kehilangan sesuatu di dunia ini. Sebagaimana tak
berharganya apa yang kita peroleh dan miliki dalam mimpi, begitu pula dengan
kepemilikan duniawi bagi kehidupan akhirat. Jika kita tak ingin kematian kita
membangunkan kita dari dunia mimpi ini menjadi realitas yang menyedihkan, kita
mesti membangunkan diri kita sendiri dari penyangkalan kita saat ini juga, dan
mulai membangun dunia nyata kita berdasarkan pengetahuan nyata.
Ketika kita bermimpi, banyak hal terjadi pada
tubuh kita. Kita tertembak, terpukul, bahkan mungkin menjadi cacat, namun kita
selalu bangun dalam keadaan baik-baik saja tanpa kekurangan apapun. Lebih dari
itu, perasaan ke’aku’an atau ‘ego’ tak pernah hilang.
Si ‘aku’
selalu hadir selama mimpi kita, apapun yang terjadi dengan tubuh nyata kita.
Ini karena tubuh dalam mimpi adalah tubuh yang bersifat spiritual, dan ruh
tidak tersusun dari komponen, maka ia tidak akan terpecah-pecah.
Hukum tertentu mengatur alam keberadaan yang tertentu
pula. Demikian pula dengan alam Akhirat, ia memiliki hukum dan aturannya
sendiri. Namun demikian, rasa ‘aku’ kita
tak akan berkurang, bagaimanapun cara kita hidup, atau kesenangan atau
kepedihan apa yang kita alami, kesadaran dan jiwa kita akan merasakan semuanya
sampai hal yang terkecil.
Bagaimana kapasitas jiwa dan kesararan-diri kita
nantinya?
Sejauh mana kita mengembangkan kapasitas ini di
dunia, hingga titik ajal, akan menjadi kapasitas yang tetap selama-lamanya, di
alam Akhirat! Apa yang gagal kita kenali pada dimensi keberadaan ini, tak ada
kesempatan kedua untuk kita kenali di masa datang…
Jika kita tidak memperkuat tubuh spiritual kita
sekarang, kita tak kan memiliki kesempatan untuk kembali ke dimensi ini untuk
memperbaikinya.
Apa yang tak dapat kita fahami sekarang, tak kan
pernah dapat difahami di masa datang.
Kita bukan hanya sebagai yang makro dari alam
mikrokosmos, melainkan juga yang mikro dari alam makrokosmos.
Nabi
Muhammad SAW mengatakan:
Ada
beberapa malaikat, yang telah mencapai tahap Keyakinan (Yaqeen)
yang bahkan tidak menyadari keberadaan
dunia ini atau manusia.”
Serupa dengan itu, kita tak menyadari sel-sel
yang terus lahir, tumbuh, melayani, dan mati dalam tubuh kita.
Jika kita tak mengembangkan kesadaran kita dan
memperluas pemahaman kita sekarang, jika kita tidak mengenal diri sendiri dari
sudut pandang ‘Dzt Absolut’ dan terhubung dengan sistemnya serta mencapai
realitas universal selama di dunia, kita tak kan pernah memiliki kesempatan
lagi selamanya. Ini karena kematian akan mengganti karunia dan kemampuan
duniawi dengan kualitas-kualitas yang lebih cocok dengan sifat dan kondisi
dimensi-dimensi berikutnya.
“Dan
siapapu yang buta di sini [kehidupan dunia] akan buta pula di Akhirat…” (Al-Qur’an
17: 72)
Tidak diragukan bahwa yang dimaksud buta dalam ayat ini bukan merujuk
kepada kondisi fisik, melainkan pada kebutaan
spiritual, atau, ketudakmampuan untuk mengenal dan mengevaluasi realitas.
Satu-satunya cara agar tercerahkan, dari jenis kegelapan ini, adalah dengan
melepaskan kesadaran kita dari informasi yang tak perlu dan keliru.
Nabi
Muhammad SAW mengatakan:
“Keadaan
saat kau hidup akan menentukan keadaan saat kau mati. Keadaan saat engkau
berubah dimensi-dimensi, adalah keadaan engkau akan melanjutkan keberadaanmu
selamanya, di Akhirat.”
Ringkasnya:
Kita
nampaknya menempati posisi pertengahan di jagat ini. Tepat di antara dunia
mikro dan makro. Manusia adalah titik peralihan di antara keadaan-keadaan
energi yang meliputi materi tak terwujud dan keadaan ‘supra’ materi.
Setiap
dimensi ditinggali oleh entitas-entitas khusus, sistem-sistem reseptor untuk
mengevaluasi entitas-entitas ini, dan persepsi materi berdasarkan
evaluasi-evaluasi ini.
Sel, dan realitas nyatanya, sebagai lawan realitas
yang dipersepsikan atom…
Alam jasmani, yang diciptakan otak kita, sebagai
lawan alam etheral dari mahluk-mahluk galaktika angkasa . . . Dan seterusnya.
Dari sudut asal dan esensinya, kesadaran, yang ada pada mereka semua,
berasal dari Satu Sumber: Ruh.
Dalam Sufisme, identitas Ruh dirujuk sebagai Manusia Sempurna (Al-Insan Al-Kamil), dan kesadarannya dinamakan Akal Awal (Aql-I Awwal).
Betapa pentingnya kita memahami tempat dan
struktur kita dalam dunia mikro dan makro tak-hingga ini. Betapa pentingnya
kita mencapai pemahaman ini agar tidak mati seperti milyaran orang yang
meninggal tanpa bisa menaklukan dirinya sendiri…
Mereka yang bisa melihat
kebenaran akan memandang kepada yang buta akan kebenaran dan berkata “satu lagi telah meninggal”, bagai daun
yang gugur dari rantingnya, kepergian kita tak bermakna apa-apa bagi jagat ini.
Maka berhentilah membuang-buang waktu dan energi
kita pada hal-hal yang pada akhirnya akan berpisah dengan kita. Mari memulai
hidup dengan kesadaran bahwa apa yang kita miliki, apa yang kita cintai, dan
semua harta duniawi akan ditinggalkan ketika kita melanjutkan perjalanan kita
ke dimensi berikutnya.
Mari kumpulkan lebih banyak apa yang akan
menerangi perjalanan kita ke depan; mari tingkatkan ilmu kita, tingkatkan kesadaran kita dan tingkatkan frekuensi
energi getaran kita.
Kini kita telah menyadari keadaan-keadaan materi
yang lebih tinggi, atau Alam Malaikat (Malakut), mari sekarang kita jelajahi
Alam Kekuasaan Agung (Jabarut).
Dalam bab-bab selanjutnya, ‘Penglihatan Dzat’ dan ‘Kekuasaan yang Esa’, Saya akan berupaya menerangkan bagaimana Dzat Absolut mengevaluasi keberadaan dengan atribut Ilmu, ketika kesadaran kita telah disucikan dan jiwa kita sudah bersih.
Catatan
Kaki:
4 Topik
ini telah dibahas pula secara lengkap dalam buku-buku saya Misteri Universal, Ruh Manusia Jin, Allahnya Muhammad dan Apa yang Dibaca Muhammad?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar