MANUSIA ITU TIDUR;
KETIKA MATI BARU MEREKA BANGUN!
Sumber: KNOW YOURSELF Karya:
AHMED HULUSI
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa
Rasulullah
Muhammad SAW memberikan pernyataan berikut:
‘Semua orang
tidur; dan hanya bangun ketika mereka mati!’
Sekarang,
tolong perhatikan kalimat ini!
Di dalam
kalimat ini, tidak ada batasan ataupun pengecualian.
Ketika
membaca atau mendengar pernyataan di atas, hal pertama yang harus dipikirkan
adalah: Apakah kalimat ini memiliki batasan atau tidak?
Beliau
mengatakan, ‘Orang-orang sedang tidur!’
Beliau tidak
melakukan perbedaan apakah mereka itu berkulit putih atau hitam, Arab atau
Turki, kaya atau miskin, tak berpendidikan atau berpendidikan, bodoh atau
pintar. Siapapun mereka, bagaimanapun cara hidup mereka, di lingkungan
bagaimanapun mereka tinggal, atau dari bangsa manapun mereka berasal; semuanya
sedang tidur. Namun, kepada faktor apa beliau menghubungkan proses bangunnya?
Kalimat
sambungannya dari yang Rasulullah Muhammad SAW sampaikan di atas adalah:
‘Mereka
bangun ketika mereka mati!’
Lebih jauh
lagi, Beliau membuat pernyataan lain mengenai masalah ini:
‘Mati lah
sebelum kematianmu’, sehingga Anda dapat bangun dari tidur Anda.
Ada dua
jenis kematian:
Yang pertama
adalah kematian fisik. Ini adalah keadaan dimana aktivitas otak Anda berhenti
tanpa kendali dari kehendak Anda, dan sebagai akibatnya, semua fungsi yang
terhubung dengan tubuh Anda berhenti.
Jadi, apa
itu kematian?
Kematian
adalah peristiwa yang semua orang akan rasakan!
Qur’an Suci
menyatakan hal itu:
“Setiap diri
(pikiran, pengetahuan, dan perwujudan kesadaran) akan merasakan kematian
(kehidupan tanpa tubuh biologis) …” [3. Ali Imran:185]
Arti
sebenarnya adalah bahwa yang namanya ‘jiwa’ itu tidak akan mati. Namun, ada
kejadian yang namanya ‘merasakan kematian’ bagi setiap ‘jiwa’.
Bagian diri
Anda yang disebut sebagai jiwa tidak akan pernah mati ataupun lenyap, karena
hal itu benar-benar mustahil! Karena alasan inilah jiwa tak pernah mati. Namun
dengan mengalami dan merasakan peristiwa yang disebut kematian, jiwa beralih ke
dalam dimensi baru yang lain!
Tubuh fisik,
di sisi lain, berhenti berfungsi dan karenanya hancur.
Ketika tubuh
fisik berhenti berfungsi, apakah semua kebiasaan yang sebelumnya Anda lakukan
dengan tubuh fisik anda akan lenyap juga? Jawabannya adalah tidak!
Kebiasaan
dan nilai-nilai pikiran dari kesadaran apapun yang dipakai selama periode tubuh
fisik akan terus berlanjut beserta prinsip-prinsipnya. Dengan kata lain,
meskipun tak memiliki tubuh biologis, kesadaran akan selalu hidup di dalam
tubuh ruh, yakni tubuh radian yang memiliki kewaspadaan penuh.
Karena jiwa,
atau kata lainnya kesadaran, telah menerapkan metode-metode ini selama masa
hidup biologisnya, ia tidak akan bisa membebaskan dirinya dari batasan-batasan
ini sejak ia mengalami kematian. Untuk alasan inilah, Rasulullah Muhammad SAW
memberi kita obat penolongnya, ‘mati sebelum kematian’.
Sebenarnya,
ketika seseorang meninggal, setelah kematiannya ia tidak memiliki alternatif
kecuali menghadapi segala akibat dari semua tindakan yang dijalaninya selama
hidup di dunia.
Lalu, apa
itu yang disebut tidur?
‘Tidur’
adalah keadaan dimana seseorang tidak lagi memiliki kendali atas kepemilikan
(tanda-tanda) vitalnya secara sadar sesuai kehendaknya.
Ini adalah
keadaan ketika orang yang bersangkutan tidak lagi mewujudkan aktivitas
sadarnya. Karenanya, tidur merupakan kondisi dimana individu sama sekali tidak
sadar dengan lingkungannya dan ia tidak dapat menilai ilmu dan kesadaran secara
sepenuhnya.
Jika Anda
tidak dapat mengenali sifat dari jiwa anda ketika di dunia dan tidak memahami
prinsip-prinsip utama yang berhubungan dengan dimensi kesadaran Anda, maka
keadaan tidur ini akan terus berlangsung secara abadi.
Tidur selamanya
ini, keadaan yang sama sekali tak acuh dan tak mampu memahami kebenaran, akan
terus berlanjut bahkan hingga akhir dunia, dan berlanjut hingga kekal.
Memiliki
pikiran semacam ini, akan membuat orang tersebut selalu merasakan dirinya
sebagai entitas individu, yang jelas-jelas menjadi bukti bahwa dia dalam
kondisi tidur.
Ketika orang
semacam ini beralih dimensi kehidupannya, ia akan menerima dirinya sebagai
entitas individu bahkan setelah kematian menimpa dirinya, dan situasi ini
memungkinkan dia untuk melanjutkan hidupnya sambil tetap ‘tidur’ hingga abadi.
Dengan kata lain, ia akan melanjutkan hidupnya tanpa menyadari dan mengalami
‘Kebenaran’.
‘Mati lah sebelum kematian menjemputmu!’
Sebelum jiwa
anda meninggalkan tubuh biologis anda secara permanen, beralihlah ke alam
akhirat semata dengan menerima kenyataan bahwa kepribadian Anda sebenarnya
tiada, sebab tingkat persepsi untuk memahami realitas ini tidak memadai.
Mengapa
demikian? Sebab, jika anda tak mampu mengalami keadaan ‘Mati sebelum kematian’
maka Anda tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini hanya dengan beralih dari
tubuh biologi ke tubuh yang terdiri dari partikel-partikel cahaya. Peralihan
begitu saja tidak akan memadai untuk bisa menyadari sifat sejati diri;
karenanya, Anda sama sekali tidak sadar terhadap realitas diri sendiri. Ini
berarti bahwa dengan transisi begitu saja, karakter anda menjadi tetap
sedemikian rupa sehingga upaya untuk mencapai Realisasi-diri setelah kematian
sama sekali mustahil.
Yang demikian
ini karena segera setelah Anda beralih ke alam akhirat, otak Anda akan memiliki
energi radian yang memiliki pola frekuensi otak semasa hidup sebelumnya di
dunia. Karenanya, kapasitasnya akan identik dengan yang Anda miliki di dunia
sebelum Anda meninggal.
Apa pendapat
saya mengenai kehidupan Anda sehari-hari di dunia ini?
Sebagai
manusia, Anda sudah mengabdikan diri untuk dunia sehingga sangat sukar bagi
Anda untuk meninggalkan kesenangan hidup di dunia yang sementara ini. Ini
karena anda telah menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa Anda trediri dari
tubuh fisik, sifat temperemental dan pengkondisian diri dengan kebiasaan.
Inilah inti permasalahnnya.
Nilai-nilai
yang melekatkan anda ke dunia ini, kebiasaan yang tak bisa Anda tinggalkan,
masalah dunia yang anda kerjakan sehari-hari, dan perasaan takut akan
kehilangan semua itu menunjukkan bahwa Anda sedang mengalami kesadaran di bawah
ilusi total. Karenanya, rasa sakit dan penderitaan yang Anda alami akibat semua
ikatan ini tidak lebih dari sebuah mimpi buruk.
Ini sangat serupa
dengan mimpi buruk dimana Anda berhadapan dengan situasi yang melepaskan diri
darinya merupakan hal yang mustahil, dan tak ada yang dapat Anda lakukan karena
Anda sedang bermimpi!
Untuk
sejenak, bayangkan bahwa Anda harus berhadapan dengan keadaan dimana Anda harus
menyerahkan segala yang anda miliki dalam hidup Anda, termasuk semua yang Anda tak
sanggup untuk berpisah dengannya, dan sebagai akibatnya Anda menjadi sangat
tertekan.
Rasanya
seperti ketika leher Anda dicekik kuat-kuat sehingga Anda tak bisa bernafas
sama sekali. Anda akan merasakan penderitaan yang amat sangat dalam.
Sekarang,
berpikirlah dengan cermat. Anda telah menghabiskan seluruh hidup Anda untuk
menyembah berhala. Apapun yang Anda sembah telah menjadi realitas yang paling
penting dalam hidup Anda. Dengan kata lain, berhala-berhala anda telah menjadi
Tuhan Anda! Namun, kini anda menghadapi situasi yang lebih menantang. Anda
mesti kehilangan semua itu untuk selama-lamanya. Walaupun pikiran Anda meyakini
kebenaran realitas ini, akal logika Anda angan melawan balik karena takut
kehilangan berhala-berhala ini.
Bayangkan
situasi Anda pada saat kematian. Ini merupakan saat penderitaan yang nyata
ketika anda merasakan sesuatu terjadi di dalam diri anda, yang mungkin dialami
seperti sapu yang terbuat dari tangkai semak yang sedang ditarik dari dalam
tubuh Anda.
Karena anda
telah mencurahkan seluruh hidup anda untuk keinginan-keinginan duniawi dan
aspirasi semacam itu, seluruh keberadaan Anda bergantung pada hal-hal ini.
Namun, saat itu akhirnya akan tiba ketika anda melihat kebelakang dan melihat
apa-apa yang tak dapat anda tinggalkan justru meninggalkan anda. Tidak
diragukan, penderitaan yang akan Anda alami pasti membuat Anda merasa tidak
nyaman, seperti sebuah sapu yang terbuat dari semak, mencabik-cabik anda dari
dalam. Dengan cara ini, Anda akan merasakan apa yang ada di dalam hingga ke
seluruh tubuh Anda.
Jika Anda
telah begitu kecanduan atau Anda telah memperturutkan hasrat-hasrat Anda
sedemikian dalam, Anda pun tentunya akan merasakan sakitnya kehilangan mereka,
dan perpisahan ini membuat Anda sangat tersiksa. Keadaan ini disebut mimpi
buruk absolut.
Selama anda
menderita karena perasaan perpisahan dan harapan, Anda tak kan pernah mampu
untuk mencapai titik pengenalan diri.
Tentu saja,
yang saya maksudkan bukan pengetahuan realisasi diri ini. Yang saya maksud
adalah bahwa mengalami pengetahuan ini hanya bisa diperoleh melalui latihan.
Alasannya adalah bahwa apapun yang terjadi,
pengetahuan ini tidak akan mencukupi untuk mensucikan manusia! Pengetahuan
tidak akan pernah membuat hati manusia menjadi suci. Tidak akan pernah bisa
menghilangkan ketidaksucian manusia!
Ilmu hanya menjadi alat yang berguna
jika kita mengamalkannya!
Untuk bisa
memahami misteri di sekitar isu realitas esensi Anda dan Al-Qur’an, Anda harus
bersih dan suci, karena ayat berikut mengatakan:
‘Tidak menyentuhnya kecuali mereka
yang tersucikan.’ (56. Al-Waqi'ah: 79)
Dari apa
Anda mensucikan diri?
Anda menyucikan diri dari semua
hubungan yang menimbulkan pengkondisian Anda, semua kebiasaan dan kecanduan
yang merintangi Anda untuk bisa melihat kebenaran dan menyadari realitas Anda
dan bahwa semua hasrat duniawi membuat Anda menjadi budaknya.
Semua itu
membuat anda merasa sebagai seseorang yang memiliki kepribadian, padahal hanya
akibat dari asumsi-asumsi anda sendiri.
Namun, jika
Anda tidak menerima diri sebagai sebuah kepribadian, maka tak satu pun dari
semua itu akan berarti bagi Anda. Mereka itu tidak akan mempengaruhi Anda dan
Anda tidak akan cemas ataupun merasa tertekan sedikitpun karena pikiran Anda
tidak akan terpalingkan oleh sesuatu apapun bahkan walau untuk sekejap.
Kejadian
atau masalah apapun yang Anda temui atau isu apapun yang merasuki pikiran Anda,
anda adalah orang dengan mentalitas demikian.
Namun, Anda mestinya
bukan individu semacam itu! Anda
bukanlah tubuh fisik yang dilihat dan disapa orang setiap hari.
Lalu siapa
sebenarnya Anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar