JAGAT HOLOGRAFIK DARI
PIKIRAN ANDA
Sumber: The Observing One
Karya: Ahmed Hulusi
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
Percaya atau tidak, memahami atau tidak, ada satu
realitas ilmiah:
Anda
hidup dan tinggal di dalam imajinasi Anda dan hanya imajinasi Anda!
Gelombang-gelombang elektromagnetik, yang sampai ke otak Anda melalui semua indra Anda, dinilai oleh platform data yang ada dalam otak Anda dan menciptakan dunia holografik multi-dimensi dimana Anda tinggal. Siapapun Anda, Anda tidak hidup atau ada di dunia luar – Anda hidup di dunia imajinasi yang ada dalam pikiran Anda.
Sesuatu hal apapun, yang Anda indera atau nilai,
tidak lebih dari sekedar persepsi Anda mengenai hal keberadaannya.
Setiap orang hidup dan akan terus hidup, tanpa
batas, di dalam dunia ciptaannya sendiri. Surga dan neraka anda akan ‘nyata’
senyata dunia imajinasi yang Anda lihat sekarang.
Segala sesuatu yang ada di dunia Anda berada di
sana berdasarkan nilai-nilai yang dibentuk oleh pangkalan data dari otak anda… Semua,
yang membuat Anda gembira dan sedih, adalah berdasarkan nilai-nilai tersebut yang
ada dalam pangkalan data pribadi Anda.
Kini
saatnya untuk pembaruan!
Inilah waktunya untuk menemukan keberadaan
potensial quantum kita; pembangkitan elektromagnetik kosmik kita; keberadaan
holografik multi-dimensi yang diciptakan konverter kita, yang biasa disebut
sebagai otak!
Mari kita akhiri semua omong kosong mengenai kafe
quantum, pengobatan quantum, kue quantum, dan bangunlah menuju realitas!
Namun pertama-tama, mari mengenal hal berikut
ini:
Kini saatnya merekonstruksi total
pengajaran-pengajaran yang disampaikan kepada kita oleh Rasulullah Muhammad SAW,
Al-Qur’an, para wali dan mereka yang
tercerahkan, yang mengkomunikasikan pesan mereka melalui isyarat-isyarat,
perumpamaan dan metafora. Kini waktunya untuk memandang pengajaran-pengajaran
mereka dengan mengingat semua fakta ilmiah dan sumber daya yang tersedia dewasa
ini.
Otak paling agung yang pernah terwujud di bumi
adalah otaknya Rasulullah Muhammad SAW.
Dia menyingkapkan kepada manusia realitas absolut. Mereka yang dapat memahami
kebenaran ini, yang telah memiliki kemampuan untuk ‘MEMBACA’, akan mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah suara dari Yang Absolut.
Hazrat Ali, mereka yang akhir-akhir ini
tercerahkan, dan semua ahli kebatinan telah mencapai ‘realitas’ dengan
‘MEMBACA’ sistem ini juga telah menjelaskan kebenaran universal yang sama,
namun melalui beragam simbol dan contoh yang tersedia bagi mereka pada jamannya.
Dengan fakta bahwa kebenaran universal telah
disampaikan kepada kita, secara berulang-ulang, melalui penggunaan simbol dan
metafora, kita pun dapat menganalisa topik tersebut lebih jauh dengan melalui
analogi:
Mari kita anggap bahwa seorang manusia moderen di
jaman sekarang, yang menggunakan hari-harinya berselancar di internet,
berkomunikasi secara global menggunakan telepon internet, mengetahui semua yang
terjadi di penjuru dunia dalam hitungan menit melalui aliran berita real-time,
dikirim mundur 1000 tahun ke peradaban lampau yang tidak pernah menggunakan
atau mengetahui tentang kelistrikan. Bagaimana orang seperti itu harus
menjelaskan peralatan yang dipakai di jaman sekarang ke pada orang-orang di
sekitarnya? Sedekat apa persepsi mereka terhadap kebenaran? Bahkan bagaimana mereka dapat mulai
mengerti realitas sebenarnya dari apa yang dijelaskan kepada mereka?
Seperti itulah, banyak individu yang tercerahkan
di masa lampau telah mencoba mengkomunikasikan kebenaran universal kepada kita
melalui penggunaan simbol-simbol, metafora dan pemisalan di jamannya, untuk
membangunkan kita kepada realitas yang bahkan hingga kini belum benar-benar
terkuak!
Beberapa orang mampu menafsirkan dan memahami
arti dan esensi sebenarnya dari pesan-pesan ini, dan beberapa yang lain tanpa
memiliki kapasitas untuk memahami pengetahuan demikian, mengambil permisalan
ini secara harfiah dan gagal untuk memahaminya.
Untuk itu, hal pertama yang harus kita lakukan
adalah meninggalkan omong kosong bahwa
agama dan sains merupakan dua hal yang terpisah dan menegakkan kembali
kebenaran-kebenaran agama dengan menggunakan bahasa sains!
Sistem yang sekarang diupayakan sains untuk mengungkapkanya tidak lain dari sistem yang ‘DIBACA’ individu agamis di masa lampau, dan disampaikan melalui beragam metafora dan analogi. Realitas, seperti yang dijelaskan Rasulullah Muhammad SAW, Al-Qur’an, dan semua jiwa yang tercerahkan, sebenarnya adalah medan ilmu yang ingin dicapai sains dewasa ini. Untuk alasan inilah tepatnya, metafora agama harus digunakan sebagai katalis dalam penyelidikan ilmiah, bukannya menjadi kisah-kisah mitologis bagi pikiran!
Sebaliknya, jika kita merendahkan kebenaran
absolut dan universal yang ditawarkan agama dengan postulat-postulat bahwa perkembangan
ilmiah tak ada hubungan sama sekali dengan esensi pengajaran agama, maka selamanya
kita akan menderita karenanya.
Selama kita gagal untuk merubah pemahaman agama,
dari pandangan bahwa Tuhan ‘ada di atas
sana’ menjadi ‘kebenaran universal dan absolut tak hingga dari Allah’, pasti kita akan hidup dengan
kekecewaan yang tragis karena menyadari bahwa realitas yang kita yakini hanya
ilusi, yang akan langsung hancur di hadapan kita!
Satu-satunya jalan menuju kebenaran absolut
adalah dengan memahami realitas ‘Allah’
seperti yang dijelaskan Rasulullah
Muhammad SAW, karena beliau tak pernah mengatakan Tuhan ‘di atas sana’ dan tak pernah
menganjurkan untuk ‘mencariNya dimanapun
di luar diri kita! Muhammad SAW
bukanlah kurir atau utusan Tuhan di luar sana! Ini hanya pikiran yang
ketinggalan jaman dan primitif!
Dia adalah Rasulullah;
ceruknya ilmu Allah!
Jika Anda ingin menyelidiki ajaran AGAMA, Anda
harus melakukannya dengan melihat ke
dalam ‘diri’ Anda sendiri, otak Anda, hakikat keberadaan anda, bukannya
memandang ke ruang angkasa atau mengamati langit.
Potensial
Quantum … yang dalam Sufisme disebut sebagai ‘Dimensi Nama-nama’, adalah potensial
tak-hingga, asalnya perwujudan tak-hingga dilahirkan. Berbeda jauh dengan dunia
‘konseptual’, ini merupakan keadaan dimana semua konsep seperti waktu, ruang,
bentuk, dan setiap batasan sama sekali tak terpakai!
Sifat-sifat dan kualitas komposisional yang tak
terhitung ini, dalam potensial tak hingga, menunjuk kepada beragam Nama-nama Allah. Tidak ada pewujudan
lokal dari Nama Allah di sini, hanya potensialnya saja! Dalam Sufisme, keadaan
ini disebut sebagai ‘Pengamat yang melihat ilmuNya dengan ilmuNya dalam
ilmuNya’ karena Allah bersifat ‘Alim
(yang Satu yang, dengan kualitas ilmuNya, mengetahui segala sesuatu tanpa batas
dalam setiap dimensi dengan seluruh aspeknya) dan ini merupakan dimensi dari
Ilmu Tanpa BatasNya! Salah satu makna dari ayat “Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin, ar-Rahman, ar-Rahim” yakni “Hamd (Melihat dan menilai kesempurnaan
universalNya) milik Rabb-nya seluruh alam (sumber arti tak hingga dari Nama-nama)
yang Rahman dan Rahin” dalam surat pembuka Al-Qur’an yakni ‘Al-Fatihah’ merupakan
realitas. Apa yang disebut oleh para ahli Sufi sebagai Kesatuan Kesaksian (Wahdat
al-Syuhud) juga merujuk kepada dimensi ini.
Seseorang tak dapat berbicara mengenai ekspresi, manifestasi, ataupun materialisasi dari dimensi ini!
Dimensi
dari ekspresi Elektromagnetik Kosmik diciptakan dalam,
dan oleh pengetahuan potensial quantum… Ini adalah dunia imajiner ke dua, dan
turunan dari semua dimensi lain. Esensinya terbuat dari cahaya ilusi berupa samudera
gelombang. Yang dapat, atau tak dapat, dipersepsikan tampil sebagai panjang
gelombang dalam dimensi ini. Jenis otak yang berbeda dari spesies yang berbeda
merupakan konverter (pengubah) kompsisional dari medan gelombang yang sangat
luas ini. Ayat, “Maliki yaumiddiin” (Penguasa Hari Pembalasan) dalam surat
pembuka Al-Qur’an (Al-Fatihah) merujuk pada kebenaran ini. Kesatuan Keberadaan (Wahdat al-Wujud) dari Sufisme berkenaan dengan
tingkat realitas ini.
Otak…
Konverter-gelombang dari keberadaan! Setiap individu menciptakan dunia
holografiknya sendiri melalui konverter ini, dan setiap individu tinggal di
dalam dunia holografiknya sendiri, sementara dia berpikir bahwa dia hidup dalam
dimensi fisik eksterior (luar). Formasi ini lah yang dijelaskan secara rinci
sebagai ayat “Iyyaka na’budu wa iyyaka
nasta’in” (Hanya kepadaMu kami mengabdi, dan kepadaMu kami mencari
pertolongan) dari surat Al-Fatihah.
Ruh…
totalitas dan pokok dari semua ‘makna’. Ini merupakan inti, esensi, dan ‘ruh’
dari setiap keberadaan. Ini juga merujuk kepada ‘kehidupan’ karena setiap
bagian keberadaan memiliki hidup, dimana hidupnya adalah ilmunya. Sungguh,
kehidupan dan ilmu merupakan atribut yang tak terpisahkan! Tingkat perwujudan
ilmu merupakan refleksi dari tingkat kesadaran. ‘Makna’ dan nilai, dari setiap
mahluk, tercerminkan melalui ruhnya. Berdasarkan pemahaman ini, kita dapat
merujuk kepadanya sebagai ekspresi
dimensi elektromagnetik kosmik, yang dalam Sufisme dikenal sebagai Ruh
Agung (Ruh-ul Azam), Akal Pertama (Aqli Awwal) dan Realitas Muhammad (Haqiqat Muhammadiyyah). Perlu diingat
bahwa istilah-istilah ini tidak merujuk kepada suatu obyek atau kepada
seseorang, tetapi kepada realitas tertentu.
Allah…
Potensial quantum layaknya sebuah ‘titik’ mengenai yang Satu yang bernama Allah. Satu titik di antara titik-titik
lainnya yang jumlahnya tak terhingga! Satu titik refleksi dalam Ilmu
AbsolutNya… Disposisi dari satu alam, dari satu Nama, dari tengah-tengah ‘dunia
Nama-nama’ tanpa batas.
Yang Satu yang mengetahui Nama-namaNya dengan,
dan melalui, Esensi AbsolutNya, dan ‘melihat’ KekuasaanNya pada Nama-namaNya!
Yang Satu yang menyingkapkan-diri dan melihat realitasNya, dengan mewujudkan
sifat-sifat unikNya melalui ciptaanNya.
Yang Satu yang menciptakan sang ‘Aku’ dan yang
mengklaim ‘Akulah’ melalui setiap perwujudan ‘Aku’, namun pada saat yang sama
jauh melampaui pengindera manapun atau untuk dapat terinderakan!
Yang Satu yang tak dapat dikandung dalam bentuk
atau persepsi apapun. Mengingat realitas ini, kita hanya bisa mengucapkan: “Allahu
Akbar”2 (Allah Maha Besar).
Mengingat semua ini, mari kita lanjutkan topik mengenai jagat kita dan mengenai otak…
Sangat penting bagi kita untuk memahami bahwa
otak kita menciptakan dunia holografik multi-dimensi dimana kita tinggal. Tapi bagaimana kita dapat berpikir bahwa
kita berada di dunia luar sedangkan kenyataannya kita hidup dalam kepompong
imajinasi kita?
Pertama-tama, apa itu mimpi ini, di dalam mimpi,
di dalam dunia holografik ‘mirip-mimpi’ dan bagaimana ini dibangun dan disusun?
Dan bagaimana dunia dalam (batin) ini
berinteraksi, jika demikian, dengan dunia luar?
Masing-masing kita berperan sebagai ‘raja’ atau
‘ratu’ di jagat kita sendiri; sedangkan orang lain sebagai figuran atau aktor
dalam sandiwara kita! Peran-peran yang kita berikan kepada orang-orang dalam
hidup kita bergantung pada ‘persepsi’ kita siapa mereka itu, berdasarkan
pangkalan-data nilai-nilai yang ada sebelumnya yang kita miliki. Karenanya,
kita tertawa dan menangis, kita bersedih dan bergembira dengan gambar-gambar
terimajinasi ini yang kita akui ke dalam dunia imajinasi kita!
Seperti telah disebutkan di atas, otak merupakan konverter gelombang… Otak menerima
gelombang tak-hingga (ruh) melalui kelima indera dan saluran lainnya,
mengevaluasi dan dan menerjemahkannya menurut pangkalan-datanya, kemudian
menilainya dan memproyeksikan penilaian ini kepada imajinasinya! Sebagaimana TV
mengubah gelombang yang diterimanya menjadi gambar-gambar pada layar kaca.
Karenanya, sejak usia yang sangat muda, kita terus menyusun dan menyusun-ulang
jagat multi-dimensi di dalam otak kita, dan berpikiran selama itu bahwa kita
hidup di dunia luar.
Bukti
ilmiah menunjukkan bahwa apa yang kita kira lihat, dengar, cium, dan kita rasa
dengan lidah dan kulit sebenarnya merupakan beragam frekuensi gelombang yang
sampai ke otak kita dan diubah menjadi panjang gelombang tertentu yang kita
definisikan sebagai ‘penglihatan’ atau ‘penciuman’ dll, dan karenanya membentuk
dimensi holografik multi-dimensi dimana kesadaran tinggal!
Pendeknya, masing-masing kita hidup di dalam dunia imajinasi unik kita dan akan terus
demikian tanpa batas!
Apa yang kita persepsikan dan keluarkan sebagai
‘pandangan’, berdasarkan data yang kita terima dari orang atau obyek di sekitar
kita, bukan lain adalah sebuah ‘instans’
(perwakilan, istilah dalam komputer grafis, pen) dari keberadaannya. Serupa
dengan kerangka dari gambar dalam filem, penglihatan yang kita asumsikan
sebenarnya berdasarkan data yang kita terima dan ubah menurut pangkalan-data
kita, dari satu kerangka diam!
Dengan
menyusun gambar-gambar ini dari beragam instans secara berdampingan satu sama
lain, kita menyusun album-album dan album-album foto dan menghabiskan hidup
kita dengan membuka lembarannya satu demi satu!
Ketika kematian, otak tidak lagi menerima data
yang masuk, karena kabelnya telah ‘dicabut’ dan terputus dari dimensi
gelombang-gelombang ini. Ketika kita berpindah ke bidang keberadaan berikutnya,
alam Akhirat, album-album ini dikumpulkan selama kehidupan kita di bumi dan satu-satunya perbekalan yang dapat kita
bawa dalam perjalanan. Pada akhirnya, kita
akan memulai hidup baru pada dimensi yang baru, dan proses konversi data yang
sama akan berulang menggunakan sinyal-sinyal yang diterima dari bentuk
kehidupan dimensi ini sebagai masukan, dan album-album yang ada yang kita
miliki sebagai pangkalan-datanya!
Otak memberikan instans yang sangat berdayaguna
sebagai data primer dan menciptakan semacam memori tersembunyi (cache memory) untuk akses ke depan yang
cepat. Ini serupa dengan cara komputer kita mengingat halaman yang dikunjungi
sebelumnya dari memori cache. Seperti
itulah adanya, setiap kita menghadapi hal yang ‘ditafsirkan’ sebelumnya, baik
itu mengenai seseorang, benda ataupun keadaan, otak kita secara otomastis
memunculkan ‘ingatan’ yang paling populer dari hal tersebut. Dengan segera,
kita akan mulai menafsirkan dan ‘menilai’ dan bahkan mengalami emosi-emosi
tertentu, semuanya berdasarkan pada beberapa informasi yang disimpan di masa
lampau! Bentuk evaluasi prakondisi ini adalah bentuk halangan terbesar pada
perkembangan seseorang.
Nabi Muhammad
SAW telah memperingatkan kita mengenai hal ini dengan perkataan:
“Jika
engkau tidak bertemu seseorang selama setahun, ketahuilah bahwa orang yang kau
temui hari ini bukanlah orang yang kau temui setahun yang lalu!”
Karena alasan inilah kita harus terus
menjernihkan pengkondisian yang ditetapkan sebelumnya – menghapus ‘cache
memory’ kita – sehingga kita dapat mengevaluasi ulang setiap keadaan, sesuai
dengan masukan data terkini.
Walaupun nampak sebagai segumpal daging dengan
infrastruktur berbasis-neuron, otak sebenarnya asalah massa frekuensi yang
belum difahami dan terpecahkan sepenuhnya oleh tingkat pengetahuan ilmiah
terkini sekalipun. Mengingat hal ini, kami merujuk pada jaringan gelombang
rumit ini sebagai ‘RUH’ dan esensinya sebagai ‘Cahaya’ (Nur). Nur adalah
ilmu, ia adalah ‘data’. Ia laksana
paket ‘makna’ tanpa akhir dan abadi.Inilah sebabnya dikatakan bahwa “kita akan merasakan kematian’, bukannya
‘berhenti ada’!
Mari ingat kembali bahwa seseorang, di hadapan kita,
juga hidup dalam dunia kepompongnya, atau dengan kata lain, dalam jagat
holografik multi-dimensi mereka. Ketika otak kita mengubah gelombang-gelombang
data dari kejadian yang berhubungan dengan keberadaan fisiknya, dia mengambil
tempat di dunia holografik kita dan kita mengira bahwa orang tersebut ‘ada’!
Namun kenyataannya, kita ‘mendefinisikan’ keberadaannya, karakternya, perannya
dan bahkan pengaruhnya terhadap kehidupan kita!
Inilah mengapa para master Sufi besar merujuk
kepada kehidupan ini sebagai ‘mimpi’, dan mengenai ini mengatakan, “Kita datang
sendirian, hidup sendirian, dan mati sendirian”.
Beberapa dari kita terkungkung dalam kepompong
(dunia holografik multi-dimensi) yang menyerupai istana, sementara yang lainnya
hidup di tempat kumuh; beberapa dari kita menghiasi rumah kita (otak) dengan
koleksi berharga, sementara yang lainnya mengumpulkan sampah. Beberapa dari
kita bahkan tak memiliki rumah dan dipanggil dengan sebutan ‘tuna-wisma’ (atau
plesetannya ‘tak-berotak’)
Jagat
holografik kita adalah dunia yang akan kita tempati untuk selamanya. Bagaimana
kita menafsirkan instans gelombang data yang kita terima, siapa dan apa yang
kita akui ke dalam dunia kita dan dimana kita menempatkan mereka apakah akan
menciptakan surga, atau neraka kita.
Instans dari gelombang data yang sampai ke otak
kita akan dievaluasi dan didasarkan apakah itu pada ‘sampah’ yang kita bawa ke
dalam rumah kita, atau didasarkan pada rumah baru yang kita bangun dengan
bimbingan sistem universal ‘Sunnatullah’3. Dunia, alam antara,
kebangkitan, surga dan neraka, semuanya dialami di dalam, dan semuanya dibentuk
oleh, penafsiran dan penilaian pribadi kita.
Pada saat kematian, setelah otak ‘dimatikan’ dan
berhenti berfungsi dalam bentuk ‘daging’nya, ‘system reboot’ akan terjadi dan
hidup kita akan berlanjut dengan cadangan (back-up) dari otak astral
(gelombang) kita. Karenanya, kami melihatnya penting untuk membuat back-up
dengan ilmu yang kokoh dan bermanfaat!
Segala sesuatu yang diuraikan dalam Al-Qur’an dan oleh Nabi Muhammad SAW adalah realitas dan akan hidup! Hal yang penting adalah
memecahkan arti dari ayat-ayat ini dengan benar, tanpa salah menafsirkannya
atau mengambilnya secara harfiyah.
Sebagai contoh, Nabi Muhammad SAW
mengatakan bahwa manusia akan
dibangkitkan (diciptakan kembali) dari tulang ekornya di akhirat.
Menafsirkan sabda ini sebagai kebangkitan fisik tubuh yang terbuat dari daging
dan tulang adalah sebuah kejahilan. Jelas sekali bahwa ini adalah sebuah
metafora untuk menunjukkan bahwa suatu ‘bentuk kehidupan’ akan berlanjut
setelah kematian.
Contoh lain misalnya, beliau mengatakan “matahari akan muncul dalam jarak satu mil dari bumi”. Hal ini sesuai dengan pemahaman ilmiah dewasa ini bahwa pada akhirnya matahari akan menelan bumi, dan bumi akan menguap.
Umat Islam bahkan salah memahami ayat yang
berkaitan dengan ‘ruh’. Ketika para ulama
Yahudi menanyakan tentang ruh
kepada Nabi Muhammad SAW, sebuah ayat diwahyukan sebagai jawabannya, dengan
menyatakan “Sedikit yang telah dibukakan
kepada kalian tentang ruh”. Ayat ini berbicara kepada para ulama Yahudi,
mengatakan kepada mereka bahwa
‘sedikit atau tak ada pengetahuan’, mengenai ruh, yang diberikan kepada umat Yahudi. Sungguh, ada informasi yang
cukup banyak mengenai ruh di dalam Islam, seperti yang dikatakan Ghazali,
“Seseorang yang hampa dari pengetahuan ruh
tak kan dapat mencapai pencerahan.”
Ruh kita adalah keberadaan kita sebenarnya! Ia
adalah dunia kita. Nabi Muhammad SAW
mengatakan:
“Ruhmu
adalah tubuhmu dan tubuhmu adalah ruhmu.”
Kita adalah apa yang kita persepsikan!
Namun …
Dalam diri kita juga terdapat potensi
kekhalifahan, yang telah kita abaikan! Kita
menjadi tidak sadar lagi terhadap gerbang yang ini, yang membuka kepada dimensi
ekspansi elektromagnetik kosmik kita!
Jika kita membentuk dan mengisi dunia kita dengan
kemakmuran yang menanti kita di balik gerbang kekhalifahan (sifat-sifat dari
dimensi Nama-nama), maka dunia kita akan berubah bentuk menjadi surga dan pada
akhirnya akan bersatu dengan Allah. Ayat berikut merujuk kepada pemurnian dunia
seseorang, yakni persepsinya!
“Sungguh
beruntung orang yang membersihkan diri” [Qur’an 87:14]
Kita
merajut dunia kepompong kita, bukan hanya dengan informasi genetik warisan
namun juga dengan semua pengkondisian yang kita terima selama hidup kita.
Pangkalan-data kita sepenuhnya ‘berdasarkan’ pada nilai-nilai prakondisi ini,
yang menyalurkan dan membentuk hidup kita, untuk menjadi lebih baik atau lebih
buruk!
Pendek kata, hidup kita semata-mata berdasarkan pada
dunia luar. Kita tak pernah benar-benar menyadari bahwa hidup kita dihabiskan
dalam kepompong yang kita rajut sendiri, dan bukan di dunia luar!
Walaupun kita mengalami contoh keberadaan
seperti-kepompong setiap malam ketika pergi tidur, kita tidak mengenali atau
memikirkannya! Dalam tidur, kita sama sekali sendiri, tak ada teman, meski
mungkin berbaring di samping kita, tak ada anak, di ruang sebelah, tak ada
siapapun bersama kita!
Ketika kita mengalami kematian dan berpindah ke
beradaan non-materi, semua kesan saat itu juga ditinggal, termasuk orang-orang
dan benda-benda. Kita melangkah sendiri dalam perjalanan kita, hanya membawa
pengkondisian dan persepsi kita.
Tujuannya adalah membersihkan pikiran kita dari
penilaian yang ditetapkan sebelumnya, berdasarkan gelombang data
instans-instans, dan merenovasi dunia-dunia holografik kita dengan bahan yang
penting, sedemikian rupa sehingga berubah dari rumah kumuh menjadi sebuah
istana yang pantas bagi seorang sultan.
Seorang sultan adalah orang yang hidup yang
sesuai dengan Nama-nama Allah, seorang khalifah!
Seseorang yang dapat memecahkan kepompongnya akan
beruntung dan dipromosikan ke dimensi ekspansi elektromagnetik kosmik sebagai
teman Allah (waliyy), dimana dunianya
akan ‘seperti-surga’.
Nabi Muhammad SAW mengatakan:
“Di
surga, masing-masing orang akan memiliki dunianya sendiri, yang terkecil
darinya 10 kali lebih besar dari bumi, dan kepada mereka dikatakan: ‘Berharaplah
pada apa yang engkau inginkan, karena keinginanmu akan dikabulkan!’”
Dengan kata lain, tiap-tiap orang akan menjadi
sultan dari dunianya sendiri.
Bagi mereka yang memilih hidup di tempat kumuh,
yakni yang tidak mengembangkan otaknya dan hanya mengisinya dengan sampah, akan
menerima akibatnya selama-lamanya!
Maka gunakanlah otak Anda dan amati serta
evaluasi kebenaran secara ilmiah atau patuhlah kepada jalan yang dicontohkan
untukmu oleh Nabi muhammad SAW – karena tidak ada yang lain yang dapat
menyelamatkan.
Catatan kaki:
2.
Untuk keterangan lebih lanjut, silakan merujuk kepada artikel yang bernama
‘Akbariyah’.
3.
Sunnatullah artinya hukum-hukum dan perintah Allah, yakni aturan (mekanika)
sistem, hukum yang mengatur alam-alam yang terwujud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar