PENYIMPANAN DATA DI
DALAM OTAK
Sumber: The Observing One
Karya: Ahmed Hulusi
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
Proses penyimpanan ingatan dan informasi tiada
henti oleh otak dimulai sejak lahir dan berlanjut hingga datang kematian.
Beragam
jenis data sampai ke otak dalam bentuk gelombang. Dengan memrogram sel-sel
reseptor menurut frekuensinya sendiri, data mengambil alih aktivitas dari
sel-sel ini, dan memaksakan kandungan informasinya sendiri pada otak.
Tak ada bedanya, apakah kita menyebutnya sebagai pengkondisian, atau
pemrograman otak dengan informasi khusus, karena efeknya tetap sama.
Secara alami, otak dirancang untuk menyerap dan
menerima semua bentuk informasi. Ketika seorang anak kecil menyentuh kompor
panas, misalnya, dan kita meneriakinya “Jangan! Panas!”. Tanpa sengaja kita
mengkondisikan otak anak tersebut, sehingga ketika suatu waktu nanti
mendapatkan kompor panas, sang anak secara otomastis akan mendefinisikannya
sebagai ‘panas!..’
Begitulah, sepanjang waktu yang dilewati,
penilaian tertentu didiktekan kepada otak, membuat kita menerima pada keyakinan
palsu bahwa kita tersusun dari ‘tubuh fisik’. Karenanya, berdasarkan semua
informasi beragam yang disimpan di otak kita, kita mulai menyusun ‘standar penilaian’, dan terus melekat
hingga kematian. Kecuali jika kita mendapat informasi alternatif yang lebih
baik untuk mengganti informasi ini.
Semua informasi dan pengkondisian ini membuat kita beranggapan bahwa pengaturan tubuh kita ada pada kita. Sebagai akibatnya, kita mempersepsikan diri sebagai tubuh yang terpisah, dan muncul ide bahwa kita adalah ‘unit individu’, terpisah dari ‘keseluruhan’, dan ini menjadi rintangan terbesar kita. Sebagai akibat pengkondisian ini, kita terhukum oleh gaya hidup yang tercerabut dari ‘Esensi Universal’ sebagai asal kita.
Namun bagaimana dengan pengkondisian yang
berlebihan dari lingkungan yang selalu menerpa kita? Memang, lingkungan memasok
kita segala macam informasi, namun tentu tidak memaksakannya pada kita.
Mekanika
sistemnya tak mentolerir alasan.
‘Kita’ lah yang memutuskan informasi mana yang
mau kita serap. Terserah ‘kita’ untuk mengamati, mengkaji, menyelidiki data
yang diberikan, memeriksanya terhadap ilmu terkini yang kita miliki serta
mengujinya. Kita harus memeriksa data sesuai dengan temuan-temuan ilmiah,
menentukan apakah itu benar atau tidak, lalu membuat keputusan untuk
mengambilnya atau meninggalkannya, bukannya menerima segala yang diberikan
sambil menutup mata.
Secara metaforik, menerima setiap informasi yang
diberikan tanpa pengamatan sadar bagai mengubur kesadaran aktif kita ke dalam
kuburan tubuh yang mati, sehingga tak sadar dengan ‘kebebasan’ semu yang kita
rasakan. Seseorang yang tak dapat
membebaskan diri dari kuburan tubuhnya ketika hidup, tak akan dapat membebaskan
dirinya dari kuburan tanah setelah kematian!
Ketakmampuan kesadaran individual untuk mengenali
sifat kehidupan seperti-kuburan, yakni terkungkung oleh pengkondisian bidang
fisik, pasti akan mengakibatkan tubuh dan jiwanya terpenjara . Jika Akhirat
merupakan akibat dari kehidupan sekarang, maka kegagalan untuk melarikan diri
dari penjara tubuh kita, selama kehidupan kita di sini, akan menghasilkan
penjara yang berlanjut di Alam Kubur (qabir) setelah kematian, yang menahan
kita dalam kurungan ego kita, dan kuburan fisik.
Maka, mestinya prioritas pertama dan yang utama adalah
‘memahami kebenaran dari keberadaan kita secara sadar!’
Siapa kita sebenarnya? Apa kita itu? Bagaimana
kita itu?
Bukti menunjukkan bahwa keberadaan kita tak dapat
dibedakan dari tubuh fisik kita; tugas sesederhana apapun tak dapat kita
lakukan tanpa menggunakan fungsi-fungsi tubuh kita. Jika kita tak memelihara
tubuh kita, maka otak kita, yang ditopang oleh aktivitas dan masukan dari
tubuh, tak kan dapat melaksanakan begitu banyak fungsi sesuai rancangannya.
Selain itu, tubuh
astral yang disebut ‘ruh’, yang
melanjutkan kehidupan setelah kematian, menerima semua masukan dan kesadaran
dari otak. Karenanya penting bahwa otak benar-benar mendapatkan apa yang
dibutuhkannya. Sebagai pencipta dan mediator dari ruh, otak mengunggah sifat-sifatnya sendiri kepada tubuh yang
dioperasikannya, memperkaya tubuh dengan sifatnya sendiri. Maka penting bahwa
kita agar otak mendapatkan hak-haknya, tanpa
menutupi kesadaran kita dan tidak terperangkap oleh keinginan-keinginan tubuh.
Kegagalan untuk melaksanakan hal ini akan merintangi perkembangan-diri kita dan
dengan mudah mengakibatkan kerugian yang terukur.
Hanya ketika kita kehilangan tubuh kita, dan setelah
melihat bagaimana rasanya berada dalam kesadaran
murni, kita akan dapat membayangkan sampai titik mana kita telah menyengsarakan
diri kita. Namun sayang, itu akan terlambat, karena kita harus kehilangan kesempatan
untuk memperbaiki kerugian kita.
Karenanya, sangat-sangat penting untuk memahami tubuh, fungsi sejatinya, ruh dan tujuannya. Siapa sebenarnya si ‘Aku’, yang terkandung dalam ‘jiwa’ kita, yang membawa di dalamnya ‘Esensi’ dari keberadaan kita? Apa sebenarnya kesadaran itu? Apa saja sifat-sifatnya?
Dengan pemahaman murni terhadap realitas-realitas
ini, kita dapat mengadopsinya dalam gaya hidup kita. Ini akan meningkatkan
kualitas hidup kita, juga melindungi kita dari konsekuensi ke depan. Sedangkan
hidup dengan ketidakacuhan hanya akan berakibat kerugian.
Seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an:
“Siapa
yang berbuat kebaikan seberat atom pun akan melihatnya, dan siapa yang berbuat
kejahatan seberat atom pun akan melihatnya.” (Al-Qur’an 99: 7-8)
“Dan
engkau tidak akan menemukan dalam Sistem Allah (Sunnatullah) perubahan
apapun.” (Al-Qur’an 48:23)
Setiap
orang, menurut aturan-aturan dan kriteria dari sistem ini, bisa melaksanakan
atau gagal melaksanakan perbuatan yang diperlukan untuk kebebasan mereka.
Alasan apapun akan sia-sia.
Rasulullah
[perwujudan ilmu Allah] menasihati kita dengan amal yang akan bermanfaat bagi
kita, dan mengingatkan kita mengenai perbuatan-perbuatan yang tertolak.
Ajaran ini ditawarkan kepada kita bukan dengan paksaan, melainkan dengan nasihat, peringatan, dan ajakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar