YANG MAHA MELIHAT
Sumber: The Observing One Karya:
AHMED HULUSI
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
“MEREKA TAK MEMPUNYAI PILIHAN! …”
(Qur’an
28:68)
“SEBUAH PERTANYAAN ADALAH SETENGAH DARI
ILMU.”
Muhammad
SAW
“Tak ada bencana yang
menimpamu di bumi (pada tubuh fisik mu dan dunia luar) atau pada dirimu sendiri
(dunia batin mu) melainkan telah tertulis dalam kitab (terbentuk dalam dimensi
ilmu) sebelum Kami mewujudkannya! Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi
Allah.”
“Kami sampaikan ini
kepadamu agar kamu tidak berdukacita atas apa yang luput darimu atau terlalu
gembira (bangga) terhadap apa yang diberikanNya kepadamu, karena Allah tidak
menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri!”
(Qur’an 57: 22-23)
NYATA
ATAU MIMPIKAH?
Menurut pandangan ilmiah;
Jika kita dapat memahami kebenaran, kita dapat
mengerti bahwa mahluk yang sadar, sebagai bagian dari dunia ini, dengan cara
dan bentuk apapun tidak akan dapat mengulangi hidupnya dan kembali ke bumi
melalui tubuh yang lain. Alasannya sederhana, pergerakan yang dibolehkan di
jagat ini hanyalah maju ke depan.
Jika
saja kita dapat melewati tubuh biologis dan merealisasikan kehidupan holografik
radial … Jika saja kita dapat melompat ke kesadaran murni dan menemukan esensi (haqiqat)
diri dalam Esensi keberadaan … kita mungkin akhirnya akan mencapai kebenaran
mengenai tahap-tahap kehidupan kita sebelumnya, dan menyadari bahwa sebenarnya
kita tak pernah ada sejak awalnya.
Bagaimana ini dapat dicapai?
Sebelum menjawab pertanyaan penting ini, mari
kita pikirkan hal berikut ini:
Sementara esensi tegas dari keberadaan kita
adalah kesadaran yang berasal dari ketiadaan, mengapa kita menurunkan diri
kita menjadi keadaan material yang tak berhias, membatasi diri sendiri sebagai
daging dan tulang, dan mendefinisikan diri sebagai mahluk bumi, yang dibatasi oleh jarak dan waktu?
Jika saya bertanya kepada Anda ‘Berapa umur Anda?’,
misalnya, Anda mungkin menjawab ‘Umur saya 30 tahun’. Tapi benarkah itu?
Berdasarkan apa Anda mengatakan 30? Apakah ini angka absolut atau relatif?
Mari kita melihatnya dari perspektif ilmiah:
Karena kehidupan terkini Anda berhubungan dengan
tubuh fisik, dan tubuh fisik ada terhubung ke bumi dimana Anda tinggal, Anda
berasumsi bahwa Anda berusia 30 tahun, berdasarkan waktu bumi.
Sesuai dengan perhitungan ini, jika Anda misalnya
hidup 30 tahun lagi, Anda akan meninggalkan bumi pada usia 60. Tapi bagaimana
setelah Anda meninggalkan bumi, apakah Anda akan berpikir bahwa Anda berusia 60
tahun?
Bumi mengitari medan magnet matahari dalam
orbitnya. Ini berarti bahwa setiap mahluk hidup di bumi mengambil kehidupannya
dari energi matahari. Secara teoritis, kita dapat mengatakan bahwa bintang yang
disebut matahari merupakan
perwujudan Sifat-sifat Hidup Allah
di jagat ini. Atau, jika bukannya energi
surya, kita bisa menyebutnya ‘kekuatan
malaikat yang menyusun matahari’.
Semua bentuk kehidupan, pada semua benda langit
di dalam sistem tatasurya kita, memperoleh hidup dan bentuknya dan melanjutkan
keberadaannya dengan kekuatan malaikat ini, pada kedalaman dimensional
matahari.
Otak, yang menyusun kesadaran individual, menilai
beragam dimensi ini dengan menggunakan reseptor pengindra. Dan berdasarkan
penilaian-penilaian ini, otak menggabungkan dirinya kepada medan data yang ditangkap
reseptor.
Manusia, yang memulai perjalanannya di bumi
dengan tubuh biologinya, melanjutkan tahap kehidupan berikutnya dengan
menggunakan tubuh radial astralnya yang dihasilkan otak biologinya ketika hidup
di bumi.
Karena orang yang ‘merasakan kematian’ terlepas dari tubuh fisiknya dan melanjutkan kehidupan berikutnya di Alam
Kubur (qabir), atau ke keberadaan lepas dalam Alam Antara (Barzakh) dengan
diri radial astralnya, bumi sama sekali lenyap dari medan pandangannya. Mereka
memulai bentuk kehidupan baru di dalam medan magnet bumi, mengitari matahari.
Dengan kata lain, mereka memulai hidup di bawah pengaturan matahari dan energi
surya, dan karenanya tunduk kepada
satuan waktu matahari, hingga hari kiamat.
Berapa lamakah satu tahun galaktik, atau satu
tahunnya menurut satuan waktu matahari?
Seperti kita ketahui, satu tahun adalah waktu
yang diperlukan bumi untuk mengelilingi matahari.
Satu
tahun galaktik, karenanya, adalah waktu yang
diperlukan matahari untuk mengitari pusat galaksi kita, Galaksi Bimasakti. Untuk mengitari titik ini, dari jarak sekitar
32.000 tahun cahaya, akan memerlukan
waktu 255 juta tahun waktu di bumi. Karenanya, satu tahun galaktik adalah
255 juta tahun bumi.
Berdasarkan pengertian ini, seseorang yang
meninggal di bumi pada usia 70 tahun hanya
hidup selama 8,6 detik saja menurut dimensi keberadaan nyatanya. Ketika
orang ini berpisah dari tubuh biologisnya saat kematian dan memasuki Alam
Antara (Barzakh), platform orbit dan energi matahari, rentang waktu hidup yang
nampaknya 70 tahun pada kenyataannya hanya
lah 8,6 detik!
Rasanya seperti ketika kita bangun dari mimpi yang panjang, yang pada
kenyataannya hanya berlangsung selama 50 detik. Cobalah untuk mengingat saat
terakhir anda mengalami mimpi seperti itu. Ingatlah berapa lama rasanya selama
bermimpi dan berapa lama setelah Anda bangun. Sekarang, coba dan bayangkan
relevansi dari ‘mimpi dunia’ ini dari
sudut pandang akhirat, dimana lamanya Anda hidup di dunia akan terasa tidak
lebih dari 7 atau 8 detik saja!
Kesimpulannya, sebagai mahluk sadar, kita adalah
warga keberadaan dari dimensi yang lebih besar dan tunduk kepada nilai-nilai
dan hukum-hukum sistem ini. Namun, kapasitas otak kita untuk menilai bidang
yang sangat luas ini terhalangi oleh pengkondisian yang berasal dari persepsi
bahwa kita ada dalam bentuk fisik dan karenanya terbatasi oleh kelima indra
kita. Sedangkan ‘kematian’ pasti akan membangunkan kita kepada kebenaran ini
dan memaksa kita untuk menyadari sifat
fana (sekejap) dari kehidupan
duniawi. Kemudian kita akan menyadari betapa singkatnya kehidupan ini sebenarnya
dan betapa tak acuh dan bebalnya pikiran kita sehingga menghalangi potensi
kita.
Mari kita mencoba melihat lagi perkataan
Rasulullah Muhammad SAW: “Orang-orang
sedang tidur dan akan bangun dengan kematian” dan ayat-ayat berikut
mengingat kebenaran ini:
“Pada hari
ketika melihatnya (kiamat mereka, kematian mereka) seolah mereka hanya tinggal (di bumi) hanya satu malam atau setengah hari saja.” (Qur’an 79:46)
“Kamu
hanya tinggal di sana sebentar saja, jika saja kamu mengetahuinya!” (Qur’an
23:114)
Karena dunia ini adalah ‘tempat menanam untuk
akhirat’, kita hanya dapat memanen di
akhirat apa yang telah kita tanam di dunia, dan total waktu yang kita
miliki untuk menanam benih hanyalah 5-6 detik saja! Jika kita tidak menghitung
masa kanak-kanak dan masa tua yang rapuh dan rentan, kita sungguh hanya
memiliki beberapa detik saja untuk menanam
benih kita dan mendapatkan modal
kita … beberapa detik yang sangat berharga yang kontras dengan jam-jam kehidupan
tak berhingga yang menanti kita!
Jika memang demikian, mari merenung untuk sejenak
… Berapa lamakah waktu yang kita buang-buang untuk hal-hal sepele, yang tak
memberikan imbalan untuk kehidupan masa datang, dan berapa banyak yang kita
gunakan secara bijak untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kita di akhirat?
Kini, dengan cahaya ini, mari kita melihat pada
sumber pemikiran kita, yang berhubungan dengan persepsi sekarang mengenai
kehidupan, dan berusaha untuk memahami penilai yang hebat ini: otak kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar