Senin, 31 Maret 2014

Mengenal Diri - 8

PENTINGNYA HIDUP DI SAAT KINI

Sumber:           KNOW YOURSELF  Karya: AHMED HULUSI
Alih Bahasa: T. J. Sagwiangsa


Ya, menurut penjelasan yang diberikan Rasulullah Muhammad SAW, kebenarat absolut dan nyata adalah sebagai berikut:

‘Hanya ada Allah dan tiada sesuatu pun bersamaNya.’

Dengan kata lain, seluruh jagat dan seluruh ciptaan termasuk manusia, malaikat dan jin dan lain-lain pada dasarnya tiada. Allah telah ada sebelum yang lain ada.

Inilah makna pertama yang tersirat dari kalimat ini.

Namun, kalimat yang sama bisa juga merujuk pada beberapa makna lain.

Sekumpulan orang menemui sayidina Hazrat Ali dan menyampaikan bahwa Rasulullah Muhammad SAW mengatakan kata-kata berikut:

‘Allah sungguh ada dan tiada sesuatu pun bersamaNya.’

Mendengar pernyataan ini, Hazrat Ali berhenti sejenak dan memberikan jawaban singkat berikut:

‘Dia kini seperti sebelumnya!’

Makna pertama di sini menyiratkan bahwa seluruh keberadaan, manusia dan semua mahluk tak pernah ada, namun hanya ada Allah.

Makna kedua yang dapat ditarik dari pernyataan ini adalah bahwa meskipun semuanya ada, tiada yang lain selain Dia. Jadi, hanya Allah yang ada dan karenanya Dia ada secara kekal di setiap saat.

Makna ke tiga adalah bahwa hanya Allah yang ada, seperti ditunjukkan dengan kata ‘kini’ (Al-An). Dengan kata lain, di saat kini yang tak berbatas tak berhingga milik Allah, tidak ada yang namanya manusia, dunia dan yang lainnya, jadi mereka tiada. Ini berarti bahwa dunia, surga dan neraka tak memiliki struktur tertentu apapun dan semuanya merupakan entitas yang sama sekali tiada.

Sampai di sini, agar tidak bingung dengan hal-hal yang disebutkan di atas atau agar tidak lari dari pemahaman terhadap kebenaran masalah ini, kita harus menerima semua hal di atas, bukannya terjebak dengan salah satunya.

Perlu disadari bahwa kita akan menyimpang dari jalan kebenaran jika kita hanya menerima salah satu dari ketiganya sebagai hal yang benar dan menggap yang lainnya tidak benar.

Bukan hanya Rasulullah Muhammad SAW sendiri, para pengikutnya juga memiliki tingkat kesempurnaan tertentu sehingga ketika mereka bicara, kata-kata yang mereka ucapkan merujuk pada beberapa makna. Dengan kata lain, meskipun mereka hanya mengucapkan satu kalimat, pada kenyataannya kalimat tersebut bisa merujuk kepada lebih dari satu realitas.

Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah:

Walaupun mereka membuat beberapa pernyataan, hanya ada satu realitas karena hal lain yang mereka ucapkan tidak lah benar.

Pada dimensi apapun Anda berada dan makna apapun yang ada rasakan dalam dimensi ini, semuanya terkandung dalam kalimat itu.

Dengan kata lain, mereka menunjuk kepada beberapa realitas hanya dengan satu kalimat. Kualitas ini disebut sebagai Jawamiul Kalam, yaitu kemungkinan untuk menyatakan banyak arti hanya dengan beberapa kata. Kualitas demikian hanya dimiliki oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para pewarisnya.

Mereka yang termasuk dalam kategori ini hanya mengucapkan satu kalimat. Namun dari satu kalimat ini dapat diturunkan beberapa makna, yang masing-masingnya menunjuk ke dimensi realitas yang berbeda.

Sekali lagi, perlu ditekankan pentingnya masalah ini. Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa masing-masing arti ini menunjuk pada suatu realitas tertentu. Oleh karena itu, bukan hanya satu makna tertentu yang lebih baik. Semua makna terpenuhi. Semuanya memiliki makna yang absah.

Lebih dari itu, karena semuanya absah, tugas Anda adalah menemukan realitasnya di sekitar dimensi sejatinya. Sebenarnya, inilah intinya. Akan keliru jika ada yang menyatakan bahwa masing-masing arti menunjuk ke realitas ini atau realitas itu, karena masing-masing arti dapat dianggap sebagai realitas lepas yang menunjuk ke realitas terpisah menurut dimensi asalnya.

Untuk alasan inilah, Anda mesti berusaha untuk memahami esensi dari setiap dimensinya sehingga akhirnya anda dapat mengerti kebenaran dari masalah ini dengan sempurna.

Selanjutnya, kita akan membicarakan penjelasan ke dua yang diberikan Rasulullah Muhammad SAW mengenai masalah ini.

‘Dia yang mengenal dirinya (Nafs) akan mengenal Pemeliharanya (Rabb)!’

Dengan kata lain, jika Anda ingin sepenuhnya mengetahui Pemelihara anda atau jika Anda ingin tahu apa makna sebenarnya dari kata ‘Pemeliharaku,’ pertama-tama anda harus mengetahui apa makna yang tersirat dari kata Nafs.

Jadi, apa itu yang disebut ‘diri’?

Apa makna yang disiratkan pada kata ‘diri’?

Sebenarnya, makna inti yang dikandung nama ini telah mengalami penafsiran yang sangat menyimpang karena dipelintirkan oleh orang-orang dan sangat mustahil bahwa Anda tidak mengetahui makna batin dari nama ini.

Kecuali jika Anda mengetahui kebenaran dari diri Anda sendiri, mustahil bagi anda untuk menyadari kebenaran dari Pemilihara Anda, karena diri Anda sendiri merupakan tirai yang menutupi Anda dari Pemelihara Anda.


Lalu, bagaimana jadinya kesadaran spiritual Anda jika Anda tak mengetahui realitas dari diri Anda sendiri?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar